Memecah ‘Tembok Kaca’ Antara Trainer dan Peserta dalam ToT Online

Memecah ‘Tembok Kaca’ Antara Trainer dan Peserta dalam ToT Online

Andai kata energi ruangan pelatihan bisa diukur, maka ToT (Training of Trainers) yang ideal akan terlihat seperti percikan api yang berpindah dari satu obor ke obor lainnya—hidup, hangat, dan menyala-nyala. Namun, kenyataan pelatihan daring sering kali terasa berbeda. Energi itu tersekat. Anda berbicara dengan semangat, tetapi respons yang datang hanyalah kesenyapan kamera yang mati dan chat box yang diam. Seolah ada sekat bening yang kuat menghalangi gelombang semangat dan kedekatan itu. Inilah yang disebut “tembok kaca”—fenomena tak kasat mata yang menjadi tantangan terbesar dalam ToT online.

Sekat ini tidak berbentuk fisik, tetapi sangat terasa. Ia hadir dalam jeda bicara yang terputus akibat delay, dalam anonimitas kotak Zoom tanpa wajah, dan dalam rasa sepi yang menjalar meski daftar peserta penuh. Dalam konteks ToT, situasi ini berisiko ganda. Bukan hanya materi yang tidak terserap optimal, tetapi calon trainer juga kehilangan contoh nyata tentang bagaimana cara melatih dengan efektif dan inspiratif di dunia digital. Mereka mungkin mendapat pengetahuan, tetapi gagal menangkap jiwa dari sebuah pelatihan yang hidup.

Mengapa Memecah Tembok Ini Sangat Krusial?

Memecahkan tembok kaca bukan sekadar untuk kenyamanan, tetapi untuk efektivitas. Berikut manfaat dan poin pentingnya:

  1. Memodelkan Best Practice: Sebagai trainer dari calon trainer, Anda adalah role model. Dengan menunjukkan cara mengelola kelas online yang interaktif, Anda memberikan contoh langsung yang jauh lebih kuat daripada slide teori.

  2. Meningkatkan Retensi dan Pemahaman: Interaksi yang aktif membuat memori terbentuk lebih kuat. Peserta tidak hanya mendengar, tetapi mengalami, berdiskusi, dan mempraktikkan.

  3. Membangun Komunitas Pembelajaran: ToT yang sukses menciptakan jaringan antar calon trainer. Interaksi yang cair di kelas online menjadi fondasi untuk kolaborasi dan saling support di masa depan.

  4. Mendapatkan Umpan Balik Real-Time: Ekspresi dan respons peserta adalah kompas Anda. Dengan tembok yang tipis, Anda bisa langsung menyesuaikan kecepatan, mengulang penjelasan, atau mendalami suatu topik berdasarkan kebutuhan mereka.

Tips Praktis untuk Mendobrak Tembok Kaca

Berikut adalah strategi yang bisa Anda terapkan langsung dalam sesi ToT online Anda:

1. Ritual Pembuka yang “Hangat”, Bukan Formal.
Jangan langsung masuk materi. Luangkan 5-10 menit pertama untuk icebreaker yang relevan. Misalnya, minta peserta menulis di chat “Satu kata yang menggambarkan harapan Anda untuk pelatihan ini” atau “Gunakan emoji untuk menunjukkan mood Anda hari ini”. Ini adalah sinyal bahwa partisipasi mereka diharapkan sejak detik pertama.

2. Kuasai Seni “Memanggil Nama”.
Nama adalah musik terindah bagi pemiliknya. Secara aktif sebut nama peserta saat mereka bertanya, berkomentar, atau sekadar untuk mengajak mereka berpikir. “Menurut Rizal, tantangan terbesar sebagai trainer pemula itu apa?” Hal ini menghilangkan rasa anonimitas dan membuat setiap orang merasa dilihat.

3. Desain Interaksi Setiap 10-15 Menit.
Rancang sesi Anda dengan selang-seling. Setelah 10-15 menit paparan, selingi dengan:

  • Pertanyaan jajak pendapat (Polling): “Menurut kalian, manakah yang lebih sulit: mengelola waktu atau mengelola peserta?”

  • Sesi breakout room singkat: Berikan tugas diskusi spesifik selama 5-7 menit, misalnya “Dalam kelompok, rumuskan satu pertanyaan pembuka untuk topik manajemen konflik.”

