7 Bukti Wajib di Portofolio Asesmen Trainer Level 4

Facebook
Twitter
LinkedIn
Threads

Dari sekian banyak calon peserta sertifikasi BNSP Skema Instruktur Level 4, lebih dari 60% dinyatakan Belum Kompeten (BK) di tahap asesmen portofolio. Bukan karena mereka tidak bisa mengajar. Bukan pula karena mereka tidak punya pengalaman.

Masalahnya sederhana: Mereka tidak bisa membuktikannya.

Asesor tidak punya waktu untuk mengikuti Anda mengajar selama seminggu. Mereka tidak bisa membaca pikiran Anda tentang bagaimana cara Anda menyusun modul. Yang mereka lihat hanya setumpuk dokumen yang Anda bawa di meja asesmen. Dan dalam waktu singkat, mereka harus memutuskan: apakah Anda kompeten atau tidak?

Lalu, apa yang sebenarnya dicari asesor? Seperti apa bukti yang membuat mereka langsung mengangguk setuju?

Artikel ini akan membedah 7 bukti portofolio yang wajib Anda siapkan, lengkap dengan contoh konkret untuk setiap unit kompetensi di Skema Instruktur KKNI Level 4.

Sebelum Mulai: Cara Asesor Menilai Portofolio Anda

Sebelum membahas contoh-contohnya, Anda harus paham dulu kerangka berpikir asesor. Mereka menggunakan prinsip yang disebut VERI:

Valid: Apakah bukti ini benar-benar karya Anda? Portofolio yang baik harus mencerminkan pekerjaan asli, bukan hasil menyalin dari teman atau mengambil dari internet.

Empiris: Apakah ini bukti nyata? Asesor ingin melihat bukti fisik yang menunjukkan bahwa Anda benar-benar pernah melakukan pekerjaan itu, bukan sekadar teori.

Reliabel: Apakah bukti ini konsisten? Jika Anda mengaku bisa membuat RPP, harus ada bukti RPP yang pernah Anda buat. Bukan hanya sertifikat pelatihan membuat RPP.

Integritas: Apakah Anda jujur? Kejujuran dalam menyajikan bukti adalah nilai mutlak. Asesor berpengalaman bisa dengan mudah mendeteksi dokumen palsu atau hasil rekayasa.

Dengan memahami prinsip VERI ini, Anda akan lebih mudah menentukan bukti apa saja yang perlu disiapkan. Mari kita bahas satu per satu.

Klaster 1: Merencanakan Pelatihan

Klaster ini menguji kemampuan Anda dalam merancang program pelatihan sebelum pelaksanaan. Dua unit kompetensi utama yang diuji adalah Menyusun Program Pelatihan Kerja dan Merencanakan Penyajian Materi.

1. Rencana Pembelajaran (RPP) / Lesson Plan

Unit Kompetensi Terkait: Merencanakan Penyajian Materi

Apa yang Dicari Asesor:
Asesor ingin melihat bahwa Anda mampu merancang sesi pembelajaran secara sistematis. Bukan sekadar daftar topik, tapi ada alur yang jelas dari pembukaan, penyampaian inti, hingga penutup dan evaluasi.

Contoh Bukti Fisik:
Dokumen RPP lengkap yang pernah Anda buat untuk pelatihan sebelumnya. RPP yang baik minimal memuat:

  • Tujuan pembelajaran yang spesifik dan terukur

  • Durasi waktu untuk setiap sesi

  • Metode pembelajaran yang digunakan (ceramah, diskusi, simulasi, dll)

  • Media dan alat bantu yang diperlukan

  • Cara mengevaluasi pencapaian peserta

Tips Agar Meyakinkan Asesor:
Sertakan RPP untuk topik yang berbeda-beda, misalnya satu RPP untuk pelatihan teknis dan satu lagi untuk pelatihan soft skill. Ini menunjukkan fleksibilitas Anda sebagai trainer.

Berikan catatan singkat di margin atau tempelkan sticky notes yang menjelaskan alasan Anda memilih metode tertentu. Misalnya: “Saya menggunakan studi kasus di sesi ini karena peserta perlu menganalisis masalah nyata.”

