Seni Memberi Masukan: Cara Memberi Feedback yang Membangun untuk Junior Trainer Tanpa Mematahkan Semangat

Seni Memberi Masukan: Cara Memberi Feedback yang Membangun untuk Junior Trainer Tanpa Mematahkan Semangat

Bayangkan diri Anda sebagai seorang junior trainer. Hari itu adalah sesi pelatihan pertama Anda untuk kelas karyawan senior. Jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, namun Anda berusaha tampil percaya diri. Di akhir sesi, senior trainer mendatangi Anda. Apa yang Anda harapkan? Kritik pedas yang membuat Anda merasa gagal? Atau masukan berharga yang membuat Anda berkata, “Aha, ini yang bisa saya perbaiki!”

Memberikan feedback kepada junior trainer bukan sekadar menyampaikan “yang salah” dan “yang benar”. Ini adalah seni halus membimbing, menginspirasi, dan menumbuhkan. Tujuannya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membangun jembatan menuju kompetensi yang lebih baik. Feedback yang tepat bisa menjadi pupuk yang menyuburkan potensi, sementara feedback yang salah justru menjadi es yang membekukan semangat.

Pada dasarnya, feedback konstruktif adalah komunikasi dua arah yang berfokus pada perilaku dan hasil, bukan pada karakter pribadi. Ini adalah alat pengembangan, bukan hukuman. Bagi junior trainer yang masih dalam tahap belajar, dukungan dan bimbingan yang tepat adalah oksigen bagi pertumbuhan profesional mereka.

Mengapa Feedback yang Membangun Sangat Krusial?

Pertama, feedback membangun kepercayaan dan hubungan. Junior trainer yang merasa didukung akan lebih terbuka, menerima masukan, dan loyal. Kedua, feedback mempercepat kurva belajar. Mereka tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama; mereka belajar dari pengalaman yang dipandu. Ketiga, feedback menjaga motivasi dan keterlibatan. Pengakuan atas usaha dan perbaikan membuat mereka tetap bersemangat. Dan yang terpenting, feedback menciptakan kultur belajar berkelanjutan dalam tim, di mana semua orang tumbuh bersama.

Lantas, bagaimana cara menerapkan seni memberikan feedback yang membangun ini? Berikut adalah lima langkah praktis yang bisa Anda terapkan segera.

1. Bangun Fondasi: Waktu dan Tempat yang Tepat
Jangan pernah memberikan feedback “dadakan” di depan umum atau di akhir sesi yang melelahkan. Jadwalkan waktu khusus, misalnya 15-30 menit setelah sesi, di ruangan yang privat. Katakan, “Bagaimana kalau kita bahas sesi tadi sebentar di ruang meeting jam 4 sore? Saya ada beberapa catatan menarik yang bisa kita diskusikan.” Pendekatan ini menunjukkan rasa hormat dan memberi mereka waktu untuk mempersiapkan mental.

2. Mulai dengan Yang Positif: The “Feedback Sandwich” yang Dimodifikasi
Teknik “sandwich feedback” (positif-kritik-positif) sudah umum, namun bisa terkesan klise. Kuncinya adalah tulus dan spesifik. Jangan katakan, “Presentasimu bagus.” Tapi uraikan, “Saya suka cara kamu membuka sesi dengan cerita pengalaman pribadi. Itu langsung menyita perhatian peserta dan relevan dengan materi.” Fokus pada hal-hal konkret yang mereka lakukan dengan baik. Ini membuka pintu percakapan dengan aman.

3. Fokus pada Perilaku, Bukan Orang: Gunakan “Saya” dan Data Observasi
Ini adalah jantung dari feedback membangun. Hindari kalimat yang menyalahkan karakter (“Kamu tidak percaya diri”). Alih-alih, fokuskan pada perilaku spesifik yang dapat diubah, dan gunakan sudut pandang “Saya” serta data.