  • Kolaborasi digital: Gunakan papan virtual (seperti Miro atau Jamboard) untuk brainstorming bersama.

4. Jadikan Kamera “Hadiah”, Bukan Kewajiban.
Alih-alih memaksa, ciptakan momen di mana kamera menjadi menarik untuk dihidupkan. Katakan, “Untuk sesi berbagi pengalaman berikutnya, bagi yang nyaman untuk menyalakan kameranya, kita bisa terasa lebih seperti ngobrol langsung.” Hargai pilihan mereka, tetapi terus ciptakan undangan yang menarik.

5. Gunakan Cerita dan Analogi “Nyata”.
Ilustrasikan konsep dengan cerita dari pengalaman Anda sendiri sebagai trainer. Analogi seperti “mengelola kelas online itu seperti menjadi host talkshow, di mana Anda harus mahir berbicara ke kamera sekaligus mengamati chat dengan cepat” akan lebih mudah dicerna daripada penjelasan teoritis.

6. Akhiri dengan Refleksi dan Komitmen Actionable.
Jangan tutup dengan “Sekian, terima kasih”. Akhiri dengan sesi refleksi. Tanyakan, “Apa satu insight utama hari ini yang akan kalian coba terapkan dalam draft pelatihan pertama kalian?” Minta mereka menuliskannya di chat atau dokumen bersama. Ini memberikan closure yang bermakna dan menguatkan komitmen.

Dari Layar ke Hati

Tembok kaca dalam ToT online memang ada, tetapi ia bukanlah penghalang yang tak terkalahkan. Ia bisa ditembus dengan kesadaran, tekad, dan teknik yang tepat. Kuncinya adalah pergeseran paradigma: dari menjadi penyampai informasi menjadi desainer pengalaman belajar.

Sebagai trainer dari calon trainer, misi Anda bukan hanya mengisi kepala mereka dengan pengetahuan, tetapi menyalakan api semangat untuk melatih. Itu hanya bisa terjadi jika ada koneksi manusiawi yang terjalin, meski melalui serat optik dan gelombang wifi. Mulailah dari sesi Anda berikutnya. Pecahkan tembok itu, satu interaksi, satu nama, dan satu tawa bersama pada suatu waktu. Karena pada akhirnya, pelatihan yang paling berkesan dan berdampak adalah yang berhasil melakukan lompatan dari layar komputer, langsung menuju hati dan pikiran setiap peserta.

Etika Abu-Abu dalam Micro-Teaching: Batasan Antara Menghibur dan Mengedukasi

Etika Abu-Abu dalam Micro-Teaching: Batasan Antara Menghibur dan Mengedukasi

Pernahkah Anda mengikuti kelas atau menonton video pembelajaran yang begitu menghibur, penuh canda dan efek spektakuler, hingga Anda lupa apa inti pelajarannya? Atau sebaliknya, pernahkah Anda duduk di depan materi yang sangat padat dan serius, namun pikiran justru mengembara ke mana-mana karena sulit dicerna?

Jika iya, Anda sudah menyentuh pinggiran sebuah wilayah yang sering kali abu-abu dalam dunia pengajaran modern: micro-teaching. Dalam metode pengajaran berdurasi singkat dan fokus spesifik ini, ada sebuah garis tipis yang terus diuji—bagaimana menyeimbangkan daya tarik hiburan dengan bobot edukasi yang sesungguhnya?

Di era di mana perhatian manusia adalah sumber daya yang diperebutkan, guru, dosen, trainer, hingga content creator pendidikan terjebak dalam dilema yang sama. Haruskah kita memprioritaskan konten yang viral dan disukai, atau berpegang teguh pada materi yang mendalam meski kurang ‘seksi’? Di sinilah etika abu-abu itu bermain. Ini bukan lagi tentang mana yang benar atau salah, tetapi tentang bagaimana kita berjalan di atas tali yang membentang antara keduanya, tanpa terjatuh ke sisi yang ekstrem.

Memahami Zona Abu-Abu dalam Micro-Teaching

Micro-teaching populer di era digital ini karena sesuai dengan karakteristik pembelajaran generasi sekarang yang menyukai konten singkat, padat, dan menarik. Platform seperti YouTube, Instagram Reels, TikTok, dan kursus online penuh dengan konten edukasi dalam format mikro.

