Pakai AI untuk Tugas Unit Kompetensi BNSP

Pakai AI untuk Tugas Unit Kompetensi BNSP

Bayangin kamu lagi ujian praktek. Di depanmu ada laptop, soal ujian, dan waktu yang terbatas. Kamu harus ngerjain tugas yang lumayan berat—mulai dari ngolah data sampai bikin laporan keuangan. Terus kamu kepikiran, “Boleh nggak sih pakai AI buat bantu-bantu?”

Pertanyaan ini sekarang lagi sering banget muncul. Apalagi buat kamu yang lagi siapin sertifikasi BNSP di bidang yang berhubungan sama teknologi. AI udah bukan barang baru lagi, dan di dunia kerja, alat ini makin sering dipakai buat ngebutin pekerjaan. Tapi gimana aturannya kalau ini menyangkut uji kompetensi? Apakah AI bisa dipakai? Kalau bisa, sejauh mana? Dan unit kompetensi mana aja yang bisa dibantu?

Di artikel ini, kita bakal bahas tuntas semua itu. Bukan cuma teori, tapi contoh konkret dan langkah-langkah praktisnya. Jadi buat kamu yang lagi bimbang, simak baik-baik.

Pahami Dulu: Posisi AI dalam Uji Kompetensi BNSP

Sebelum masuk ke teknis, kita luruskan dulu persepsinya. AI itu apa sih dalam konteks ujian sertifikasi?

Singkatnya, AI itu alat, bukan pengganti kamu. Seperti yang ditekankan oleh Rudianto, seorang asesor nasional dalam pelatihan BNSP di Universitas Nasional, “AI ini bukan barang baru, tetapi sekarang berkembang sangat pesat karena hadirnya generative AI seperti ChatGPT dan Gemini. Namun kita tetap harus menggunakan AI secara bijak, etis, dan terukur” .

Gampangnya gini: AI itu kayak kalkulator. Kamu boleh pakai kalkulator buat ngitung, tapi kamu tetap harus paham konsep matematikanya. Kalau kamu cuma bisa pencet tombol tanpa ngerti apa yang terjadi di balik layar, ya percuma.

Pesan penting dari para asesor: “AI itu seperti junior yang pintar dan kreatif, tetapi kadang bisa melakukan hal-hal yang tidak kita minta. Karena itu, setiap hasil yang diberikan AI tetap harus diperiksa dan diverifikasi kembali” . Jadi jangan pernah percaya mentah-mentah sama hasil AI.

Skema Sertifikasi BNSP yang Melibatkan AI

Nah, sertifikasi BNSP sekarang udah banyak yang punya skema khusus berbasis AI. Beberapa di antaranya :

  • Artificial Intelligent (khusus AI)

  • Data Scientist

  • Data Analyst

  • Digital Marketing

  • Content Creator

Tapi AI juga bisa dipakai di skema lain yang bukan murni tentang AI. Misalnya administrasi keuangan, pengelolaan data, atau pelayanan pelanggan .

Unit Kompetensi BNSP yang Bisa Dibantu AI

Oke, sekarang kita masuk ke bagian inti. Berikut beberapa unit kompetensi dari berbagai skema sertifikasi yang bisa kamu bantu pengerjaannya dengan AI.

1. Unit Pengolahan Data

Unit kompetensi seperti J.63OPR00.014.2 (Melakukan Pemasukan Data) dan J.63OPR00.015.2 (Memastikan Validitas Data) cocok banget dibantu AI .

Apa aja yang bisa AI lakuin?

Otomatisasi Ekstraksi Data. Misalnya kamu dapat file PDF berisi ratusan data transaksi. Daripada kamu copy-paste satu-satu, pakai AI buat ekstrak semua data itu ke spreadsheet. Tools seperti ChatGPT atau Gemini bisa bantu ini .

Normalisasi dan Perankingan. Data yang kamu punya kadang formatnya nggak seragam. AI bisa bantu normalisasi (misalnya mengubah format tanggal atau angka jadi seragam) dan perankingan (mengurutkan data berdasarkan kriteria tertentu).