2. Bahan Ajar dan Modul

Unit Kompetensi Terkait: Menyusun Program Pelatihan Kerja

Apa yang Dicari Asesor:
Kemampuan Anda mengemas materi menjadi bahan yang siap pakai untuk peserta. Asesor ingin melihat bahwa modul buatan Anda tidak sekadar mengopi dari buku, tapi ada proses adaptasi dan pengembangan.

Contoh Bukti Fisik:
Lampirkan 1-2 bab dari modul yang pernah Anda buat sendiri. Jika modul lengkap terlalu tebal, cukup sampul dan bab yang paling mewakili gaya penulisan Anda. Pastikan modul tersebut memuat:

  • Pendahuluan yang menjelaskan manfaat modul bagi peserta

  • Materi yang terstruktur dengan sub-judul yang jelas

  • Latihan atau studi kasus

  • Rangkuman dan soal evaluasi

  • Daftar pustaka sebagai referensi

Tips Agar Meyakinkan Asesor:
Daftar pustaka sangat penting. Ini bukti bahwa Anda melakukan riset, bukan sekadar menulis berdasarkan opini pribadi. Sertakan minimal 5 referensi dari sumber kredibel.

Jika modul Anda dilengkapi dengan ilustrasi, diagram, atau infografis buatan sendiri, tunjukkan itu. Asesor akan melihat effort ekstra yang Anda berikan.

Klaster 2: Melaksanakan Pelatihan

Ini adalah klaster inti yang membuktikan bahwa Anda benar-benar pernah berdiri di depan kelas. Tanpa bukti yang kuat di klaster ini, portofolio Anda akan dianggap lemah.

3. Dokumentasi Foto dan Video Proses Mengajar

Unit Kompetensi Terkait: Melaksanakan Pelatihan Tatap Muka

Apa yang Dicari Asesor:
Bukti visual bahwa Anda benar-benar pernah melakukan tugas sebagai trainer. Foto dan video adalah bukti empiris yang paling sulit dipalsukan.

Contoh Bukti Fisik:
Cetak foto-foto berkualitas saat Anda sedang mengajar. Bukan sekadar foto berdiri di depan kelas dengan tangan bersedekap. Foto-foto yang ideal:

  • Foto sedang berinteraksi dengan peserta (bukan ceramah satu arah)

  • Foto sedang menggunakan media pembelajaran seperti flipchart, whiteboard, atau proyektor

  • Foto sedang memfasilitasi diskusi kelompok

  • Foto close-up saat Anda menjelaskan materi dengan alat bantu

Untuk video, unggah ke YouTube dengan pengaturan “Unlisted” (tidak publik) agar asesor bisa mengaksesnya tanpa harus mengunduh. Durasi ideal 5-10 menit yang menunjukkan:

  • Pembukaan yang menarik perhatian peserta

  • Penyampaian materi dengan metode bervariasi

  • Cara Anda menangani pertanyaan dari peserta

  • Penutup yang merangkum poin-poin penting

Tips Agar Meyakinkan Asesor:
Jangan hanya mengandalkan foto-foto. Video jauh lebih powerful karena asesor bisa melihat gaya bicara, bahasa tubuh, dan kemampuan Anda mengelola kelas.

Beri keterangan singkat di setiap foto. Misalnya: “Foto ini diambil saat pelatihan Kepemimpinan untuk 20 supervisor di PT ABC, 15 Januari 2024. Saya sedang memfasilitasi diskusi kelompok tentang pengambilan keputusan.”

4. Daftar Hadir Peserta

Unit Kompetensi Terkait: Melaksanakan Pelatihan Tatap Muka dan Menerapkan K3

Apa yang Dicari Asesor:
Daftar hadir adalah bukti administratif bahwa pelatihan benar-benar terjadi. Ini juga menunjukkan kredibilitas penyelenggaraan pelatihan.

Contoh Bukti Fisik:
Fotokopi atau scan daftar hadir peserta yang sudah ditandatangani. Daftar hadir yang baik biasanya memuat:

  • Logo atau kop surat institusi penyelenggara

  • Judul pelatihan dan tanggal pelaksanaan

  • Nama lengkap peserta dan tanda tangan

  • Nama trainer dan tanda tangan (jika ada kolomnya)

Tips Agar Meyakinkan Asesor:
Jika memungkinkan, sertakan daftar hadir dari beberapa pelatihan berbeda dengan jumlah peserta yang bervariasi. Ini menunjukkan pengalaman Anda tidak hanya sekali atau dua kali.