Namun, di balik efektivitasnya, ada dilema etika yang jarang dibahas. Di satu sisi, guru, trainer, atau content creator ingin kontennya ditonton, disukai, dan dibagikan—yang sering berarti membutuhkan unsur hiburan. Di sisi lain, ada tanggung jawab untuk menyampaikan materi dengan akurat, mendalam, dan meninggalkan pemahaman yang utuh, bukan sekadar kesan yang menghilang.

Zona abu-abu itu muncul ketika kita mulai mengorbankan substansi untuk gimmick, atau ketika kita membuat konten yang terlalu serius hingga kehilangan daya tarik sama sekali. Intinya adalah mencari titik seimbang di mana “hiburan” menjadi alat untuk edukasi, bukan tujuan akhir.

Mengapa Menyeimbangkan Keduanya Itu Penting?

Memahami pentingnya keseimbangan ini adalah kunci. Berikut poin-poin mengapa etika dalam micro-teaching tidak boleh diabaikan:

  1. Kredibilitas Jangka Panjang: Audiens pintar. Mereka mungkin tertarik sekali dengan konten yang hanya menghibur, tetapi mereka akan kembali dan loyal kepada sumber yang memberikan nilai edukasi nyata. Kredibilitas dibangun dari konten yang dapat dipertanggungjawabkan.

  2. Retensi Pembelajaran yang Bermakna: Tujuan akhir mengajar adalah agar pengetahuan atau keterampilan baru melekat. Hiburan bisa menjadi “kait” untuk menarik perhatian dan emosi, yang membantu memori. Namun, tanpa inti edukasi yang kuat, yang diingat hanyalah kelucuannya, bukan materinya.

  3. Menghindari Misinformasi: Dalam upaya membuat konten yang dramatis atau viral, ada risiko menyederhanakan konsep kompleks secara berlebihan, bahkan sampai menyesatkan. Ini berbahaya, terutama untuk topik kesehatan, sains, atau finansial.

  4. Pemenuhan Tanggung Jawab Etis: Bagi guru dan pendidik profesional, ada kode etik untuk tidak menyesatkan peserta didik. Micro-teaching, meski dalam format santai, tetaplah sebuah proses pembelajaran yang memikul tanggung jawab tersebut.

Tips Praktis: Navigasi di Zona Abu-Abu dengan Bijak

Lalu, bagaimana caranya mengajar mikro yang tetap seru tapi tidak kehilangan “ruh” pendidikannya? Berikut tips praktis yang bisa langsung Anda terapkan:

  1. Gunakan “Hukum 80/20 Edu-tainment”: Jadikan edukasi sebagai 80% fondasi konten Anda. Unsur hiburan—cerita lucu, analogi kocak, musik, atau editing kreatif—adalah 20% “bumbu” untuk menyajikan fondasi tersebut dengan lebih menarik. Bumbu bukanlah hidangan utama.

  2. Kuatkan dengan “Anchor Point” (Poin Jangkar): Setiap sesi micro-teaching, tentukan 1-3 poin kunci pembelajaran yang harus dipahami audiens. Segala bentuk hiburan, ilustrasi, atau cerita harus mengarah dan memperkuat poin jangkar ini. Sebelum produksi, tanyakan: “Jika semua humor disingkirkan, apakah poin intinya masih jelas?”

  3. Transparansi adalah Kunci: Jika Anda menggunakan hiperbola, analogi yang disederhanakan, atau skenario dramatisasi, beri tahu audiens. Kalimat seperti, “Ini adalah penyederhanaan untuk memudahkan pemahaman, pada kenyataannya prosesnya lebih kompleks,” menunjukkan integritas dan menjaga kepercayaan.

  4. Uji dengan Pertanyaan “Lalu Apa?”: Setelah merancang konten, tanyakan pada diri sendiri: “Setelah audiens tertawa/terkesan, lalu apa yang mereka dapatkan?” Jika jawabannya adalah tindakan, insight baru, atau pemahaman konsep, Anda berada di jalur yang benar. Jika jawabannya hanya, “Mereka merasa terhibur,” perlu evaluasi ulang.

  5. Jadikan Humor sebagai “Jembatan”, bukan “Tujuan”: Gunakan humor untuk menjembatani pemahaman yang sulit. Misal, mengibaratkan sel darah putih sebagai “tentara tubuh” yang bertingkah lucu saat melawan virus bisa menghibur sekaligus edukatif. Humor yang sekadar mengejar tren tanpa kaitan materi adalah gangguan.

