Hal-hal Sepele yang Sering Membuat Asesor Mengurangi Nilai Anda.

Hal-hal Sepele yang Sering Membuat Asesor Mengurangi Nilai Anda.

Asesor adalah manusia. Mereka tidak hanya menilai konten atau hasil akhir, tetapi juga proses, kesan, dan profesionalisme keseluruhan yang Anda tampilkan. Detail-detail kecil ini bisa menjadi indikator keseriusan, kedisiplinan, dan kemampuan Anda dalam memperhatikan kualitas. Mari kita kupas satu per satu hal sepele yang sering menjadi “pencuri nilai” diam-diam itu, dilengkapi dengan tips praktis untuk menghindarinya.

1. Judul dan Format Dokumen yang Acak-acakan
Anda mungkin berpikir, “Yang penting isinya.” Tapi coba bayangkan asesor yang harus menilai puluhan bahkan ratusan dokumen. Dokumen Anda yang tanpa nama jelas, judul ambigu, atau format font berantakan adalah kesan pertama yang buruk. Ini seperti datang ke wawancara kerja dengan kaos oblong; konten Anda mungkin bagus, tetapi nilai “kerapian” langsung berkurang.

Tips Praktis: Gunakan format standar. Cantumkan nama lengkap, nomor identifikasi, dan judul yang jelas di header. Pilih font yang mudah dibaca (seperti Times New Roman atau Arial), ukuran 12, spasi 1.5. Periksa nomor halaman dan daftar isi jika dokumen panjang.

2. Jawaban yang “Hampir Benar” dan Tidak Spesifik
Dalam ujian atau laporan, menjawab pertanyaan dengan generalisasi adalah jebakan. Misal, pertanyaan “Jelaskan strategi pemasaran,” dijawab dengan “Menggunakan media sosial dan iklan.” Ini terlalu dangkal. Asesor mencari kedalaman pemahaman.

Tips Praktis: Gunakan metode BACATBaca pertanyaan dengan teliti, Ambil kata kunci, Cari poin inti, Ambil data pendukung, Tulis secara runtut dan spesifik. Berikan contoh konkret atau data pendukung untuk setiap poin.

3. Ketidakhadiran “Kesimpulan” atau “Rekomendasi” yang Jelas
Banyak karya berakhir tiba-tiba setelah menyajikan data. Asesor bertanya-tanya, “Jadi, apa intinya? Apa tindak lanjutnya?” Kurangnya kesimpulan yang ringkas dan rekomendasi yang actionable menunjukkan pemikiran yang belum tuntas.

Tips Praktis: Selalu akhiri bagian atau dokumen dengan paragraf kesimpulan (1-2 paragraf) yang meringkas poin utama. Jika relevan, tambahkan bagian rekomendasi singkat tentang langkah selanjutnya.

4. Tata Bahasa dan Typo yang Diabaikan
Kesalahan ketik (typo) dan tata bahasa yang kacau mengganggu kelancaran membaca dan memberikan kesan ceroboh. Asesor mungkin berpikir, “Jika untuk karya sendiri saja tidak teliti, bagaimana dengan pekerjaan nanti?”

Tips Praktis: Jangan andalkan pemeriksa ejaan saja. Baca dokumen Anda keras-keras setelah selesai. Cara ini efektif menemukan kalimat yang janggal. Mintalah teman atau kolega untuk melakukan proofreading sekilas.

5. Body Language dan Komunikasi Non-Verbal Saat Presentasi
Ini raja dari semua “hal sepele” yang berdampak besar. Saat presentasi atau ujian lisan, nilai Anda bukan hanya dari apa yang diucapkan, tapi juga bagaimana menyampaikannya.
Kurang Kontak Mata: Menatap layar, lantai, atau langit-langit terus-menerus terlihat tidak percaya diri dan kurang menghormati asesor.
Suara Monoton dan Lirih: Membuat presentasi yang bagus menjadi membosankan dan sulit dipahami.
Postur Tertutup: Tangan menyilang, bahu membungkuk, atau bermain-main dengan pena.

Tips Praktis: Latihan di depan cermin atau rekam diri sendiri. Usahakan kontak mata dengan semua asesor secara bergantian. Berdirilah tegak, gunakan tangan untuk penekanan yang wajar. Atur volume suara agar jelas terdengar di ruangan.

