3 Kesalahan Fatal yang Membuat Trainer Gagal Saat Uji Kompetensi Micro-Teaching

3 Kesalahan Fatal yang Membuat Trainer Gagal Saat Uji Kompetensi Micro-Teaching

Bayangkan Anda berada di sebuah ruangan kecil. Di depan, ada beberapa orang asing yang duduk dengan ekspresi netral, memegang kertas penilaian. Tangan Anda sedikit berkeringat, jantung berdebar kencang. Anda telah mempersiapkan materi berhari-hari, namun saat mulai mengajar dalam sesi micro-teaching untuk uji kompetensi, segala sesuatu terasa berantakan. Suara serak, waktu molor, dan peserta terlihat bingung.

Ini adalah mimpi buruk banyak calon trainer. Uji micro-teaching seringkali menjadi momok. Bukan karena materinya sulit, tetapi karena ada jebakan-jebakan kecil yang diabaikan. Faktanya, banyak calon trainer yang sebenarnya kompeten justru terjebak oleh kesalahan-kesalahan fatal yang sebenarnya bisa dihindari.

Apa saja jebakan itu? Mari kita kupas tiga kesalahan paling mematikan yang sering menggagalkan kandidat trainer dalam uji micro-teaching, beserta cara mengatasinya.

Kesalahan Fatal #1: Fokus pada Diri Sendiri, Bukan pada ‘Peserta’

Ini adalah kesalahan paling klasik. Trainer terlalu sibuk dengan dirinya sendiri: apakah suara saya sudah keras? Apakah gerakan tangan saya sudah tepat? Apakah saya sudah menyampaikan SEMUA isi materi?

Analogi: Bayangkan Anda mengajak teman jalan-jalan. Alih-alih menanyakan tempat yang mereka inginkan, Anda hanya bercerita tentang tempat favorit Anda tanpa henti. Membosankan, bukan? Micro-teaching adalah miniatur proses pembelajaran. Fokusnya harus pada bagaimana ‘peserta’ uji (yang diperankan asesor) memahami dan terlibat.

Contoh Nyata: Anda mengajar “Cara Berkomunikasi Efektif”. Daripada terus menerus membacakan teori dari slide, coba tanyakan, “Menurut Bapak/Ibu, kendala komunikasi paling sering terjadi di kantor seperti apa?” Meski asesor mungkin hanya menjawab singkat, interaksi ini menunjukkan Anda peduli pada kebutuhan audiens.

Tips Praktis:

  • Anggap sebagai Kelas Nyata: Perlakukan asesor sebagai peserta sungguhan. Tatap mata, ajukan pertanyaan retorik atau langsung, dan berikan ruang ‘seolah-olah’ mereka merespon.

  • Kurangi Teori, Perbanyak Contoh: Otak manusia lebih mudah menangkap cerita. Untuk setiap poin teori, siapkan satu contoh aplikasi sederhana dalam kehidupan sehari-hari atau dunia kerja.

  • Gunakan Kata “Kita” dan “Anda”: Ganti kalimat “Materi selanjutnya adalah…” dengan “Mari kita explorasi bersama…”. Ini membangun kedekatan.

Kesalahan Fatal #2: Kurangnya Struktur yang Jelas dan ‘Penanda’

Trainer seringkali terjun langsung ke materi tanpa peta perjalanan yang jelas. Hasilnya? Penyampaian berantakan, loncat-loncat, dan yang paling berbahaya: kehabisan waktu atau justru kekurangan waktu.

Analogi: Anda membangun rumah tanpa blueprint. Anda punya batu bata, semen, dan genteng, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Hasilnya, fondasi tidak kuat dan rumah mudah roboh. Struktur adalah blueprint sesi micro-teaching Anda.

Contoh Nyata: Di menit-menit awal, Anda tidak menyampaikan agenda atau tujuan pembelajaran. Di tengah sesi, Anda lupa memberikan transisi antar topik. Di akhir, tiba-tiba berhenti tanpa kesimpulan atau ajakan tindak lanjut. Ini membuat asesor kebingungan mengikuti alur pikiran Anda.