  • Contoh Kurang Tepat: “Bagian penjelasan modul itu berantakan dan membingungkan.”

  • Contoh yang Membangun: “*Saya perhatikan, saat menjelaskan poin ketiga di slide 5, ada beberapa peserta yang terlihat bingung. Menurut saya, kalau ditambahkan satu contoh sederhana dari kasus sehari-hari, penjelasannya mungkin bisa lebih mudah dicerna. Bagaimana menurut kamu?*”

Dengan menyebutkan “saya perhatikan” dan “slide 5”, Anda mengajak mereka melihat fakta objektif, bukan menyerang. Pertanyaan di akhir mengubah monolog menjadi dialog.

4. Berikan Saran yang Dapat Dijalankan, Bukan Hanya Masalah
Feedback tanpa solusi hanya akan meninggalkan kebingungan. Setelah menyampaikan area perbaikan, tawarkan 1-2 saran konkret dan realistis untuk tindak lanjut.

  • “Untuk mengelola waktu diskusi yang meluas, kamu bisa coba teknik ‘parking lot’—tulis poin di whiteboard untuk dibahas di akhir sesi.”

  • “Latihan vocal variety bisa dilakukan dengan merekam suaramu sendiri selama 5 menit setiap hari. Saya bisa bagikan link latihan singkatnya.”

Tawarkan diri Anda sebagai sumber daya: “Untuk bagian analisis kasus itu, saya ada template panduannya. Mau kita lihat bersama?

5. Akhiri dengan Rencana dan Dukungan
Tutup sesi feedback dengan merangkum poin-poin kunci dan membuat rencana tindak lanjut bersama. Tanyakan, “Jadi, dari diskusi kita, apa satu hal yang akan kamu coba terapkan di sesi berikutnya?” Ini memberi mereka tanggung jawab atas perkembangannya sendiri.

Tekankan dukungan Anda: “Saya yakin kamu bisa menguasai ini. Nanti di sesi berikutnya, saya akan amati bagian manajemen waktunya. Jika ada yang ingin didiskusikan sebelum itu, kamu tahu di mana menemukan saya.” Akhiri dengan penguatan positif lagi untuk menutup dengan nada optimis.

Kesimpulan: Feedback adalah Hadiah

Memberikan feedback yang membangun kepada junior trainer ibarat menjadi katalisator dalam reaksi kimia—Anda tidak mengubah unsur dasarnya, tetapi Anda mempercepat dan mempermudah proses transformasi menuju hasil yang lebih baik.

Feedback bukan tentang menunjukkan siapa yang lebih pintar. Ia adalah hadiah berupa perspektif yang Anda berikan untuk membantu orang lain melihat apa yang mungkin belum mereka lihat sendiri. Sebagai senior, peran terbesar Anda bukanlah menjadi trainer yang sempurna, tetapi menjadi pendamping yang mampu menumbuhkan trainer-traininger hebat berikutnya.

Mulailah percakapan dengan niat tulus untuk membangun. Perhatikan dengan saksama, sampaikan dengan hormat, dan dukung dengan konsisten. Lihatlah bagaimana masukan Anda yang penuh empati itu tidak hanya meningkatkan keterampilan mengajar junior trainer, tetapi juga membangun hubungan profesional yang kuat, saling percaya, dan tim yang tangguh. Sekarang, saatnya Anda mempraktikkan seni mulia ini.

Menjaga Fokus Audiens Online: 7 Jurus Ampuh agar Mereka Tak ‘Klik’ ke Media Sosial

Menjaga Fokus Audiens Online: 7 Jurus Ampuh agar Mereka Tak ‘Klik’ ke Media Sosial

Bayangkan Anda sedang berbicara di depan sekelompok orang, namun setiap beberapa detik, seseorang mengeluarkan ponselnya, menggeser layar, lalu tersenyum kecil. Itulah analogi nyata dari situasi yang dihadapi oleh setiap pembuat konten online saat ini. Di dunia di mana notifikasi media sosial berdering setiap menit, tantangan terbesar bukanlah menarik perhatian, tetapi mempertahankannya.