Untuk pelatihan in-house perusahaan, daftar hadir biasanya dilengkapi stempel perusahaan. Ini nilai plus karena menunjukkan pengakuan dari institusi resmi.

5. Sertifikat Peserta atau Dokumentasi Lainnya

Unit Kompetensi Terkait: Melaksanakan Pelatihan Berbasis Kompetensi

Apa yang Dicari Asesor:
Selain daftar hadir, asesor ingin melihat output dari pelatihan yang Anda lakukan. Apakah peserta benar-benar menyelesaikan pelatihan? Apakah ada bukti bahwa mereka mendapatkan sesuatu?

Contoh Bukti Fisik:

  • Contoh sertifikat yang diberikan kepada peserta (boleh dihapus namanya untuk privasi)

  • Foto peserta memegang sertifikat setelah pelatihan

  • Dokumentasi penutupan pelatihan

  • Dokumentasi pemberian penghargaan kepada peserta terbaik

Tips Agar Meyakinkan Asesor:
Jika Anda memiliki dokumentasi pelatihan yang melibatkan pejabat atau tokoh penting, sertakan. Misalnya foto penyerahan sertifikat oleh direktur perusahaan atau kepala dinas. Ini secara tidak langsung menunjukkan kualitas pelatihan yang Anda selenggarakan.

Klaster 3: Mengevaluasi Pelatihan

Setelah melaksanakan pelatihan, langkah berikutnya adalah mengevaluasi. Banyak trainer lupa mendokumentasikan tahap ini, padahal asesor sangat memperhatikannya.

6. Contoh Hasil Evaluasi Peserta

Unit Kompetensi Terkait: Menilai Kemajuan Kompetensi Peserta

Apa yang Dicari Asesor:
Asesor ingin melihat bahwa Anda tidak sekadar mengajar lalu selesai. Anda melakukan pengukuran terhadap pemahaman peserta dan menggunakan hasilnya untuk perbaikan.

Contoh Bukti Fisik:

  • Foto atau scan lembar jawaban pre-test dan post-test peserta (nama boleh dihapus)

  • Rekapitulasi nilai peserta dalam bentuk tabel atau grafik

  • Contoh lembar observasi saat peserta praktik

  • Catatan evaluasi individu untuk setiap peserta

Tips Agar Meyakinkan Asesor:
Tunjukkan ada peningkatan nilai dari pre-test ke post-test. Ini bukti bahwa pelatihan Anda efektif. Jika memungkinkan, sertakan analisis singkat: “Rata-rata nilai pre-test 60, post-test 85. Peningkatan signifikan terjadi pada materi komunikasi efektif.”

Untuk pelatihan keterampilan (bukan pengetahuan), lampirkan lembar observasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan praktik peserta.

7. Lembar Evaluasi Pelatihan dari Peserta

Unit Kompetensi Terkait: Merencanakan Evaluasi Hasil Pembelajaran

Apa yang Dicari Asesor:
Evaluasi dari perspektif peserta adalah umpan balik berharga. Asesor ingin melihat bahwa Anda terbuka terhadap kritik dan menggunakannya untuk meningkatkan kualitas pelatihan berikutnya.

Contoh Bukti Fisik:

  • Contoh formulir evaluasi yang Anda bagikan ke peserta (format kosong)

  • Rekapitulasi hasil evaluasi (misalnya skor rata-rata untuk berbagai aspek: materi, penyampaian, fasilitas)

  • Contoh komentar atau testimoni dari peserta (boleh anonim)

  • Foto peserta sedang mengisi formulir evaluasi

Tips Agar Meyakinkan Asesor:
Tunjukkan bahwa Anda melakukan tindak lanjut atas evaluasi. Misalnya, jika di evaluasi sebelumnya peserta mengeluhkan kurangnya studi kasus, di pelatihan berikutnya Anda menambahkan lebih banyak studi kasus. Catat ini dalam portofolio Anda.

Testimoni positif dari peserta yang ditulis tangan atau dikirim via email juga bisa menjadi bukti pendukung yang kuat.