Tips Praktis:

  • Gunakan Formula Sederhana: Pembuka (AIDA) – Attention (rebut perhatian dengan cerita/pertanyaan), Interest (bangun ketertarikan pada topik), Desire (tunjukan manfaatnya), Action (sampaikan apa yang akan dipelajari).
    Isi (3 Poin Utama) – Batasi hanya 3 poin kunci saja agar fokus dan mudah diingat. Untuk setiap poin, gunakan pola Jelaskan – Contohkan – Simpulkan.
    Penutup (CCC) – Conclusion (ringkasan singkat 3 poin tadi), Call-to-Action (ajakan aplikasi), Closing (kalimat penutup yang berkesan).

  • Kontrol Waktu Ketat: Latihan dengan timer. Alokasikan waktu untuk pembuka (2 menit), setiap poin (3-4 menit), dan penutup (2 menit). Sisakan 1-2 menit untuk cadangan.

Kesalahan Fatal #3: Mengabaikan Kekuatan Visual dan Suara

Dalam micro-teaching, media Anda terbatas. Dua alat paling powerful adalah suara dan visual (slide/body language). Banyak trainer gagal karena monotoni: suara datar, ekspresi kaku, dan slide berisi paragraf panjang.

Analogi: Menonton film bisu hitam-putih vs film IMAX dengan suara surround. Mana yang lebih menarik? Penggunaan variasi vokal dan visual yang efektif akan mengubah sesi biasa menjadi sesi yang memorable.

Contoh Nyata: Slide Anda hanya tulisan “Komunikasi Non-Verbal” dengan 5 bullet point. Suara Anda datar dari awal hingga akhir. Tubuh kaku di belakang laptop. Asesor akan cepat kehilangan minat, meski materinya bagus.

Tips Praktis:

  • Mastering Suara: Latih intonasi (naik-turunkan suara untuk penekanan), jeda (berhenti sejenak setelah poin penting), dan volume (perlahan untuk perhatian, keras untuk semangat).

  • Slide yang Memukau, Bukan Membunuh: Gunakan aturan 1 slide, 1 ide. Ganti bullet point dengan gambar, diagram sederhana, atau kata kunci besar (max 6 kata). Biarkan Anda yang menjelaskan, bukan slide yang dibaca.

  • Gerakan Tubuh yang Bermakna: Bergeraklah sedikit (jangan mondar-mandir panik). Gunakan gerakan tangan terbuka (untuk menyambut) dan menunjuk (untuk penekanan). Kontak mata secara merata ke semua ‘peserta’.

Kesimpulan: Dari Teori ke Panggung

Uji micro-teaching bukanlah ujian pengetahuan, melainkan pertunjukan keterampilan. Anda tidak perlu menjadi profesor paling pintar, tetapi harus menjadi komunikator yang paling jelas dan menarik dalam waktu terbatas.

Dengan menghindari tiga kesalahan fatal ini—dengan beralih fokus ke ‘peserta’, membangun struktur yang kokoh, dan memaksimalkan suara serta visual—Anda tidak hanya akan melewati uji kompetensi, tetapi juga meninggalkan kesan yang dalam sebagai trainer yang kompeten dan siap menginspirasi.

Ajakan Bertindak: Sekarang, ambil materi yang ingin Anda ujikan. Rekam diri Anda sendiri selama 10 menit. Tonton rekaman itu dan tanya: “Apakah saya melakukan salah satu dari tiga kesalahan di atas?” Latihan evaluasi mandiri ini adalah langkah pertama yang paling powerful menuju micro-teaching yang sukses dan memukau. Semoga berhasil!

Dari Praktisi Menjadi Edukator: Cara Naik Kelas dengan Sertifikasi Trainer BNSP

Dari Praktisi Menjadi Edukator: Cara Naik Kelas dengan Sertifikasi Trainer BNSP

Anda sudah bertahun-tahun menjadi ahli di bidang Anda, entah itu digital marketing, keuangan, teknik, atau sumber daya manusia. Anda mahir, berpengalaman, dan sering dimintai saran oleh rekan kerja. Namun, ketika ada kesempatan untuk mengisi training berbayar atau menjadi konsultan tetap, seringkali ada satu pertanyaan yang mengganjal: “Apakah Anda memiliki sertifikasi keguruan atau pelatihan yang diakui?”

Di sinilah banyak praktisi handal terhenti. Pengalaman saja kerap tidak cukup di mata instansi formal atau pasar kerja yang kompetitif. Anda butuh ‘tiket’ yang sah untuk naik ke level berikutnya: dari seorang yang bisa melakukan, menjadi seorang yang diakui untuk mengajarkan dan mensertifikasi orang lain. Sertifikasi Trainer dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) adalah tiket emas tersebut.