Artikel ini akan membahas cara-cara praktis untuk menjaga fokus audiens online Anda agar mereka tetap terlibat dengan konten Anda dan tidak tergoda untuk berpindah ke tab media sosial lainnya.

Mengapa Audiens Kita Mudah Teralihkan?

Otak manusia dirancang untuk merespons rangsangan baru. Setiap kali notifikasi muncul, otak kita melepaskan sedikit dopamin—zat kimia yang membuat kita merasa senang. Media sosial telah menguasai “seni” ini dengan sangat baik, menciptakan siklus yang membuat kita terus-menerus ingin memeriksa apa yang baru.

Ditambah lagi, rata-rata rentang perhatian manusia telah menurun drastis. Penelitian Microsoft tahun 2015 menunjukkan bahwa rentang perhatian kita sekarang lebih pendek daripada ikan mas—hanya sekitar 8 detik! Ini berarti Anda hanya punya waktu sangat singkat untuk membuktikan bahwa konten Anda layak untuk dipertahankan.

Manfaat Menjaga Fokus Audiens

  1. Peningkatan Engagement: Audiens yang fokus lebih mungkin untuk berkomentar, membagikan, atau mengambil tindakan yang Anda inginkan.

  2. Pesan yang Tersampaikan: Ketika audiens tetap fokus, pesan inti Anda benar-benar dipahami dan diingat.

  3. Konversi Lebih Tinggi: Baik itu berlangganan newsletter, membeli produk, atau mengikuti ajakan Anda, fokus berarti peluang konversi yang lebih baik.

  4. Membangun Loyalitas: Audiens yang merasa waktu mereka dihargai dengan konten berkualitas akan kembali lagi.

7 Jurus Praktis Menjaga Fokus Audiens

1. Mulai dengan “Mengapa Mereka Harus Peduli”

Dua kalimat pertama Anda adalah gerbang utama. Jangan mulai dengan perkenalan diri atau basa-basi. Mulailah dengan pertanyaan provokatif, fakta mengejutkan, atau pernyataan yang langsung menyentuh kebutuhan atau keingintahuan pembaca.

Contoh praktis: Daripada “Hari ini saya akan membahas cara menjaga fokus audiens”, coba “Pernahkah Anda merasa frustasi ketika audiens meninggalkan konten Anda di detik ke-8? Anda tidak sendiri—dan ada cara sederhana untuk mengubahnya.”

2. Pecah Konten dengan Visual yang Bermakna

Teks yang padat tanpa jeda visual ibarat padang pasir tanpa oasis—membuat audiens ingin segera “kabur”. Gunakan:

  • Gambar yang relevan setiap 200-300 kata

  • Infografis sederhana untuk data penting

  • Kutipan menarik dalam format khusus

  • Video pendek berdurasi 30-60 detik

3. Gunakan Teknik Bercerita

Otak kita terhubung secara emosional dengan cerita, bukan daftar fakta. Alih-alih hanya memberi tips, ceritakan pengalaman nyata saat tips itu berhasil diterapkan. Kisah tentang bagaimana seseorang berhasil meningkatkan engagement dengan strategi sederhana jauh lebih mudah diingat daripada lima poin bullet.

4. Sediakan “Pemberhentian” yang Teratur

Pikirkan konten Anda seperti perjalanan kereta api. Berikan “stasiun” tempat audiens bisa beristirahat sejenak—subjudul yang menarik, kutipan penting, atau pertanyaan retoris yang membuat mereka berpikir. Ini memberi kesempatan untuk mencerna informasi sebelum melanjutkan.

5. Ciptakan Interaksi Mikro

Jangan biarkan audiens hanya menjadi penerima pasif. Sertakan:

  • Pertanyaan singkat di tengah konten (“Menurut Anda, poin mana yang paling sulit diterapkan?”)