6. Ketidaksiapan Menjawab Pertanyaan Mendasar
Anda menyajikan analisis kompleks, tetapi ketika asesor bertanya hal mendasar seperti definisi sebuah istilah kunci yang Anda gunakan, Anda gagal menjawab dengan lugas. Ini mempertanyakan fondasi pemahaman Anda.

Tips Praktis: Sebelum penilaian, tanyai diri sendiri pertanyaan-pertanyaan paling dasar seputar topik Anda. Pastikan Anda paham betul konsep-konsep inti sebelum membahas hal yang lebih rumit.

7. Mengabaikan Instruksi Sederhana
Ini kesalahan fatal yang benar-benar dianggap “sepele” oleh peserta. Misal, instruksi “batas maksimal 10 halaman” dilampaui, atau diminta mengirim dalam format PDF malah dikirim dalam format .doc. Ini dinilai sebagai ketidakmampuan mengikuti prosedur.

Tips Praktis: Garis bawahi atau highlighter setiap instruksi teknis yang diberikan. Buat checklist sebelum mengumpulkan. Patuhi batas kata, halaman, format file, dan tenggat waktu dengan ketat.

8. Penampilan yang Tidak Sesuai Konteks
Untuk ujian atau presentasi formal, penampilan adalah bagian dari sikap profesional. Busana yang terlalu kasual (celana jeans robek, sandal) bisa diinterpretasikan sebagai kurangnya rasa hormat terhadap proses penilaian.

Tips Praktis: Kenakan busana yang lebih formal dari lingkungan sehari-hari di tempat penilaian. Business casual (kemeja rapi, blazer, sepatu tertutup) hampir selalu aman dan memberikan kesan serius.

Kesimpulan dan Ajakan Bertindak

Nilai yang tinggi tidak hanya diraih dengan menguasai materi secara brilian, tetapi juga dengan menunjukkan profesionalisme melalui detail. Asesor, secara sadar atau tidak, menggunakan hal-hal “sepele” ini sebagai tolok ukur kesiapan, ketelitian, dan kedewasaan Anda dalam berkarya.

Mulai sekarang, anggap setiap penilaian sebagai sebuah pertunjukan lengkap. Konten Anda adalah aktor utamanya, tetapi format, bahasa, penampilan, dan sikap adalah tata panggung, lighting, dan sound system yang mendukung. Jika salah satu elemen pendukung ini bermasalah, pertunjukan secara keseluruhan tidak akan sempurna.

Ajakan Bertindak: Sebelum mengumpulkan karya atau menghadapi asesor berikutnya, luangkan waktu 30 menit khusus untuk “Pemeriksaan Hal Sepele”. Cek format, baca ulang instruksi, perbaiki typo, dan latih kontak mata. Ingat, dalam kompetisi yang ketat, perbedaan antara “baik” dan “luar biasa” seringkali terletak pada detail yang Anda berikan perhatian ekstra. Jangan biarkan nilai Anda terkikis hanya karena hal-hal kecil yang sebenarnya sangat mudah untuk diperbaiki.

Menjaga Integritas Asesmen di Tengah Tekanan Target Kelulusan Instansi

Menjaga Integritas Asesmen di Tengah Tekanan Target Kelulusan Instansi

Dalam dunia pendidikan dan pelatihan, asesmen atau penilaian adalah “timbang badan” dan “thermometer” tadi. Fungsinya vital: mengukur secara jujur sejauh mana pengetahuan dan keterampilan seseorang telah tercapai. Namun, alat ukur yang sakral ini sering kali menghadapi tekanan berat: target kelulusan instansi. Baik itu sekolah, lembaga kursus, atau institusi pelatihan, seringkali ada dorongan untuk mencapai angka kelulusan yang tinggi. Entah untuk mempertahankan akreditasi, menarik calon peserta baru, memenuhi target kinerja, atau sekadar menjaga reputasi.

Di sinilah konflik muncul. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk menunjukkan hasil yang baik. Di sisi lain, ada prinsip dasar bahwa penilaian harus adil, objektif, dan mencerminkan kompetensi sesungguhnya. Menjaga integritas asesmen di tengah tekanan ini ibarat berjalan di atas tali. Namun, ini bukan sekadar masalah prinsip semata, melainkan fondasi dari kredibilitas dan manfaat pendidikan itu sendiri.

Mengapa Integritas Asesmen Tak Bisa Ditawar?