Apa itu sebenarnya? Sederhananya, BNSP adalah lembaga independen yang dibentuk pemerintah untuk menyelenggarakan sertifikasi kompetensi kerja di Indonesia. Sertifikasi Trainernya (skema TTT – Train The Trainer) adalah pengakuan resmi bahwa Anda memiliki kompetensi untuk merancang, menyampaikan, dan mengevaluasi program pelatihan secara profesional. Ini bukan sekadar sertifikat seminar, tapi bukti bahwa kompetensi Anda sudah diuji dan memenuhi standar nasional.

Kenapa Sertifikasi Trainer BNSP Sangat Berharga?

  1. Legitimasi dan Kredibilitas Tinggi. Sertifikat BNSP adalah dokumen resmi berlogo garuda yang diakui negara dan sering menjadi prasyarat tender pelatihan pemerintah, BUMN, atau perusahaan besar. Ini menjadi “cap profesional” yang membedakan Anda dari trainer biasa.

  2. Peningkatan Nilai Ekonomi. Dengan sertifikasi, tarif Anda bukan lagi sekadar “honor pembicara,” tapi fee profesional trainer bersertifikat. Instansi lebih percaya diri membayar lebih untuk jaminan kualitas yang Anda bawa.

  3. Perluasan Jaringan dan Peluang. Anda akan terdaftar di ekosistem Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang bekerja sama dengan BNSP. Dari sini, peluang untuk menjadi assessor, mendapatkan job training dari LSP mitra, atau kolaborasi dengan trainer lain terbuka lebar.

  4. Strukturisasi Ilmu dan Metodologi. Seringkali, praktisi ahli tapi kesulitan mentransfer ilmunya. Proses sertifikasi ini melatih Anda menyusun kurikulum, materi ajar yang efektif, dan teknik evaluasi yang terukur. Ini bukan sekadar apa yang Anda ajarkan, tapi bagaimana cara Anda mengajarkannya.

  5. Masa Depan yang Lebih Terjamin. Di era disrupsi, memiliki sertifikasi profesi yang diakui negara adalah bentuk pertahanan karier. Ini menunjukkan komitmen Anda terhadap pengembangan profesional dan kesiapan untuk bersaing di level nasional.

Lalu, Bagaimana Cara Mendapatkannya? Ikuti Peta Jalurnya!

Prosesnya tidak melompat, tetapi terstruktur. Pikirkan seperti naik tangga:

  1. Langkah Awal: Pastikan Anda Memenuhi Syarat. Umumnya, Anda perlu memiliki pengalaman kerja/pelatihan di bidang keahlian minimal 2-3 tahun, serta pendidikan minimal D3/S1 (tergantung skema). Yang terpenting, Anda benar-benar menguasai substance atau materi inti yang akan Anda ajarkan.

  2. Langkah Inti: Mengikuti Uji Kompetensi. Ini adalah inti dari sertifikasi. Anda tidak perlu mengikuti training berbulan-bulan jika merasa sudah kompeten (Prinsip Recognition of Prior Learning). Prosesnya biasanya:

    • Pendaftaran: Temukan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang memiliki skema sertifikasi trainer dan terlisensi BNSP. Pilih LSP yang kredibel dan sesuai bidang Anda.

    • Asesmen Awal: Anda akan dinilai portofolio pengalaman, CV, dan materi pelatihan yang pernah Anda buat.

    • Pelatihan Teknis (jika diperlukan): Jika asesor menilai ada kesenjangan, Anda mungkin disarankan mengikuti bridging program singkat.

    • Uji Kompetensi: Berlangsung 1-3 hari, mencakup:

      • Tes Tertulis: Pengetahuan tentang prinsip-prinsip pelatihan dan andragogi (cara belajar orang dewasa).

      • Praktik/Simulasi Mengajar (Demonstrasi): Anda akan mengajar di depan asesor dan peserta lain. Ini jantung dari penilaian.

      • Wawancara: Asesor akan menggali motivasi, pemahaman, dan etika Anda sebagai trainer.

  3. Langkah Akhir: Sertifikasi dan Pemeliharaan. Jika lulus, Anda akan menerima Sertifikat Kompetensi BNSP yang berlaku selama 3 tahun. Untuk memperpanjang, Anda harus aktif melatih dan mengumpulkan bukti pengembangan diri (CPD/Continuing Professional Development).