Validasi Data. AI bisa bantu mendeteksi anomali atau data yang mencurigakan. Misalnya ada transaksi dengan angka yang jauh di luar rata-rata. AI bisa kasih tahu, “Eh, cek ini deh, kayaknya beda.”

2. Unit Administrasi Keuangan

Skema AI untuk administrasi keuangan punya beberapa unit kompetensi spesifik :

  • N.82ADM00.071.2 (Mempersiapkan Penyusunan Laporan Keuangan)

  • N.82ADM00.085.2 (Menyusun Laporan Keuangan)

  • N.82ADM00.072.2 (Mempersiapkan Penyusunan Laporan Pajak)

  • N.82ADM00.070.2 (Mempersiapkan Penyusunan Anggaran Tahunan)

  • N.82ADM00.084.2 (Menyusun Anggaran Tahunan)

AI bisa bantu di sini dengan cara:

Klasifikasi Dokumen Otomatis. Punya tumpukan invoice, bukti transfer, dan nota? AI bisa klasifikasi berdasarkan jenis, tanggal, atau nominalnya.

Draft Laporan Keuangan. Kasih AI data mentah transaksi, minta dia bikin draft laporan laba-rugi atau neraca. Tapi ingat, draft ini harus kamu periksa dan sesuaikan. Jangan copy-paste mentah-mentah .

Rekonsiliasi Data. AI bisa bantu mencocokkan data dari berbagai sumber untuk memastikan semua angka cocok.

3. Unit Instalasi dan Pemeliharaan Solusi AI

Ini buat kamu yang ambil skema teknis AI. Unit-unitnya seperti :

  • J.62AIN00.014.1 (Mengintegrasikan Komponen Solusi AI)

  • J.62AIN00.015.1 (Memasang Solusi AI)

  • J.62AIN00.016.1 (Merencanakan Perawatan Solusi AI)

  • J.62AIN00.017.1 (Merawat Solusi AI)

Meskipun ini unit teknis, AI tetap bisa bantu:

Troubleshooting. Kalau ada error saat instalasi, kamu bisa tanya AI untuk mendiagnosis masalahnya. Misalnya, “Kenapa library ini nggak bisa diinstall?” AI bisa kasih saran solusi.

Dokumentasi. AI bisa bantu bikin dokumentasi proses instalasi atau konfigurasi yang kamu lakukan.

Monitoring. Ada tools AI yang bisa bantu memonitor performa solusi AI yang kamu pasang, misalnya untuk deteksi anomali atau penurunan performa .

4. Unit Pengelolaan Komunikasi Pelanggan

Beberapa skema AI juga mencakup pengelolaan komunikasi dan hubungan pelanggan :

  • M.702093.007.01 (Menyusun Data Pelanggan)

  • M.702093.008.01 (Mengelola Data Pelanggan)

  • M.702093.009.01 (Menyusun Rencana Pertemuan Pelanggan)

  • M.702093.011.01 (Melayani Kebutuhan Informasi Pelanggan)

  • M.702093.012.01 (Menangani Keluhan Pelanggan)

AI bisa dipakai untuk:

Analisis Sentimen Pelanggan. Dari data chat atau survey, AI bisa mendeteksi apakah pelanggan puas, kecewa, atau netral .

Otomatisasi Respons. Buat draf balasan untuk pertanyaan atau keluhan pelanggan yang umum .

Segmentasi Pelanggan. AI bisa bantu mengelompokkan pelanggan berdasarkan karakteristik atau perilaku tertentu.

Contoh Praktis: Pakai AI Buat Tugas BNSP

Biar lebih kebayang, yuk kita lihat dua contoh skenario.

Contoh 1: Menyusun Laporan Keuangan dengan Bantuan AI

Kamu dapat tugas menyusun laporan keuangan dari data transaksi. Kamu pakai AI untuk membuat draft laporan. Tapi kamu nggak stop di situ. Kamu cek setiap angka, kamu bandingkan dengan data mentah, dan kamu revisi bagian yang kurang tepat. Di portofolio, kamu jelaskan prosesnya: “Saya menggunakan AI untuk memproses data dan membuat draft laporan. Setelah itu, saya melakukan verifikasi dan penyesuaian manual untuk memastikan akurasi.” Ini menunjukkan kamu paham teknologi dan tetap kritis .