Kompromi dalam penilaian mungkin terlihat seperti solusi cepat untuk memuaskan berbagai pihak. Tapi efeknya seperti bom waktu. Berikut adalah alasan mendasar mengapa integritas itu harus dijunjung tinggi:

  1. Keadilan bagi Peserta Didik: Asesmen yang jujur adalah bentuk keadilan utama. Peserta didik yang rajin dan kompeten berhak mendapatkan pengakuan yang sesuai. Sebaliknya, memberi kelulusan pada yang belum kompeten justru merugikan mereka. Bayangkan seorang siswa yang dinyatakan lulus karena “dibantu”, lalu masuk ke jenjang pendidikan atau pekerjaan berikutnya tanpa bekal memadai. Ia akan gagal pada tingkat yang lebih tinggi, dan rasa percaya dirinya bisa runtuh.

  2. Kredibilitas Lembaga: Reputasi sebuah instansi pendidikan dibangun dari kualitas lulusannya. Jika pasar atau dunia kerja mengetahui bahwa lulusan dari suatu tempat “banyak airnya”, sertifikat atau ijazahnya akan kehilangan nilai. Ini justru akan menjatuhkan citra lembaga dalam jangka panjang, jauh lebih parah daripada tidak mencapai target kelulusan sementara.

  3. Diagnosa yang Akurat untuk Perbaikan: Asesmen bukan hanya untuk memberi nilai. Ia adalah alat diagnostik untuk melihat kelemahan dalam proses pembelajaran. Jika hasilnya dimanipulasi, kita seperti dokter yang mengabaikan gejala penyakit. Instruktur atau guru tidak akan tahu bagian mana yang harus diperbaiki, dan peserta didik tidak menyadari celah kompetensinya. Akibatnya, siklus pembelajaran menjadi mandek.

  4. Membangun Karakter & Etos Kerja: Proses pendidikan bertujuan membentuk manusia utuh, termasuk integritas dan tanggung jawab. Ketika seorang peserta didik melihat bahwa ketidakjujuran “diamini” oleh sistem, pelajaran terbesar yang mereka dapat justru adalah: “Yang penting hasil akhir, caranya tidak masalah.” Ini merusak karakter dan etos kerja generasi penerus.

Tips Praktis Menjaga Integritas di Tengah Tekanan

Lalu, bagaimana cara menjaga prinsip ini ketika atasan, pihak marketing, atau bahkan orangtua menuntut angka kelulusan yang tinggi? Berikut strategi yang bisa diterapkan:

  1. Komunikasikan dari Awal: “Prevention is Better than Cure”. Sebelum program dimulai, sampaikan dengan jelas kepada semua pemangku kepentingan—mulai dari pimpinan, staf, hingga peserta didik—tentang filosofi penilaian yang dianut. Tekankan bahwa tujuan utama adalah kompetensi, bukan sekadar kelulusan. Buat mereka memahami bahwa lulusan yang kompeten adalah aset terbaik untuk reputasi jangka panjang.

  2. Perkuat Asesmen Formatif, Kurangi Beban Sumatif. Asesmen formatif adalah penilaian selama proses pembelajaran (kuis kecil, tugas, diskusi, observasi). Fungsinya untuk memberi umpan balik dan perbaikan, bukan untuk menentukan nilai akhir. Dengan memperbanyak ini, peserta didik punya banyak kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum ujian akhir (asesmen sumatif). Tekanan pada “momen final” pun berkurang, dan angka kelulusan yang tuntas secara alami akan lebih mungkin tercapai.

  3. Transparansi Kriteria dan Rubrik. Buatlah pedoman penilaian (rubrik) yang sangat jelas, rinci, dan terbuka. Saat peserta didik tahu persis apa yang dinilai dan bagaimana mencapainya, ruang untuk protes atau tuntutan “nilai tambahan” yang tidak jelas akan mengecil. Transparansi ini juga melindungi pengajar dari tuduhan subjektivitas.

  4. Diversifikasi Metode Penilaian. Jangan bergantung hanya pada ujian tertulis. Gunakan portofolio, proyek, presentasi, simulasi, atau penilaian praktik. Dengan banyaknya bukti yang dikumpulkan dari berbagai metode, penilaian menjadi lebih komprehensif dan adil. Seseorang yang gagal di ujian tulis mungkin sangat cemerlang dalam proyek nyata. Data yang beragam membuat keputusan lebih kuat dan sulit dibantah.