Tips Praktis untuk Sukses dalam Uji Kompetensi:

  • Pilih Skema dan LSP dengan Tepat. Riset kecil-kecilan. Hubungi LSP, tanyakan proses, biaya, dan rekam jejaknya. Jangan tergiur harga murah tanpa memastikan kualitas.

  • Siapkan Portofolio Terbaik. Kumpulkan semua bukti pelatihan yang pernah Anda isi: sertifikat, foto, video, materi slide, dan testimoni peserta. Susun dengan rapi.

  • Fokus pada “Proses Belajar Peserta”. Saat simulasi, asesor tidak hanya menilai seberapa pintar Anda, tapi seberapa efektif Anda membuat orang lain paham. Gunakan metode variatif: cerita (storytelling), contoh kasus, ice breaker, dan sesi tanya jawab yang hidup.

  • Kuasi Teknik Dasar Pelatihan. Pelajari cara membuat tujuan pembelajaran (learning objective) yang SMART, menyusun silabus, dan membuat alat evaluasi sederhana seperti pre-test/post-test.

  • Jadilah Diri Sendiri, tapi Profesional. Tidak perlu gaya seperti motivator kondang. Tunjukkan passion, keahlian substansi, dan ketulusan Anda untuk membagi ilmu. Percaya diri, kontak mata, dan penguasaan panggung adalah kunci.

Ini Bukan Akhir, Awal dari Perjalanan Baru

Mendapatkan Sertifikasi Trainer BNSP bukanlah garis finish, melainkan gerbang awal untuk karier edukasi yang lebih terukur, diakui, dan bermakna. Ini adalah investasi pada diri sendiri yang akan memberikan dividen berupa kepercayaan, jaringan, dan kepuasan profesional yang lebih besar.

Jika Anda adalah seorang praktisi yang merasa telah “siap saji” dengan ilmu yang dimiliki, jangan biarkan diri hanya menjadi stock di gudang. Naikkan level Anda. Kemas ilmu itu dengan kredensial yang tepat, lalu sebarkan dampaknya ke lebih banyak orang. Waktunya naik kelas. Waktunya untuk tidak hanya dikenal sebagai ahli, tetapi juga diakui sebagai edukator yang kompeten.

Menakar Urgensi Sertifikasi BNSP di Tengah Menjamurnya Trainer Otodidak: Pentingkah “Stempel” Resmi?

Menakar Urgensi Sertifikasi BNSP di Tengah Menjamurnya Trainer Otodidak: Pentingkah “Stempel” Resmi?

Trainer otodidak biasanya tumbuh dari keberhasilan praktis. Mereka sering kali memiliki kisah inspiratif, gaya komunikasi yang menarik, dan metode yang terbukti berhasil untuk mereka sendiri. Keunggulannya terletak pada daya tarik personal, keluwesan materi, dan kemampuannya menyajikan ilmu dalam kemasan yang mudah dicerna. Mereka adalah produk dari zaman di mana akses informasi terbuka lebar dan siapa pun bisa menjadi “guru”.

Di seberangnya, sertifikasi BNSP adalah pengakuan formal bahwa seseorang telah memenuhi standar kompetensi kerja nasional Indonesia untuk suatu profesi, termasuk trainer. Proses mendapatkannya tidak mudah; ada uji kompetensi yang ketat meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja sesuai dengan skema yang telah ditetapkan. Sertifikasi ini menjamin bahwa pemegangnya tidak hanya pintar berbicara, tetapi juga menguasai metodologi pelatihan yang sistematis, etika profesi, dan mampu mengukur efektivitas pembelajaran.

Lalu, Mana yang Lebih Baik? Urgensi Sertifikasi BNSP dalam Bingkai Kompetensi

Di sinilah kita perlu menimbang dengan cermat. Sertifikasi BNSP bukan tentang menghakimi trainer otodidak sebagai tidak kompeten. Banyak di antara mereka yang sangat mumpuni. Sertifikasi BNSP lebih tentang jaminan, akuntabilitas, dan standarisasi.

  1. Jaminan Standar Minimum Kompetensi: Sertifikasi BNSP adalah jaminan bahwa seorang trainer telah melalui penilaian independen dan memenuhi standar nasional. Ini seperti tanda “SNI” pada sebuah produk. Ketika Anda memilih trainer bersertifikat, Anda meminimalisir risiko mendapatkan pelatih yang asal-asalan.