Contoh 2: Melakukan Pemasukan Data

Kamu dapat data pengeluaran dalam bentuk PDF. Kamu pakai AI untuk ekstrak data, untuk ubah format jadi seragam, dan untuk deteksi transaksi yang aneh. Kamu dokumentasikan semua langkah ini. Asesor bisa lihat bahwa kamu nggak cuma pintar pakai AI, tapi juga paham proses pengelolaan data dari A sampai Z .

Aturan Main: 4 Hal yang Wajib Kamu Tahu

Biar aman dan nggak dicurigai curang, ikuti 4 aturan ini.

1. Jangan Jadikan AI Pengganti Kemampuan Dasar

Sertifikasi BNSP menguji kompetensi kamu, bukan kompetensi AI. Kalau kamu nggak ngerti konsep dasarnya, sertifikat yang kamu dapat nggak akan berguna di dunia kerja nyata. “Perusahaan mencari orang yang kompeten mengeksekusi solusi,” kata Elisa Nurmalita Shalma dalam analisisnya tentang tren digital 2026 . Jadi pastikan kamu paham ilmunya, dan pakai AI cuma sebagai pendukung.

2. Verifikasi Adalah Kewajiban

“Kita tetap harus menggunakan AI secara bijak, etis, dan terukur” . Setiap output AI, sekalipun terlihat meyakinkan, harus kamu periksa. AI itu tidak sempurna. Kadang dia ngasal, kadang dia salah paham instruksi. Tanggung jawab ada di pundakmu.

3. Pahami Etika Penggunaan AI

Dalam beberapa skema, etika AI menjadi bagian dari penilaian. Pastikan kamu menggunakan AI untuk hal-hal yang etis—misalnya, tidak untuk memalsukan data atau meniru pekerjaan orang lain. AI adalah alat untuk membantu, bukan untuk menipu.

4. Dokumentasikan Proses Penggunaan AI

Ini penting. Dalam portofolio atau saat wawancara, asesor akan tertarik dengan cara kamu menggunakan AI, bukan cuma hasil akhirnya. Dokumentasikan :

  • Tools AI apa yang kamu pakai

  • Prompt atau perintah apa yang kamu berikan

  • Bagaimana kamu memverifikasi output AI

  • Apa yang kamu sesuaikan atau perbaiki dari hasil AI

Tips Sukses Pakai AI Saat Uji Kompetensi

Siap-siap? Berikut tips dari para praktisi yang udah berpengalaman.

Kuasai Tools AI yang Relevan

Ada banyak tools AI. Pilih yang sesuai dengan bidangmu. Untuk digital marketing, pahami cara pakai AI untuk analisis pasar dan pembuatan konten . Untuk administrasi keuangan, pahami AI untuk klasifikasi dokumen dan otomatisasi pencatatan . Nggak perlu hafal semua tools, cukup yang relevan sama skema sertifikasimu.

Latihan Bikin Prompt yang Efektif

“Produk yang bagus belum tentu berhasil tanpa riset yang tepat. Kita harus memahami target market, tren, dan perilaku konsumen terlebih dahulu sebelum membuat konten ataupun promosi” . Ini juga berlaku untuk AI. Kamu harus paham cara ngomong sama AI. Prompt yang jelas dan spesifik menghasilkan output yang lebih akurat. Praktek bikin prompt, misalnya: “Buatkan draft laporan keuangan dari data berikut” lebih baik daripada cuma “Bantu laporan keuangan”.

Ikuti Pelatihan atau Simulasi

Kalau kamu masih ragu, ikuti pelatihan yang mempersiapkan uji kompetensi. Banyak LSP yang menawarkan program pelatihan plus sertifikasi BNSP . Di sana kamu bisa belajar langsung dari asesor dan praktisi.

Jaga Sikap Profesional

Seperti sudah disinggung sebelumnya, asesor menilai sikap kerja juga. Berpakaian rapi, bawa dokumen lengkap, jawab pertanyaan dengan jelas, dan jaga kontak mata. Ini menunjukkan kamu profesional dan siap menghadapi dunia kerja.