Klaster 4: Kompetensi Pendukung (Asesmen)

Trainer Level 4 tidak hanya dituntut mampu melatih, tapi juga mampu melakukan asesmen. Ini sesuai dengan prinsip pelatihan berbasis kompetensi.

8. Checklist Asesmen dan Instrumen Penilaian

Unit Kompetensi Terkait: Melakukan Asesmen Berbasis Kompetensi

Apa yang Dicari Asesor:
Asesor ingin bukti bahwa Anda memahami proses asesmen, baik sebagai asesor internal maupun sebagai trainer yang menilai peserta didik.

Contoh Bukti Fisik:

  • Checklist asesmen yang pernah Anda gunakan untuk menilai peserta praktik

  • Instrumen penilaian yang Anda kembangkan sendiri

  • Laporan hasil asesmen yang pernah Anda buat

  • Dokumentasi saat Anda melakukan asesmen (foto sedang mengamati peserta ujian praktik)

Tips Agar Meyakinkan Asesor:
Jelaskan konteks asesmen yang Anda lakukan. Apakah Anda menjadi asesor internal di lembaga pelatihan? Atau Anda diminta perusahaan untuk menilai karyawan? Atau Anda terlibat dalam uji kompetensi di LSP?

Semakin jelas konteksnya, semakin mudah asesor menilai pengalaman Anda.

9. Sertifikat Pendukung dan Pengakuan Profesi

Unit Kompetensi Terkait: Semua unit (sebagai pendukung)

Apa yang Dicari Asesor:
Sertifikat bukan bukti utama, tapi bisa menjadi pendukung yang memperkuat portofolio Anda. Asesor ingin melihat bahwa Anda terus mengembangkan diri.

Contoh Bukti Fisik:

  • Sertifikat pelatihan yang relevan dengan bidang Anda (misal: Sertifikat Trainers Training, Sertifikat Asesor Kompetensi)

  • Sertifikat keahlian teknis yang mendukung materi pelatihan Anda

  • Penghargaan dari institusi atau perusahaan

  • Surat keterangan pengalaman kerja dari perusahaan atau lembaga tempat Anda bertugas

Tips Agar Meyakinkan Asesor:
Susun sertifikat secara kronologis agar terlihat perkembangan karir Anda. Beri penjelasan singkat untuk setiap sertifikat: apa yang Anda pelajari dan bagaimana penerapannya dalam pekerjaan Anda sebagai trainer.

Checklist Portofolio Anti-Tolak

Sebelum menemui asesor, pastikan semua dokumen di bawah ini sudah Anda siapkan. Cetak daftar ini dan centang satu per satu:

Dokumen Utama (Wajib Ada)

  • Rencana Pembelajaran / RPP (minimal 2 topik berbeda)

  • Modul atau bahan ajar (minimal 1 bab lengkap)

  • Foto dokumentasi mengajar (minimal 5 foto dengan aktivitas berbeda)

  • Video microteaching atau rekaman mengajar (link YouTube unlisted)

  • Daftar hadir peserta (dari minimal 2 pelatihan berbeda)

  • Contoh hasil evaluasi peserta (pre-test/post-test atau lembar observasi)

  • Lembar evaluasi pelatihan dari peserta (format kosong + hasil rekapitulasi)

Dokumen Pendukung (Semakin Lengkap Semakin Baik)

  • Sertifikat pelatihan yang relevan

  • Surat keterangan pengalaman kerja

  • Testimoni peserta atau klien

  • Instrumen asesmen yang pernah dikembangkan

  • Dokumentasi penutupan pelatihan (foto bersama, sertifikat peserta)

  • Daftar pustaka atau referensi yang digunakan dalam modul

  • Struktur program pelatihan (training outline)

Format Penyajian yang Disarankan

  • Gunakan binder atau map dengan pembatas per klaster

  • Beri label jelas pada setiap dokumen

  • Sertakan daftar isi di halaman depan

  • Gunakan plastik transparan untuk melindungi dokumen penting

  • Siapkan salinan digital dalam flashdisk sebagai cadangan

Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari

Berdasarkan pengalaman para asesor, berikut kesalahan umum yang membuat peserta gagal di tahap portofolio:

1. Portofolio Tidak Sesuai Skema
Banyak peserta memasukkan dokumen yang tidak relevan dengan Skema Instruktur Level 4. Misalnya, sertifikat seminar motivasi atau piagam penghargaan olahraga. Ini hanya membuat portofolio Anda terlihat tidak fokus.