  2. Akuntabilitas dan Pengakuan Formal: Di dunia korporat atau proyek-proyek yang didanai pemerintah, sertifikasi BNSP sering menjadi prasyarat. Lembaga membutuhkan bukti objektif bahwa pelatih yang mereka bayar memang kompeten. Sertifikasi memberikan akuntabilitas yang tidak bisa hanya diberikan oleh jumlah follower di Instagram.

  3. Struktur dan Metodologi yang Teruji: Trainer otodidak mungkin mengandalkan “feeling” atau pengalaman personal dalam menyusun materi. Trainer bersertifikat, melalui proses uji kompetensi, dilatih untuk memiliki pendekatan yang lebih terstruktur—mulai dari analisis kebutuhan, perancangan kurikulum, hingga evaluasi dampak pelatihan. Ini penting untuk memastikan hasil pembelajaran bisa diukur dan direplikasi.

  4. Pelindung bagi Konsumen: Bagi peserta pelatihan, sertifikasi BNSP berfungsi sebagai alat bantu memilih. Di tengah pasar yang ramai dengan tawaran pelatihan menjanjikan, sertifikasi adalah salah satu filter kredibilitas yang objektif.

Namun, kelemahan trainer bersertifikat (tanpa pengalaman praktik yang mendalam) adalah potensi materi yang terlalu teoritis dan kaku. Di sinilah trainer otodidak unggul: mereka membawa “darah segar”, cerita nyata, dan inovasi yang mungkin belum tercakup dalam standar nasional.

Tips Memilih Trainer yang Tepat: Melampaui Gelar dan Popularitas

Lalu, sebagai pencari ilmu, bagaimana kita bersikap bijak? Berikut tips praktisnya:

  1. Cari “The Best of Both Worlds”: Idealnya, carilah trainer yang memiliki sertifikasi BNSP DAN pengalaman praktis yang kaya. Mereka yang memiliki “stempel” kompetensi formal sekaligus kisah sukses di lapangan adalah kombinasi yang powerful. Periksa profil mereka: apa sertifikasinya dan proyek apa yang pernah mereka tangani?

  2. Jangan Tergiur Janji Manis: Hati-hati dengan trainer—baik otodidak maupun bersertifikat—yang terlalu banyak menjanjikan hasil instan. Pembelajaran adalah proses. Lihatlah testimoni end-to-end, bukan hanya pujian singkat.

  3. Analisis Kebutuhan Anda: Jika Anda butuh pelatihan untuk kepatuhan standar industri (seperti K3, standar akuntansi), trainer bersertifikat BNSP adalah pilihan yang lebih aman. Jika Anda butuh motivasi, insight praktis, atau strategi kreatif, trainer otodidak dengan portofolio hasil nyata bisa jadi pilihan tepat.

  4. Ikuti Sample-nya: Sebagian besar trainer baik yang otodidak maupun profesional, sering membagikan sample materi melalui webinar gratis, podcast, atau konten media sosial. Ini adalah cara terbaik untuk merasakan gaya mengajar, kedalaman materi, dan chemistry-nya dengan Anda sebelum memutuskan berinvestasi.

Kesimpulan: Sertifikasi adalah Peta, Pengalaman adalah Perjalanannya

Menjamurnya trainer otodidak adalah berkah demokratisasi ilmu. Mereka membuktikan bahwa pembelajaran bisa datang dari mana saja dan membuat dunia pelatihan lebih dinamis. Namun, kehadiran sertifikasi BNSP tetap crucial sebagai penjaga mutu, penjamin standar, dan kompas di tengah lautan informasi yang kadang membingungkan.

Pada akhirnya, sertifikasi BNSP bukan tentang menggantikan pengalaman, tetapi melengkapinya dengan kerangka kerja yang akuntabel. Ia adalah peta resmi yang menjamin sebuah perjalanan belajar akan melewati jalur yang teruji. Sementara pengalaman si trainer adalah pemandu yang membuat perjalanan itu lebih hidup, kontekstual, dan berkesan.

Sebagai peserta pelatihan yang cerdas, tugas kita adalah tidak terjebak pada dikotomi “otodidak vs. bersertifikat”. Mari melihat lebih dalam pada esensi kompetensi: gabungan antara penguasaan metodologi yang terstandar, kedalaman pengalaman praktis, dan integritas dalam berbagi ilmu. Karena di ujung hari, yang kita cari bukan sekadar gelar atau sertifikat di dinding trainer, melainkan ilmu yang bisa benar-benar mengubah kompetensi dan kinerja kita menjadi lebih baik.