  • Polling sederhana jika memungkinkan

  • Ajakan untuk membayangkan suatu skenario
    Interaksi kecil ini membuat audiens merasa menjadi bagian aktif dari pengalaman.

6. Atur Ritme dan Panjang Kalimat

Variasi adalah kunci. Campurkan kalimat pendek yang punchy dengan kalimat panjang yang mendalam. Gunakan paragraf pendek (maksimal 3-4 kalimat) untuk konten online. Ini membuat konten terlihat lebih mudah diakses dan tidak mengintimidasi.

7. Berikan Nilai yang Nyata di Setiap Bagian

Setiap bagian konten Anda harus menjawab pertanyaan tersirat: “Apa yang saya dapatkan dari bagian ini?” Pastikan setiap paragraf memberikan insight, tips, atau perspektif baru. Jika ada bagian yang tidak memberikan nilai tambah, pertimbangkan untuk menghapusnya.

Kesimpulan: Fokus adalah Hadiah yang Anda Berikan

Menjaga fokus audiens online bukanlah tentang trik manipulatif atau teknik pemaksaan. Ini tentang menghormati waktu dan perhatian berharga yang mereka berikan kepada Anda. Setiap detik mereka menghabiskan waktu dengan konten Anda adalah detik yang tidak mereka habiskan di tempat lain.

Mulailah dengan melihat konten Anda sendiri. Baca dengan mata audiens: Apakah Anda akan bertahan sampai akhir? Apakah setiap bagian memberikan nilai? Apakah alurnya mengalir dengan natural?

Ingat, di era gangguan digital yang tak henti-hentinya ini, kemampuan untuk mempertahankan fokus audiens bukan lagi sekadar keunggulan kompetitif—melainkan kebutuhan dasar untuk komunikasi yang bermakna. Ketika Anda berhasil menciptakan pengalaman di mana audiens lupa untuk memeriksa notifikasi media sosial, Anda telah melakukan lebih dari sekadar membuat konten—Anda telah menciptakan koneksi.

Tantangan untuk Anda: Pilih satu konten yang pernah Anda buat. Baca kembali, dan identifikasi satu titik di mana Anda merasa audiens mungkin kehilangan fokus. Terapkan salah satu strategi di atas untuk memperbaikinya. Bagikan perubahan yang Anda buat dan hasilnya di kolom komentar—mari belajar bersama membangun konten yang benar-benar menahan perhatian di dunia yang penuh gangguan.

3 Cara Menguasai Panggung Tanpa Gemetar: Seni Berbicara yang Menggetarkan

3 Cara Menguasai Panggung Tanpa Gemetar: Seni Berbicara yang Menggetarkan

Hampir setiap orang pernah merasakannya. Jantung berdegup kencang, telapak tangan berkeringat dingin, suara serak, dan kaki yang terasa lemas. Saat nama Anda dipanggil dan semua mata tertuju ke arah Anda, panggung yang tadinya hanya beberapa meter terasa seperti jurang yang dalam. Jika Anda pernah merasa demikian, Anda tidak sendiri. Glossophobia, atau ketakutan berbicara di depan umum, adalah salah satu fobia paling umum di dunia, bahkan mengalahkan ketakutan akan kematian bagi sebagian orang!

Namun, bayangkan sebaliknya: Anda berjalan menuju panggung dengan senyuman percaya diri, menarik napas dalam, dan memulai pembicaraan dengan suara yang lantang dan jelas. Anda melihat audiens tersenyum, mengangguk, dan terpaku pada setiap kata Anda. Bukan hanya menyampaikan materi, Anda menguasai panggung. Itu bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dipelajari. Artikel ini akan membongkar rahasia 3 cara mendasar untuk mengusir gemetar dan mengubah penampilan Anda dari yang cemas menjadi mengesankan.