2. Dokumen Tidak Jelas
Fotokopi buram, foto gelap, atau dokumen terlipat dan kusam membuat asesor malas membaca. Pastikan semua dokumen jelas dan rapi.

3. Klaim Tanpa Bukti
“Anda mengerti andragogi” tapi tidak ada RPP yang mencerminkan pendekatan orang dewasa. “Anda bisa membuat modul” tapi tidak ada contoh modul. Asesor hanya percaya bukti, bukan klaim.

4. Portofolio Milik Orang Lain
Ini dosa terbesar. Asesor berpengalaman bisa dengan mudah mendeteksi portofolio hasil jiplakan. Gaya penulisan, format dokumen, bahkan tanda tangan bisa menjadi petunjuk. Jika ketahuan, Anda tidak hanya gagal, tapi bisa masuk daftar hitam.

5. Terlalu Banyak Teori, Minim Bukti Nyata
Portofolio setebal 100 halaman berisi fotokopi buku dan print out artikel internet tidak akan membantu. Asesor ingin melihat bukti pekerjaan Anda, bukan koleksi bacaan Anda.

Contoh Kasus: Perbandingan Portofolio Lolos vs Gagal

Agar lebih jelas, mari kita lihat perbandingan dua portofolio hipotetis:

Portofolio A (Tidak Lolos):

  • 50 halaman berisi print out materi pelatihan dari internet

  • Sertifikat pelatihan online tanpa praktik

  • Foto diri sendiri (bukan sedang mengajar)

  • Surat lamaran kerja sebagai trainer

  • Daftar bacaan tentang andragogi

Hasil Asesmen: Belum Kompeten. Asesor mencatat: “Tidak ada bukti pelaksanaan pelatihan, dokumen bukan hasil karya sendiri, tidak memenuhi elemen VERI.”

Portofolio B (Lolos Kompeten):

  • 3 RPP buatan sendiri untuk topik berbeda

  • Modul pelatihan lengkap dengan daftar pustaka

  • 10 foto dokumentasi mengajar dengan keterangan

  • Link video microteaching 10 menit

  • Daftar hadir peserta dari 3 pelatihan berbeda

  • Rekapitulasi hasil evaluasi peserta

  • Formulir evaluasi yang sudah diisi peserta

  • Sertifikat pendukung dan surat keterangan pengalaman

Hasil Asesmen: Kompeten. Asesor mencatat: “Bukti lengkap, valid, dan empiris. Peserta menunjukkan konsistensi antara klaim dan dokumen yang disajikan.”

Tanya Jawab Seputar Portofolio Trainer Level 4

Q: Apakah portofolio harus dijilid rapi?
A: Tidak harus dijilid permanen. Map atau binder lebih disarankan karena memudahkan asesor mengambil dan memeriksa dokumen satu per satu. Yang penting rapi, bersih, dan mudah dibaca.

Q: Berapa tebal portofolio ideal?
A: Tidak ada ukuran pasti. Yang terpenting adalah kualitas dan relevansi, bukan kuantitas. Portofolio 30-40 halaman dengan bukti kuat lebih baik daripada 100 halaman berisi materi umum.

Q: Apakah dokumen digital diterima?
A: Sebagian LSP masih mengharuskan portofolio fisik. Namun, tidak ada salahnya menyiapkan salinan digital di flashdisk atau laptop sebagai cadangan. Untuk video, cukup berikan tautan atau QR code.

Q: Bagaimana jika saya belum punya pengalaman mengajar formal?
A: Pengalaman mengajar informal seperti memberikan pelatihan internal di kantor, menjadi mentor, atau mengajar di komunitas tetap bisa dijadikan bukti. Yang penting ada dokumentasinya.

Q: Apakah semua bukti harus asli atau cukup fotokopi?
A: Fotokopi diperbolehkan, tapi bawa dokumen asli untuk diperlihatkan jika asesor meminta verifikasi. Ini menunjukkan integritas Anda.