Jadi, sebelum memilih pelatihan berikutnya, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya hanya butuh motivasi sesaat, atau fondasi kompetensi yang kuat untuk karir jangka panjang?” Jawabannya akan menuntun Anda pada pilihan trainer yang paling tepat.

Triyana

Profil Trainer

Seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI. Memiliki latar belakang keilmuan di bidang Learning & Performance Consultant, Learning Design, E-Learning Designer, CX Designer, LX Designer, dan Learning Facilitator. Selama lebih dari 6 tahun Ia dipercaya sebagai konsultan untuk perusahaan besar dan ternama di Indonesia. Tak berhenti di situ, kepiawaian beliau dalam bidang Engineer, Digital Marketing, Service Quality Assurance, dan HRD pun mampu memberikan perspektif unik dalam merancang solusi yang komprehensif dan tepat sasaran. Maka dari itu, Coach Triyana siap menjadi mitra ideal bagi Anda yang ingin mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi melalui pelatihan yang telah dirancang secara khusus.

Fauzi Noerwenda

Profil Trainer

Fauzi Noerwenda adalah seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI dan pendiri Persona Public Speaking. Dengan pengalaman dan keahliannya, Fauzi telah membantu banyak individu meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan membangun kepercayaan diri mereka. Sebagai seorang penulis, bukunya yang berjudul “Street Smart MC” menjadi panduan bagi mereka yang ingin menjadi Master of Ceremony (MC) yang handal. Kontribusinya sebagai pengurus HIPAPI Indonesia pun menunjukkan dedikasinya dalam mengembangkan profesi dan komunitas pembicara publik di Indonesia.

Trisna Lesmana

Profil Trainer

Trisna Lesmana adalah seorang Master Trainer Assessor BNSP RI. Juga Trainerpreneur yang telah membuktikan kiprahnya di dunia bisnis. Memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 2023 dengan mendirikan bisnis pelatihan “Training of Trainer BNSP Certification”, ia berhasil mencetak lebih dari 2.000+ alumni dan dipercaya oleh 200+ perusahaan dan perguruan tinggi dalam waktu kurang dari dua tahun.

Hingga saat ini, Trisna Lesmana telah menjalankan 12 bisnis lintas industri, di antaranya: Klinik Kecantikan, Skincare, Pelatihan, Konsultan, Agency, & Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Perjalanan Karier

Trisna Lesmana memulai karier sebagai Professional Corporate Trainer  dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Namanya kian dikenal saat ia menjadi salah satu dari 14 coach yang berkontribusi dalam buku “Coaching Series” (Buku Untuk Pelaku UMKM). Ia juga menulis buku keduanya, “Living Agile with NLP,” yang telah memasuki cetakan ke-4. Karya-karyanya mendapat apresiasi tinggi dari tokoh nasional dan artis ternama, seperti: Sandiaga Uno, Ariel (Noah), Merry Riana, Jamil Azzaini, Sandy Susanto, Dani Sumarsono, Dll.

Penghargaan

Pada tahun 2017, Trisna Lesmana meraih penghargaan Best Performance di event “Influence Your Audience” yang diselenggarakan oleh Akademi Trainer.

Dunia Bisnis dan Content Creation

Pada tahun 2023, ia memperluas kiprahnya ke Dunia Bisnis dan mengukuhkan dirinya sebagai Content Creator pada tahun 2024. Di bawah mentoring Deddy Corbuzier dan Coach Indrawan Nugroho melalui program Content Creator Business School, Trisna berhasil merilis konten eksklusif di Instagram pribadinya yang mendapatkan penghargaan dan liputan dari berbagai media ternama, seperti: Liputan6, Republika, Detik.com, Warta Ekonomi, Media Indonesia, Jawa Pos, dan banyak lagi.

Komitmen dan Visi

Saya bantu Business Owner agar produknya dikenal luas, diterima market, & laris dengan pendekatan Smart Business Framework (SBF).

Smart Business Framework (SBF) adalah model bisnis yang fokus optimasi pada tiga pilar; Campaign Iklan (Digital Marketing), Positioning Product, & Akuisisi Market. Telah terbukti membantu ribuan pebisnis memetakan strategi agar produknya laris di pasaran.