Kesimpulan: Mendidik dengan Cahaya, Bukan Hanya Kilau

Zona abu-abu antara menghibur dan mengedukasi dalam micro-teaching bukanlah masalah hitam-putih yang harus ditakuti. Ia justru adalah kanvas kreatif bagi setiap pendidik modern. Tantangannya adalah melukis di atas kanvas itu dengan palet yang berisi warna-warna pengetahuan, diselingi aksen cerah humor dan kreativitas, tanpa mengaburkan gambar utamanya.

Pada akhirnya, etika dalam praktik ini mengarahkan kita pada pertanyaan mendasar: Apakah kita ingin dikenal sebagai entertainer yang sedikit mengajar, atau pendidik yang brilian dalam mengemas pembelajaran?

Pilihlah untuk menjadi yang terakhir. Karena di era banjir informasi, yang dibutuhkan dunia bukanlah konten yang sekadar bersinar dan menghilang, tetapi konten yang menerangi—memberi pemahaman, menginspirasi tindakan, dan meninggalkan jejak pengetahuan yang bermakna, lama setelah tawa itu reda.

ebelum Anda membuat atau membagikan konten micro-teaching berikutnya, luangkan waktu dua menit untuk mengecek: “Apakah konten ini memiliki poin jangkar edukasi yang kuat, ataukah ia hanya mengapung di atas gelombang hiburan semata?” Mulailah dari kesadaran kecil itu.

Sertifikat BNSP di Tangan, Tapi Kok Rasanya Masih “Deg-degan” Saat Mengajar?

Sertifikat BNSP di Tangan, Tapi Kok Rasanya Masih “Deg-degan” Saat Mengajar?

Bayangkan ini: Anda baru saja mengantongi sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Selembar kertas itu adalah bukti resmi bahwa Anda telah menguasai suatu keahlian. Anda merasa bangga, lega, dan siap untuk membagikan ilmu. Namun, ketika tiba waktunya berdiri di depan kelas—nyata atau virtual—rasa percaya diri itu tiba-tiba menguap. Jari-jari berkeringat, suara sedikit gemetar, dan pikiran mulai berkecamuk, “Apa yang harus saya lakukan jika peserta bertanya sesuatu yang saya tidak tahu?” atau “Bagaimana jika metode saya membosankan?”

Jika Anda pernah mengalami hal ini, tenang, Anda tidak sendirian. Fenomena trainer bersertifikat yang masih merasa “belum siap” atau “tidak percaya diri” saat mengajar adalah hal yang sangat manusiawi dan lebih umum dari yang kita kira. Sertifikat adalah bukti kompetensi teknis, tetapi mengajar adalah seni sekaligus ilmu yang melibatkan banyak aspek di luar teknis semata.

Dari “Tahu Ilmu” ke “Bisa Ngajar”: Ada Jurang yang Bernama Pengalaman

Analogi sederhananya begini: memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) tidak serta-merta membuat seseorang menjadi sopir yang lancar di semua medan. SIM membuktikan Anda lulus ujian teori dan praktik dasar. Tetapi, mengemudi di jalanan ibukota yang padat, menghadapi pengemudi lain yang ugal-ugalan, atau melalui jalan berlubang, membutuhkan pengalaman dan mentalitas yang hanya bisa diasah dengan benar-benar berada di belakang setir.

Sertifikat BNSP ibarat SIM tersebut. Ia menjamin Anda telah lulus asesmen terhadap unit kompetensi tertentu. Namun, ruang kelas adalah “jalan raya”-nya. Di sanalah keterampilan lain yang sering kali tidak tercakup dalam pelatihan teknis, diuji.

Mengapa Rasa “Tidak Siap” Itu Muncul? Ini Akar Permasalahannya

  1. Fokus pada “Apa” bukan “Bagaimana”: Pelatihan dan asesmen BNSP sering kali berpusat pada penguasaan materi (what to teach). Sementara, keterampilan pedagogi (how to teach)—seperti mengelola kelas, membaca dinamika peserta, menyusun icebreaker yang efektif, atau menyampaikan dengan cara yang menarik—sering kali menjadi tanggung jawab pribadi trainer untuk mempelajarinya.

  2. Syndrome Impostor yang Menghantui: Perasaan bahwa “saya tidak sehebat yang orang kira” atau “saya hanya beruntung” sangat umum di kalangan profesional baru, termasuk trainer. Sertifikat kadang malah menambah tekanan, karena membawa ekspektasi bahwa Anda harus sempurna.