Pahami Akar Rasa Gemetar: Bukan Musuh, Tapi Alarm

Sebelum melangkah ke solusi, penting untuk mengerti mengapa kita gemetar. Reaksi fisik ini adalah warisan nenek moyang kita. Saat menghadapi ancaman (dalam hal ini, tatapan puluhan atau ratusan orang), tubuh memasuki mode “fight, flight, or freeze” (lawan, lari, atau diam). Adrenalin membanjiri tubuh, memicu semua gejala kegugupan itu. Tujuannya sebenarnya positif: membuat Anda lebih waspada dan siap. Masalahnya, kita sering salah mengartikan alarm ini. Kita anggap tubuh berkata, “Kamu dalam bahaya! Lari!”, padahal sebenarnya tubuh berkata, “Awas! Ini momen penting, fokuskan semua energimu!”

Jadi, langkah pertama menguasai panggung adalah mengubah pola pikir: kegugupan adalah energi yang siap dikendalikan, bukan musuh yang harus dihancurkan. Dengan pemahaman ini, mari kita jelajahi tiga pilar utama untuk mengalihkan energi gugup itu menjadi performa yang memukau.

1. Persiapan Matang: Kunci Utama untuk Mengusir Keraguan

Rasa gemetar sering muncul dari ketakutan akan hal yang tidak diketahui. “Bagaimana jika saya lupa?” “Bagaimana jika pertanyaannya sulit?” Cara paling ampuh mengatasinya adalah dengan persiapan yang luar biasa matang. Ini bukan sekadar menghafal naskah, tapi membangun fondasi kepercayaan diri.

  • Kuisi Materi Hingga ke Sumsum: Anda harus lebih mengerti tentang topik Anda daripada yang akan Anda sampaikan. Riset mendalam memberi Anda “cadangan pengetahuan” jika ada yang keluar dari jalur. Bayangkan seperti membangun rumah: semakin dalam fondasinya, semakin kokoh saat badai (pertanyaan sulit) datang.

  • Latihan “Active Rehearsal”: Jangan hanya membaca di dalam hati. Berdirilah, gunakan gerakan, dan ucapkan dengan lantang. Rekam latihan Anda dengan ponsel. Saat menonton rekaman, Anda bukan mencari kesalahan untuk menyalahkan diri, tapi untuk memperbaiki. Perhatikan bahasa tubuh, kecepatan bicara, dan ekspresi wajah. Latih juga bagian pembuka dan penutup berkali-kali, karena itulah yang paling diingat audiens.

  • Visualisasikan Kesuksesan: Sebelum naik panggung, luangkan 5 menit memejamkan mata. Bayangkan diri Anda tampil dengan percaya diri. Bayangkan ekspresi antusias audiens, tawa di tempat yang tepat, dan rasa lega serta bangga di akhir sesi. Teknik visualisasi ini membiasakan otak dengan skenario sukses, sehingga saat waktu itu tiba, seolah-olah Anda sudah pernah melakukannya.

2. Kuasi Tubuh dan Suara: Anda adalah Instrumen Anda

Panggung adalah pertunjukan fisik. Keadaan tubuh Anda akan langsung terpancar ke audiens. Menguasai tubuh berarti mengambil alih kendali atas sinyal-sinyal kegugupan.

  • Teknik Power Pose & Pernapasan Perut: 2 menit sebelum naik panggung, cari ruang privat (bisa toilet). Berdiri tegak dengan kaki terbuka selebar bahu, tangan di pinggul atau terangkat ke atas (pose superhero). Tahan pose ini selama 2 menit. Penelitian Amy Cuddy menunjukkan pose kekuatan seperti ini dapat menurunkan hormon stres kortisol dan meningkatkan hormon percaya diri testosteron. Kombinasikan dengan pernapasan perut: tarik napas dalam 4 hitungan, tahan 7 hitungan, hembuskan perlahan 8 hitungan. Ini akan menenangkan detak jantung.