  5. Bangun Sistem Dukungan & Umpan Balik. Ciptakan budaya di mana peserta didik yang kesulitan mendapatkan bantuan sebelum penilaian akhir, bukan dispensasi setelah gagal. Lakukan remedial, konsultasi, atau belajar tambahan. Ini menunjukkan bahwa lembaga peduli pada keberhasilan mereka, tetapi tetap pada koridor pencapaian kompetensi.

  6. Jadilah Profesional, Bukan Hanya Pekerja. Bagi pengajar atau asesor, teguhkan hati untuk mengatakan “tidak” pada permintaan yang melanggar integritas. Siapkan data dan argumen yang kuat (seperti poin-poin di atas) untuk mendukung keputusan Anda. Ingatkan bahwa peran Anda adalah sebagai gatekeeper kualitas, yang justru sangat berharga bagi instansi.

Penutup: Integritas adalah Fondasi, Bukan Penghalang

Tekanan target kelulusan memang nyata. Namun, memenuhi target dengan mengorbankan integritas asesmen adalah kemenangan semu yang mahal harganya. Ibarat membangun rumah, kompromi dalam penilaian adalah seperti menggunakan semen berkualitas rendah. Rumah mungkin cepat berdiri dan terlihat baik di laporan pembangunan, tetapi fondasinya rapuh dan suatu saat akan retak bahkan runtuh.

Menjaga integritas asesmen bukanlah sikap kaku yang menghalangi kemajuan. Justru, itulah sikap paling progresif. Ini adalah komitmen untuk menghasilkan lulusan yang benar-benar siap, membangun reputasi yang kokoh, dan menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat dan adil. Pada akhirnya, kepercayaan yang dibangun dari integritas adalah mata uang yang paling berharga, jauh melebihi angka-angka sementara dalam laporan target kelulusan.

Mari kita jadikan setiap nilai yang tercantum di sertifikat bukan sekadar tinta di atas kertas, melainkan cerminan nyata dari kompetensi dan kerja keras. Karena hanya dengan cara itulah, pendidikan dapat benar-benar memenuhi misi mulianya: mencerdaskan kehidupan bangsa dengan kejujuran.

Menyusun Bukti Kerja Digital yang Langsung ‘VAK’: Valid, Asli, Terkini, dan Memadai

Menyusun Bukti Kerja Digital yang Langsung ‘VAK’: Valid, Asli, Terkini, dan Memadai

Dalam dunia kerja yang semakin digital, kemampuan kita dinilai tidak hanya dari apa yang kita kerjakan, tetapi juga dari bagaimana kita mendokumentasikan dan menyajikan karya tersebut. Di sinilah konsep bukti kerja digital yang ‘VAK’ berperan penting. VAK adalah singkatan yang mudah diingat untuk standar bukti yang kredibel: Valid, Asli, Terkini, dan Memadai. Prinsip ini tidak hanya untuk auditor, tetapi untuk semua profesional yang ingin karya dan kontribusinya diakui dengan tepat.

Mengapa ini penting? Bukti kerja digital yang terorganisir dengan prinsip VAK adalah aset berharga. Ia berfungsi sebagai:

  • Perisai saat Audit: Membuat proses pemeriksaan berjalan lancar dan bebas stres.

  • Bahan Bakar untuk Karier: Memudahkan penyusunan portofolio, CV, atau bahan promosi diri yang solid.

  • Peta Jejak Digital: Menjadi catatan sejarah yang akurat dari setiap pencapaian dan pembelajaran.

  • Peningkat Kolaborasi: Memastikan semua tim bekerja dengan dokumen dan informasi yang sama dan terbaru.

Lantas, bagaimana cara menyusun bukti-bukti digital kita agar langsung memenuhi standar VAK? Mari kita bahas satu per satu dengan tips praktis yang bisa langsung Anda terapkan.

1. Valid (Sah dan Dapat Dipercaya)

Valid artinya bukti tersebut secara sah mendukung klaim atau pencapaian yang Anda sampaikan. Ia harus relevan dan dapat dipercaya.

Tips Praktis:

  • Kaitkan dengan Konteks: Simpan tidak hanya hasil akhir, tetapi juga dokumen pendukung seperti brief proyek, email persetujuan, atau formulir permintaan. Ini memberikan “cerita” yang utuh.

  • Gunakan Sumber yang Diakui: Jika data dari survei, sertakan link atau screenshot dari platform survei yang kredibel. Jangan hanya menyalin angka ke spreadsheet kosong.