Penutup: AI itu Alat, Kamu adalah Bosnya

Jadi, bolehkah pakai AI untuk tugas-tugas unit kompetensi BNSP? Jawabannya: boleh, tapi dengan syarat.

AI adalah alat yang sangat powerful. Dia bisa mengotomatisasi pekerjaan yang membosankan, mempercepat analisis data, dan bahkan membantu ide kreatif. Tapi dia bukan dewa. Dia bisa salah, dia bisa menyesatkan, dan dia nggak punya tanggung jawab moral.

Kamu yang punya tanggung jawab. Kamu yang harus memverifikasi, kamu yang harus memastikan keakuratan, dan kamu yang harus menjawab jika ada yang salah.

Dengan kata lain: AI adalah asisten pintar, tapi kamu tetap bosnya. Gunakan dengan bijak, dan sertifikasi BNSP yang kamu raih akan benar-benar mencerminkan kompetensi aslimu.

Ujian BNSP, Kesalahan Konyol yang Bikin Peserta Dinyatakan BK (Belum Kompeten)

Pernah nggak sih kamu habis ujian, merasa semua jawaban sudah benar, praktik berjalan lancar, tapi hasilnya malah “Belum Kompeten saat Ujian BNSP”?

Rasanya pasti bingung campur kesal. Kok bisa? Padahal udah belajar mati-matian, udah latihan berkali-kali, tapi tetap aja gagal.

Nah, kabar buruknya: ini bukan cuma terjadi pada satu atau dua orang. Dari 45 asesi yang mengikuti uji kompetensi di salah satu LSP, 33 orang dinyatakan belum kompeten. Angka yang lumayan besar, kan?

Tapi kabar baiknya: sebagian besar kegagalan ini bukan karena peserta bodoh atau nggak bisa. Justru karena kesalahan-kesalahan kecil yang sebenarnya bisa dihindari dengan mudah. Kesalahan konyol yang sering luput dari perhatian.

Artikel ini akan membongkar tuntas 7 kesalahan sepele yang bikin banyak peserta harus mengulang ujian. Simak baik-baik, siapa tahu kamu juga tanpa sadar melakukan hal yang sama.

Kesalahan #1: Asal-asalan Saat Wawancara dengan Asesor Ujian BNSP

Ini jebakan nomor satu yang sering bikin peserta jatuh. Wawancara dengan asesor bukan sekadar obrolan santai. Ini adalah bagian penting dari proses penilaian.

Bedanya Jawaban Beneran dan Karangan

Asesor bukan cenayang, tapi mereka udah berpengalaman banget. Mereka bisa bedain mana jawaban yang berasal dari pengalaman nyata dan mana yang hasil karangan demi kelihatan pintar.

Coba bayangin: kamu ditanya tentang cara menangani klien yang komplain. Kalau kamu jawab dengan teori-teori dari buku, asesor bakal menggali lebih dalam. “Terus, bagaimana respons kliennya?” “Lalu langkah apa yang kamu ambil setelah itu?” “Apa hasil akhirnya?”

Nah, kalau kamu cuma hafal teori tanpa pengalaman, di sinilah kamu mulai ngelantur. Jawaban jadi nggak nyambung, bahkan bisa berubah-ubah. Asesor langsung tahu kalau kamu cuma mengarang.

Solusinya? Jujur saja. Kalau kamu belum pernah mengalami situasi tertentu, katakan dengan jujur. Lalu jelaskan bagaimana kamu akan menanganinya berdasarkan pengetahuan yang kamu miliki. Ini jauh lebih baik daripada memaksakan diri mengarang cerita yang nggak masuk akal.

Kesalahan #2: Menganggap SKKNI Hanya Nama Menu Restoran Korea

Coba tebak, berapa banyak peserta yang datang ke ujian tanpa pernah membaca SKKNI?

Jawabannya: banyak sekali.

SKKNI itu singkatan dari Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia. Ini semacam “kitab suci” dalam uji BNSP. Dari dokumen inilah semua pertanyaan dan kriteria penilaian berasal.