  • Mulailah dengan Dasar yang Kokoh: Saat di panggung, atur postur Anda. Berdiri dengan seimbang, jangan menyilangkan kaki. Beri sedikit tekukan di lutut agar tidak kaku. Kontak mata yang lembut dengan beberapa orang di berbagai bagian ruangan akan membuat Anda terhubung dan terasa seperti bicara pada individu, bukan kerumunan yang menakutkan.

  • Kelola Suara dan Kecepatan: Saat gugug, suara cenderung tinggi dan cepat. Ambil jeda sejenak sebelum kata pertama. Bicara sedikit lebih lambat dari biasanya, dan sengaja turunkan nada suara Anda di akhir kalimat. Gunakan kekuatan jeda untuk memberi penekanan. Jeda adalah teman Anda; ia memberi Anda waktu bernapas dan memberi audiens waktu mencerna.

3. Fokus pada Memberi, Bukan Menerima: Ubah Pola Pikir

Ini adalah pergeseran mental yang paling kuat dan sering diabaikan. Kebanyakan kegugupan berpusat pada diri sendiri: “Apakah saya terlihat bagus? Apakah mereka menyukai saya? Apakah saya akan melakukan kesalahan?” Alihkan fokus itu ke audiens.

  • Anda di Sini untuk Melayani: Pikirkan audiens. Anda memiliki pengetahuan, inspirasi, atau solusi yang dapat membantu mereka. Tujuan Anda bukan untuk dinilai sempurna, tapi untuk berbagi sesuatu yang bernilai. Saat fokus beralih ke “bagaimana saya bisa membuat mereka memahami?” atau “bagaimana ide ini bisa menguntungkan mereka?”, tekanan pada diri Anda sendiri akan berkurang drastis.

  • Jadikan Audiens Rekan Tim, Bukan Hakim: Mulailah dengan pertanyaan retoris, cerita personal, atau humor yang relevan untuk memecah tembok pemisah. Tatap mereka sebagai individu yang tertarik, bukan sebagai kritikus. Jika Anda melakukan kesalahan kecil (lupa kata, salah sebut), akui dengan ringan dan lanjutkan. Kerendahan hati justru membuat Anda lebih manusiawi dan dapat dihubungkan.

  • Manfaatkan Energi Ruangan: Ketegangan yang Anda rasakan seringkali juga dirasakan audiens. Senyum tulus dapat meredakan ketegangan itu—baik untuk Anda maupun mereka. Saat Anda rileks, audiens pun ikut rileks. Mereka ingin Anda sukses. Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang mengharapkan Anda gagal.

Kesimpulan: Panggung adalah Kanvas, Gemetar adalah Catarnya

Menguasai panggung tanpa gemetar bukanlah tentang menjadi orang lain atau menjadi pemain sandiwara yang sempurna. Ini tentang menjadi versi terbaik dan paling otentik dari diri Anda sendiri, dengan persiapan yang matang, kendali atas instrumen tubuh Anda, dan hati yang fokus pada memberi nilai.

Ketiga cara di atas—Persiapan Matang, Penguasaan Tubuh & Suara, dan Fokus pada Memberi—adalah sebuah siklus yang saling menguatkan. Persiapan memberi Anda keberanian untuk menguasai tubuh, penguasaan tubuh memberi Anda kepercayaan untuk fokus pada audiens, dan fokus pada audiens akhirnya membuat semua persiapan Anda terlihat alami dan mengalir.

Jadi, lain kali Anda berdiri di tepi panggung, rasakan detak jantung itu. Ucapkan terima kasih pada tubuh Anda karena memberi Anda energi ekstra. Tarik napas dalam, ingat bahwa Anda datang untuk berbagi, dan melangkahlah. Mulailah bukan dengan pidato, tapi dengan sebuah cerita. Karena pada akhirnya, panggung hanyalah sebuah ruangan. Andalah yang menjadikannya berarti. Sekarang, saatnya Anda menguasainya.