  • Contoh Nyata: Daripada hanya menyimpan file “Laporan_Keuangan_Q4.xlsx”, simpan juga email dari atasan yang menyetujui angka-angka di dalamnya, atau screenshot dari sistem akuntansi resmi perusahaan sebagai sumber datanya.

2. Asli (Original dan Bukan Rekayasa)

Asli berarti bukti tersebut adalah karya orisinal dan belum dimanipulasi untuk menyesatkan. Ini soal integritas.

Tips Praktis:

  • Jaga File Asli: Selalu simpan file mentah atau versi asli. Jika mengedit foto, simpan foto asli dan hasil edit dalam folder terpisah
  • Manfaatkan Metadata Digital: File digital (seperti foto, PDF, dokumen) menyimpan informasi “metadata” seperti tanggal pembuatan, penulis, dan perangkat yang digunakan. Jangan dihapus, karena ini adalah penanda keaslian.
  • Gunakan Tanda Tangan Digital atau Stampel Waktu (Timestamp): Untuk dokumen penting seperti kontrak atau laporan final, gunakan fitur tanda tangan digital atau pastikan sistem penyimpanan Anda (seperti Google Drive) mencatat waktu pengunggahan. Screenshot percakapan penting juga bisa jadi bukti asli jika menampilkan nama, foto profil, dan tanggal dengan jelas.

3. Terkini (Up-to-Date dan Relevan dengan Waktu)

Terkini menekankan bahwa bukti yang disajikan adalah versi paling mutakhir dan masih relevan dengan konteks saat ini.

Tips Praktis:

  • Buat Sistem Penamaan yang “Hidup”: Gunakan format penamaan file yang konsisten dan mencantumkan tanggal. Contoh: 2024-08-20_Proposal_KlienXYZ_VersiFinal.pdf atau Q3-2024_Dashboard_Analitik_Update. Format tanggal YYYY-MM-DD membuat file otomatis terurut kronologis.

  • Terapkan Prinsip “Satu Sumber Kebenaran”: Pastikan hanya ada SATU file master yang diakui sebagai versi terbaru. Gunakan fitur cloud collaboration (seperti Google Docs) untuk dokumen yang terus diperbarui, sehingga semua orang mengakses versi yang sama.

  • Jadwalkan Pembersihan Rutin: Setiap kuartal atau semester, luangkan waktu untuk meninjau folder Anda. Arsipkan atau hapus draf yang sudah tidak perlu, dan pastikan file yang sering diakses adalah yang paling baru.

4. Memadai (Lengkap dan Cukup untuk Membuktikan)

Memadai berarti bukti yang ada sudah lengkap dan cukup kuat untuk meyakinkan orang lain tentang suatu fakta atau pencapaian. Tidak berlebihan, tetapi juga tidak kurang.

Tips Praktis:

  • Pikirkan Sudut Pandang Pihak Ketiga: Apa yang perlu dilihat oleh atasan, auditor, atau klien untuk percaya 100% pada pekerjaan Anda? Kumpulkan bukti yang menjawab pertanyaan: Apa, Siapa, Kapan, Di mana, Mengapa, dan Bagaimana.

  • Kumpulkan dalam “Paket Bukti”: Untuk setiap proyek besar, buat satu folder utama dengan sub-folder seperti: 01_Brief02_Riset Data03_Draf04_Komunikasi05_Hasil Final06_Umpan Balik/Evaluasi. Ini memastikan kelengkapan.

  • Kuantitas vs. Kualitas: 10 screenshot yang menunjukkan perkembangan sebuah desain dari awal hingga akhir lebih “memadai” daripada 100 screenshot acak yang tidak berurutan. Pilih bukti yang paling representatif dan menunjukkan progres.

Kesimpulan: VAK adalah Kebiasaan, Bukan Beban

Menyusun bukti kerja digital yang VAK bukanlah tugas administratif yang membosankan, melainkan sebuah kebiasaan profesional yang cerdas. Ia adalah investasi kecil di awal yang akan membayar dengan dividen besar berupa kepercayaan, kredibilitas, dan ketenangan pikiran.

Mulailah dari yang kecil. Pilih satu proyek yang sedang berjalan, terapkan sistem penamaan file dengan tanggal, dan buat folder “paket bukti” sederhana. Rasakan bedanya ketika Anda dengan mudah menemukan dokumen yang dibutuhkan. Secara bertahap, terapkan ke area kerja lainnya.