  3. Ketakutan akan Ketidaktahuan: Seorang trainer sering dianggap sebagai sumber pengetahuan mutlak. Padahal, tidak mungkin seseorang tahu segalanya. Ketakutan untuk dianggap tidak kompeten jika tidak bisa menjawab pertanyaan sering menjadi momok yang menghambat.

  4. Kurangnya Latihan “Lapangan” yang Aman: Sebelum terjun ke kelas sesungguhnya dengan peserta yang membayar, seringkali trainer tidak memiliki arena berlatih yang aman untuk gagal, mencoba metode baru, dan mendapat umpan balik konstruktif tanpa rasa malu.

  5. Perbedaan Antara Teori dan Realita: Materi pelatihan sering ideal. Di lapangan, peserta datang dengan beragam latar belakang, mood, dan ekspektasi. Mengatasi peserta yang pasif, yang terlalu dominan, atau yang skeptis, adalah keterampilan yang hanya didapat dari pengalaman langsung.

Tips Praktis: Transformasi dari Certified Menjadi Confident Trainer

Jadi, bagaimana mengisi “jurang” antara memiliki sertifikat dan merasa siap mengajar? Berikut adalah langkah-langkah konkret yang bisa Anda terapkan:

  1. Mulailah dengan Arena yang Kecil dan Ramah: Jangan langsung menargetkan training korporat besar. Mulailah dengan mengajar teman-teman satu komunitas, menjadi pemateri di webinar internal, atau membuat konten di media sosial. Ini adalah “lapangan latihan” dengan tekanan rendah untuk membangun kepercayaan diri.

  2. Rangkul Ketidaktahuan, Jangan Dihindari: Ubah mindset dari “saya harus tahu segalanya” menjadi “saya adalah fasilitator pembelajaran”. Jika ada pertanyaan yang tidak Anda ketahui jawabannya, katakan dengan jujur, “Pertanyaan yang bagus. Saya tidak memiliki data pasti saat ini, tapi mari kita cari tahu bersama atau saya akan konfirmasi setelah sesi.” Integritas lebih dihargai daripada sok tahu.

  3. Investasi pada Diri di Luar Sertifikat: Ikuti workshop atau baca buku tentang soft skill trainer, seperti public speaking, storytelling, desain pembelajaran (instructional design), atau neuro-linguistic programming (NLP) untuk training. Ini adalah “senjata” tambahan yang sangat berharga.

  4. Siapkan “Kotak Peralatan” Mengajar: Jangan hanya mengandalkan slide presentasi. Siapkan berbagai alat bantu seperti video pendek, studi kasus, kuis interaktif (misal dengan Mentimeter atau Kahoot!), alat peraga sederhana, atau game-game pembelajaran. Memiliki banyak opsi membuat Anda lebih fleksibel dan mengurangi kecemasan.

  5. Cari Mentor atau Bergabung dengan Komunitas Trainer: Jalan seorang trainer bisa terasa sepi. Memiliki mentor yang berpengalaman untuk berdiskusi atau bergabung dengan komunitas trainer (seperti Asosiasi Trainer Indonesia) dapat memberikan dukungan, berbagi pengalaman, dan jaringan yang sangat berharga.

  6. Refleksi dan Perbaiki Setiap Sesi: Setelah setiap mengajar, luangkan waktu 10 menit untuk merefleksikan: Apa yang berjalan baik? Apa yang kurang? Tanggapan peserta seperti apa? Catat ini sebagai bahan perbaikan untuk sesi berikutnya. Proses “belajar dari aksi” ini sangat penting.

Kesimpulan: Sertifikat adalah Garis Start, Bukan Garis Finish

Merasa belum sepenuhnya siap setelah mendapat sertifikat BNSP adalah tanda bahwa Anda adalah seorang profesional yang sadar akan tanggung jawabnya. Itu adalah awal yang baik. Ingatlah bahwa sertifikat adalah pengakuan atas kompetensi teknis Anda, sementara kepercayaan diri di kelas adalah buah dari pengalaman, persiapan, dan keterampilan mengajar yang terus diasah.