Ini “Kitab Suci” yang Wajib Dibaca

Bayangkan kamu mau ujian matematika, tapi nggak pernah baca soal-soal yang akan diujikan. Gila, kan? Tapi itulah yang dilakukan banyak peserta uji BNSP.

Mereka datang dengan percaya diri, merasa sudah punya pengalaman bertahun-tahun di bidangnya. Tapi begitu ditanya soal elemen kompetensi tertentu di SKKNI, mereka cuma bisa melongo.

Padahal SKKNI itu ibarat peta. Kalau kamu nggak tahu petanya, ya tersesatlah kamu di ujian. Asesor akan menguji berdasarkan elemen-elemen yang tertulis di SKKNI. Kalau kamu nggak paham dokumen ini, sama saja kamu masuk medan perang tanpa tahu musuh ada di mana.

Caranya gampang: Download SKKNI bidangmu dari situs BNSP atau LSP terkait. Baca, pelajari, dan pahami setiap unit kompetensi. Tandai bagian-bagian yang menurutmu sulit atau asing, lalu cari tahu lebih dalam.

Kesalahan #3: Portofolio Cuma Bawa Semangat Doang

Pernah lihat orang datang ke ujian cuma bawa tas kecil, isinya pulpen dan KTP? Lalu pas ditanya portofolio, dia bilang “Nanti saya kirim lewat WA aja ya, Pak.”

Ini bukan lelucon. Ini benar-benar terjadi.

Asesor Butuh Bukti, Bukan Omongan

Asesor nggak bisa menilai kemampuanmu cuma dari omongan. Mereka butuh bukti fisik: laporan kerja, foto kegiatan, dokumen proyek yang pernah kamu tangani, surat keterangan dari atasan, atau sertifikat pelatihan.

Bayangkan seorang mekanik datang uji kompetensi tanpa membawa satu pun bukti pekerjaannya. Asesor nanya: “Pernah nggak kamu perbaiki mesin diesel?” Dia jawab: “Pernah, Pak.” Tapi nggak ada foto, nggak ada laporan, nggak ada catatan pekerjaan.

Ya bagaimana asesor mau percaya?

Beberapa hal yang wajib ada di portofolio:

  • Foto kegiatan atau hasil kerja—pastikan jelas dan ada keterangan

  • Laporan proyek—kalau pernah menangani proyek, buat laporannya

  • Sertifikat pelatihan—ini menunjukkan komitmenmu untuk terus belajar

  • Surat keterangan dari atasan atau klien—pengakuan dari pihak ketiga sangat berbobot

Susun portofolio dengan rapi. Gunakan map atau binder. Urutkan sesuai unit kompetensi biar asesor gampang nyari. Ini kesan pertama yang akan menentukan jalannya ujian.

Kesalahan #4: Mikir Ujian Ini Cuma Formalitas

Masih ada aja nih yang mikir uji sertifikasi BNSP itu cuma formalitas. Datang, duduk, ngobrol sedikit, lalu dapat sertifikat. Gampang, kan?

Salah besar.

Ini Bukan Sekadar Duduk Manis Dapet Sertifikat

Kalau masih punya pikiran kayak gini, siap-siap aja kena realita. Asesor nggak main-main. Mereka menilai berdasarkan standar nasional yang sudah ditetapkan. Nggak ada jalur cepat atau jalur belakang.

Bahkan untuk skema sertifikasi yang terlihat “mudah” sekalipun, tetap ada proses penilaian yang ketat. Asesor akan menguji pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja secara menyeluruh.

Datang tanpa persiapan ibarat masuk ruang ujian bawa pulpen tapi lupa bawa otak. Nggak mungkin bisa.

Ujian BNSP adalah proses untuk membuktikan bahwa kamu benar-benar kompeten di bidangmu. Bukan sekadar pencarian sertifikat untuk pajangan di dinding.

Kesalahan #5: Nggak Tahu Alur dan Format Ujian

Setiap klaster atau skema sertifikasi punya alur dan format ujian yang berbeda-beda. Ada yang pakai uji tertulis, ada yang praktik langsung, ada yang observasi di tempat kerja, bahkan ada kombinasi dari semuanya.