Di era di mana jejak digital menjadi cerminan profesionalisme kita, pastikan cermin itu menunjukkan gambaran yang jelas, terang, dan dapat dipercaya. Mulailah menyusun bukti kerja digital Anda dengan standar VAK hari ini, dan saksikan bagaimana hal ini tidak hanya melindungi, tetapi juga mengangkat nilai profesional Anda ke tingkat yang lebih tinggi. Buktikan sendiri!

Triyana

Profil Trainer

Seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI. Memiliki latar belakang keilmuan di bidang Learning & Performance Consultant, Learning Design, E-Learning Designer, CX Designer, LX Designer, dan Learning Facilitator. Selama lebih dari 6 tahun Ia dipercaya sebagai konsultan untuk perusahaan besar dan ternama di Indonesia. Tak berhenti di situ, kepiawaian beliau dalam bidang Engineer, Digital Marketing, Service Quality Assurance, dan HRD pun mampu memberikan perspektif unik dalam merancang solusi yang komprehensif dan tepat sasaran. Maka dari itu, Coach Triyana siap menjadi mitra ideal bagi Anda yang ingin mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi melalui pelatihan yang telah dirancang secara khusus.

Fauzi Noerwenda

Profil Trainer

Fauzi Noerwenda adalah seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI dan pendiri Persona Public Speaking. Dengan pengalaman dan keahliannya, Fauzi telah membantu banyak individu meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan membangun kepercayaan diri mereka. Sebagai seorang penulis, bukunya yang berjudul “Street Smart MC” menjadi panduan bagi mereka yang ingin menjadi Master of Ceremony (MC) yang handal. Kontribusinya sebagai pengurus HIPAPI Indonesia pun menunjukkan dedikasinya dalam mengembangkan profesi dan komunitas pembicara publik di Indonesia.

Trisna Lesmana

Profil Trainer

Trisna Lesmana adalah seorang Master Trainer Assessor BNSP RI. Juga Trainerpreneur yang telah membuktikan kiprahnya di dunia bisnis. Memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 2023 dengan mendirikan bisnis pelatihan “Training of Trainer BNSP Certification”, ia berhasil mencetak lebih dari 2.000+ alumni dan dipercaya oleh 200+ perusahaan dan perguruan tinggi dalam waktu kurang dari dua tahun.

Hingga saat ini, Trisna Lesmana telah menjalankan 12 bisnis lintas industri, di antaranya: Klinik Kecantikan, Skincare, Pelatihan, Konsultan, Agency, & Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Perjalanan Karier

Trisna Lesmana memulai karier sebagai Professional Corporate Trainer  dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Namanya kian dikenal saat ia menjadi salah satu dari 14 coach yang berkontribusi dalam buku “Coaching Series” (Buku Untuk Pelaku UMKM). Ia juga menulis buku keduanya, “Living Agile with NLP,” yang telah memasuki cetakan ke-4. Karya-karyanya mendapat apresiasi tinggi dari tokoh nasional dan artis ternama, seperti: Sandiaga Uno, Ariel (Noah), Merry Riana, Jamil Azzaini, Sandy Susanto, Dani Sumarsono, Dll.

Penghargaan

Pada tahun 2017, Trisna Lesmana meraih penghargaan Best Performance di event “Influence Your Audience” yang diselenggarakan oleh Akademi Trainer.

Dunia Bisnis dan Content Creation

Pada tahun 2023, ia memperluas kiprahnya ke Dunia Bisnis dan mengukuhkan dirinya sebagai Content Creator pada tahun 2024. Di bawah mentoring Deddy Corbuzier dan Coach Indrawan Nugroho melalui program Content Creator Business School, Trisna berhasil merilis konten eksklusif di Instagram pribadinya yang mendapatkan penghargaan dan liputan dari berbagai media ternama, seperti: Liputan6, Republika, Detik.com, Warta Ekonomi, Media Indonesia, Jawa Pos, dan banyak lagi.

Komitmen dan Visi

Saya bantu Business Owner agar produknya dikenal luas, diterima market, & laris dengan pendekatan Smart Business Framework (SBF).

Smart Business Framework (SBF) adalah model bisnis yang fokus optimasi pada tiga pilar; Campaign Iklan (Digital Marketing), Positioning Product, & Akuisisi Market. Telah terbukti membantu ribuan pebisnis memetakan strategi agar produknya laris di pasaran.