Copyright © 2026 Sertifikasi ToT BNSP

Triyana

Profil Trainer

Seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI. Memiliki latar belakang keilmuan di bidang Learning & Performance Consultant, Learning Design, E-Learning Designer, CX Designer, LX Designer, dan Learning Facilitator. Selama lebih dari 6 tahun Ia dipercaya sebagai konsultan untuk perusahaan besar dan ternama di Indonesia. Tak berhenti di situ, kepiawaian beliau dalam bidang Engineer, Digital Marketing, Service Quality Assurance, dan HRD pun mampu memberikan perspektif unik dalam merancang solusi yang komprehensif dan tepat sasaran. Maka dari itu, Coach Triyana siap menjadi mitra ideal bagi Anda yang ingin mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi melalui pelatihan yang telah dirancang secara khusus.

Fauzi Noerwenda

Profil Trainer

Fauzi Noerwenda adalah seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI dan pendiri Persona Public Speaking. Dengan pengalaman dan keahliannya, Fauzi telah membantu banyak individu meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan membangun kepercayaan diri mereka. Sebagai seorang penulis, bukunya yang berjudul “Street Smart MC” menjadi panduan bagi mereka yang ingin menjadi Master of Ceremony (MC) yang handal. Kontribusinya sebagai pengurus HIPAPI Indonesia pun menunjukkan dedikasinya dalam mengembangkan profesi dan komunitas pembicara publik di Indonesia.

Trisna Lesmana

Profil Trainer

Trisna Lesmana adalah seorang Master Trainer Assessor BNSP RI. Juga Trainerpreneur yang telah membuktikan kiprahnya di dunia bisnis. Memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 2023 dengan mendirikan bisnis pelatihan “Training of Trainer BNSP Certification”, ia berhasil mencetak lebih dari 2.000+ alumni dan dipercaya oleh 200+ perusahaan dan perguruan tinggi dalam waktu kurang dari dua tahun.

Hingga saat ini, Trisna Lesmana telah menjalankan 12 bisnis lintas industri, di antaranya: Klinik Kecantikan, Skincare, Pelatihan, Konsultan, Agency, & Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Perjalanan Karier

Trisna Lesmana memulai karier sebagai Professional Corporate Trainer  dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Namanya kian dikenal saat ia menjadi salah satu dari 14 coach yang berkontribusi dalam buku “Coaching Series” (Buku Untuk Pelaku UMKM). Ia juga menulis buku keduanya, “Living Agile with NLP,” yang telah memasuki cetakan ke-4. Karya-karyanya mendapat apresiasi tinggi dari tokoh nasional dan artis ternama, seperti: Sandiaga Uno, Ariel (Noah), Merry Riana, Jamil Azzaini, Sandy Susanto, Dani Sumarsono, Dll.

Penghargaan

Pada tahun 2017, Trisna Lesmana meraih penghargaan Best Performance di event “Influence Your Audience” yang diselenggarakan oleh Akademi Trainer.

Dunia Bisnis dan Content Creation

Pada tahun 2023, ia memperluas kiprahnya ke Dunia Bisnis dan mengukuhkan dirinya sebagai Content Creator pada tahun 2024. Di bawah mentoring Deddy Corbuzier dan Coach Indrawan Nugroho melalui program Content Creator Business School, Trisna berhasil merilis konten eksklusif di Instagram pribadinya yang mendapatkan penghargaan dan liputan dari berbagai media ternama, seperti: Liputan6, Republika, Detik.com, Warta Ekonomi, Media Indonesia, Jawa Pos, dan banyak lagi.

Komitmen dan Visi

Saya bantu Business Owner agar produknya dikenal luas, diterima market, & laris dengan pendekatan Smart Business Framework (SBF).

Smart Business Framework (SBF) adalah model bisnis yang fokus optimasi pada tiga pilar; Campaign Iklan (Digital Marketing), Positioning Product, & Akuisisi Market. Telah terbukti membantu ribuan pebisnis memetakan strategi agar produknya laris di pasaran.