Jangan Sampai Salah Kostum

Ini kejadian nyata: ada peserta yang datang ke ujian praktik dengan membawa catatan setebal buku. Dia kira ujiannya tertulis. Padahal jadwalnya jelas-jelas tertulis “Praktik Kerja”.

Atau kasus lain: peserta datang dengan pakaian santai ke ujian yang mengharuskan berpakaian rapi dan bersepatu safety.

Kesalahan kayak gini bikin kamu kehilangan poin penting bahkan sebelum ujian dimulai. Asesor sudah punya kesan pertama bahwa kamu nggak serius atau nggak teliti.

Solusinya: sebelum hari H, tanyakan detail format ujian ke LSP. Tanya juga tentang dress code, perlengkapan yang harus dibawa, dan durasi ujian. Dengan tahu semua ini, kamu bisa datang dengan persiapan matang dan percaya diri.

Kesalahan #6: Sama Sekali Nggak Ikut Simulasi

Ini kesalahan yang paling banyak terjadi. Peserta merasa sudah punya pengalaman lapangan, jadi nggak perlu latihan khusus. Mereka pikir ujian akan sama seperti pekerjaan sehari-hari.

Latihan Itu Penting, Bukan Pilihan

Ikut uji tanpa latihan seperti naik sepeda langsung ke tanjakan, padahal belum pernah gowes sama sekali. Bisa jatuh berkali-kali.

Simulasi penting karena beberapa alasan:

  • Kamu jadi tahu ritme dan tempo ujian

  • Kamu terbiasa dengan gaya pertanyaan asesor

  • Kamu bisa mengukur waktu yang dibutuhkan untuk setiap sesi

  • Kamu jadi tahu kelemahan yang perlu diperbaiki

Coba lakukan simulasi dengan rekan kerja atau mentor. Minta mereka jadi asesor dan beri penilaian objektif. Rekam prosesnya, lalu tonton ulang. Kamu akan kaget melihat hal-hal kecil yang sebelumnya nggak terasa: ekspresi yang kurang tepat, cara bicara yang terlalu cepat, atau gestur yang kurang profesional.

Kesalahan #7: Lalai Mengisi Asesmen Mandiri (APL-02)

Ini mungkin yang paling sepele, tapi dampaknya besar. Asesmen mandiri atau APL-02 adalah tahapan di mana peserta menilai kemampuannya sendiri sebelum ujian formal.

Jangan Asal Centang “Kompeten”

Banyak peserta yang asal centang “kompeten” di semua kolom, tanpa benar-benar yakin atau tanpa punya bukti penguasaan materi.

Kenapa ini berbahaya?

Karena asesor akan melihat APL-02-mu. Mereka akan menguji bagian-bagian yang kamu klaim “kompeten”. Kalau ternyata kamu nggak bisa menjawab atau nggak punya bukti, ini jadi bumerang buatmu sendiri.

Asesor akan berpikir: “Ini peserta ngaku kompeten, tapi pas ditanya nggak bisa. Berarti dia nggak jujur atau nggak paham betul kemampuannya.” Reputasi langsung turun di mata asesor.

Cara yang benar: isi APL-02 dengan jujur. Kalau ada unit kompetensi yang dirasa belum dikuasai, tulis “belum kompeten” di kolom itu. Ini bukan aib. Ini justru menunjukkan bahwa kamu punya kesadaran diri dan bisa dipercaya.

Kesimpulan: Hindari 7 Kesalahan Ini, Selamatkan Sertifikatmu

Gagal dalam uji kompetensi bukan karena kamu bodoh. Sebagian besar kegagalan terjadi karena kesalahan-kesalahan sepele yang sebenarnya bisa dihindari.

Dari 7 kesalahan di atas, mana yang tanpa sadar sering kamu lakukan?

  • Apakah kamu sering asal-asalan saat wawancara?

  • Apakah kamu belum pernah membaca SKKNI?

  • Apakah portofoliomu masih berantakan?

  • Atau kamu termasuk yang mikir ujian ini cuma formalitas?

Kalau jawabannya “iya” untuk satu atau beberapa poin, segera perbaiki sebelum hari H tiba.