Jadi, langkah pertama setelah membaca artikel ini adalah: Ambil napas dalam-dalam, terima perasaan “deg-degan” itu sebagai sesuatu yang wajar, lalu pilih SATU dari tips praktis di atas untuk Anda coba dalam kesempatan mengajar berikutnya. Mulailah dari yang kecil, perbanyak latihan, dan percayalah bahwa setiap master trainer yang Anda kagumi pun pernah merasakan hal yang sama. Perjalanan dari certified menuju confident adalah proses yang membuat profesi Anda sebagai trainer semakin matang dan bermakna.

Triyana

Profil Trainer

Seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI. Memiliki latar belakang keilmuan di bidang Learning & Performance Consultant, Learning Design, E-Learning Designer, CX Designer, LX Designer, dan Learning Facilitator. Selama lebih dari 6 tahun Ia dipercaya sebagai konsultan untuk perusahaan besar dan ternama di Indonesia. Tak berhenti di situ, kepiawaian beliau dalam bidang Engineer, Digital Marketing, Service Quality Assurance, dan HRD pun mampu memberikan perspektif unik dalam merancang solusi yang komprehensif dan tepat sasaran. Maka dari itu, Coach Triyana siap menjadi mitra ideal bagi Anda yang ingin mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi melalui pelatihan yang telah dirancang secara khusus.

Fauzi Noerwenda

Profil Trainer

Fauzi Noerwenda adalah seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI dan pendiri Persona Public Speaking. Dengan pengalaman dan keahliannya, Fauzi telah membantu banyak individu meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan membangun kepercayaan diri mereka. Sebagai seorang penulis, bukunya yang berjudul “Street Smart MC” menjadi panduan bagi mereka yang ingin menjadi Master of Ceremony (MC) yang handal. Kontribusinya sebagai pengurus HIPAPI Indonesia pun menunjukkan dedikasinya dalam mengembangkan profesi dan komunitas pembicara publik di Indonesia.

Trisna Lesmana

Profil Trainer

Trisna Lesmana adalah seorang Master Trainer Assessor BNSP RI. Juga Trainerpreneur yang telah membuktikan kiprahnya di dunia bisnis. Memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 2023 dengan mendirikan bisnis pelatihan “Training of Trainer BNSP Certification”, ia berhasil mencetak lebih dari 2.000+ alumni dan dipercaya oleh 200+ perusahaan dan perguruan tinggi dalam waktu kurang dari dua tahun.

Hingga saat ini, Trisna Lesmana telah menjalankan 12 bisnis lintas industri, di antaranya: Klinik Kecantikan, Skincare, Pelatihan, Konsultan, Agency, & Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Perjalanan Karier

Trisna Lesmana memulai karier sebagai Professional Corporate Trainer  dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Namanya kian dikenal saat ia menjadi salah satu dari 14 coach yang berkontribusi dalam buku “Coaching Series” (Buku Untuk Pelaku UMKM). Ia juga menulis buku keduanya, “Living Agile with NLP,” yang telah memasuki cetakan ke-4. Karya-karyanya mendapat apresiasi tinggi dari tokoh nasional dan artis ternama, seperti: Sandiaga Uno, Ariel (Noah), Merry Riana, Jamil Azzaini, Sandy Susanto, Dani Sumarsono, Dll.

Penghargaan

Pada tahun 2017, Trisna Lesmana meraih penghargaan Best Performance di event “Influence Your Audience” yang diselenggarakan oleh Akademi Trainer.

Dunia Bisnis dan Content Creation

Pada tahun 2023, ia memperluas kiprahnya ke Dunia Bisnis dan mengukuhkan dirinya sebagai Content Creator pada tahun 2024. Di bawah mentoring Deddy Corbuzier dan Coach Indrawan Nugroho melalui program Content Creator Business School, Trisna berhasil merilis konten eksklusif di Instagram pribadinya yang mendapatkan penghargaan dan liputan dari berbagai media ternama, seperti: Liputan6, Republika, Detik.com, Warta Ekonomi, Media Indonesia, Jawa Pos, dan banyak lagi.

Komitmen dan Visi

Saya bantu Business Owner agar produknya dikenal luas, diterima market, & laris dengan pendekatan Smart Business Framework (SBF).

Smart Business Framework (SBF) adalah model bisnis yang fokus optimasi pada tiga pilar; Campaign Iklan (Digital Marketing), Positioning Product, & Akuisisi Market. Telah terbukti membantu ribuan pebisnis memetakan strategi agar produknya laris di pasaran.