Ingat: persiapan matang adalah kunci utama. Baca SKKNI, siapkan portofolio rapi, ikuti simulasi, dan isi APL-02 dengan jujur. Dengan begitu, peluangmu untuk lulus di percobaan pertama akan jauh lebih besar.

Copyright © 2026 Sertifikasi ToT BNSP

Triyana

Profil Trainer

Seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI. Memiliki latar belakang keilmuan di bidang Learning & Performance Consultant, Learning Design, E-Learning Designer, CX Designer, LX Designer, dan Learning Facilitator. Selama lebih dari 6 tahun Ia dipercaya sebagai konsultan untuk perusahaan besar dan ternama di Indonesia. Tak berhenti di situ, kepiawaian beliau dalam bidang Engineer, Digital Marketing, Service Quality Assurance, dan HRD pun mampu memberikan perspektif unik dalam merancang solusi yang komprehensif dan tepat sasaran. Maka dari itu, Coach Triyana siap menjadi mitra ideal bagi Anda yang ingin mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi melalui pelatihan yang telah dirancang secara khusus.

Fauzi Noerwenda

Profil Trainer

Fauzi Noerwenda adalah seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI dan pendiri Persona Public Speaking. Dengan pengalaman dan keahliannya, Fauzi telah membantu banyak individu meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan membangun kepercayaan diri mereka. Sebagai seorang penulis, bukunya yang berjudul “Street Smart MC” menjadi panduan bagi mereka yang ingin menjadi Master of Ceremony (MC) yang handal. Kontribusinya sebagai pengurus HIPAPI Indonesia pun menunjukkan dedikasinya dalam mengembangkan profesi dan komunitas pembicara publik di Indonesia.

Trisna Lesmana

Profil Trainer

Trisna Lesmana adalah seorang Master Trainer Assessor BNSP RI. Juga Trainerpreneur yang telah membuktikan kiprahnya di dunia bisnis. Memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 2023 dengan mendirikan bisnis pelatihan “Training of Trainer BNSP Certification”, ia berhasil mencetak lebih dari 2.000+ alumni dan dipercaya oleh 200+ perusahaan dan perguruan tinggi dalam waktu kurang dari dua tahun.

Hingga saat ini, Trisna Lesmana telah menjalankan 12 bisnis lintas industri, di antaranya: Klinik Kecantikan, Skincare, Pelatihan, Konsultan, Agency, & Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Perjalanan Karier

Trisna Lesmana memulai karier sebagai Professional Corporate Trainer  dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Namanya kian dikenal saat ia menjadi salah satu dari 14 coach yang berkontribusi dalam buku “Coaching Series” (Buku Untuk Pelaku UMKM). Ia juga menulis buku keduanya, “Living Agile with NLP,” yang telah memasuki cetakan ke-4. Karya-karyanya mendapat apresiasi tinggi dari tokoh nasional dan artis ternama, seperti: Sandiaga Uno, Ariel (Noah), Merry Riana, Jamil Azzaini, Sandy Susanto, Dani Sumarsono, Dll.

Penghargaan

Pada tahun 2017, Trisna Lesmana meraih penghargaan Best Performance di event “Influence Your Audience” yang diselenggarakan oleh Akademi Trainer.

Dunia Bisnis dan Content Creation

Pada tahun 2023, ia memperluas kiprahnya ke Dunia Bisnis dan mengukuhkan dirinya sebagai Content Creator pada tahun 2024. Di bawah mentoring Deddy Corbuzier dan Coach Indrawan Nugroho melalui program Content Creator Business School, Trisna berhasil merilis konten eksklusif di Instagram pribadinya yang mendapatkan penghargaan dan liputan dari berbagai media ternama, seperti: Liputan6, Republika, Detik.com, Warta Ekonomi, Media Indonesia, Jawa Pos, dan banyak lagi.

Komitmen dan Visi

Saya bantu Business Owner agar produknya dikenal luas, diterima market, & laris dengan pendekatan Smart Business Framework (SBF).

Smart Business Framework (SBF) adalah model bisnis yang fokus optimasi pada tiga pilar; Campaign Iklan (Digital Marketing), Positioning Product, & Akuisisi Market. Telah terbukti membantu ribuan pebisnis memetakan strategi agar produknya laris di pasaran.