Kesimpulan dan Langkah Selanjutnya

Portofolio asesmen Trainer Level 4 adalah cerminan perjalanan profesional Anda. Bukan sekadar kumpulan dokumen, tapi bukti nyata bahwa Anda memiliki kompetensi yang dipersyaratkan.

Ingat tiga prinsip ini:

  1. Buktikan, jangan klaim. Setiap kata di lembar sertifikasi harus didukung bukti fisik.

  2. Kualitas lebih penting dari kuantitas. Pilih bukti terbaik yang paling mewakili kemampuan Anda.

  3. Sistematis dan rapi. Portofolio yang terorganisir memudahkan asesor menilai dan meningkatkan peluang Anda dinyatakan kompeten.

Mulai kumpulkan bukti-bukti di atas dari sekarang. Jangan menunggu sampai H-1 minggu sebelum asesmen. Semakin lama Anda mengumpulkan, semakin lengkap dan bervariasi bukti yang bisa Anda sajikan.

MORE INSIGHT

sertifikasi-trainer_Trisna-Lesmana-management-LOGO

Copyright © 2023 by Trisnalesmana.com

Triyana

Profil Trainer

Seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI. Memiliki latar belakang keilmuan di bidang Learning & Performance Consultant, Learning Design, E-Learning Designer, CX Designer, LX Designer, dan Learning Facilitator. Selama lebih dari 6 tahun Ia dipercaya sebagai konsultan untuk perusahaan besar dan ternama di Indonesia. Tak berhenti di situ, kepiawaian beliau dalam bidang Engineer, Digital Marketing, Service Quality Assurance, dan HRD pun mampu memberikan perspektif unik dalam merancang solusi yang komprehensif dan tepat sasaran. Maka dari itu, Coach Triyana siap menjadi mitra ideal bagi Anda yang ingin mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi melalui pelatihan yang telah dirancang secara khusus.

Fauzi Noerwenda

Profil Trainer

Fauzi Noerwenda adalah seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI dan pendiri Persona Public Speaking. Dengan pengalaman dan keahliannya, Fauzi telah membantu banyak individu meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan membangun kepercayaan diri mereka. Sebagai seorang penulis, bukunya yang berjudul “Street Smart MC” menjadi panduan bagi mereka yang ingin menjadi Master of Ceremony (MC) yang handal. Kontribusinya sebagai pengurus HIPAPI Indonesia pun menunjukkan dedikasinya dalam mengembangkan profesi dan komunitas pembicara publik di Indonesia.

Trisna Lesmana

Profil Trainer

Trisna Lesmana adalah seorang Master Trainer Assessor BNSP RI. Juga Trainerpreneur yang telah membuktikan kiprahnya di dunia bisnis. Memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 2023 dengan mendirikan bisnis pelatihan “Training of Trainer BNSP Certification”, ia berhasil mencetak lebih dari 2.000+ alumni dan dipercaya oleh 200+ perusahaan dan perguruan tinggi dalam waktu kurang dari dua tahun.

Hingga saat ini, Trisna Lesmana telah menjalankan 12 bisnis lintas industri, di antaranya: Klinik Kecantikan, Skincare, Pelatihan, Konsultan, Agency, & Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Perjalanan Karier

Trisna Lesmana memulai karier sebagai Professional Corporate Trainer  dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Namanya kian dikenal saat ia menjadi salah satu dari 14 coach yang berkontribusi dalam buku “Coaching Series” (Buku Untuk Pelaku UMKM). Ia juga menulis buku keduanya, “Living Agile with NLP,” yang telah memasuki cetakan ke-4. Karya-karyanya mendapat apresiasi tinggi dari tokoh nasional dan artis ternama, seperti: Sandiaga Uno, Ariel (Noah), Merry Riana, Jamil Azzaini, Sandy Susanto, Dani Sumarsono, Dll.

Penghargaan

Pada tahun 2017, Trisna Lesmana meraih penghargaan Best Performance di event “Influence Your Audience” yang diselenggarakan oleh Akademi Trainer.

Dunia Bisnis dan Content Creation

Pada tahun 2023, ia memperluas kiprahnya ke Dunia Bisnis dan mengukuhkan dirinya sebagai Content Creator pada tahun 2024. Di bawah mentoring Deddy Corbuzier dan Coach Indrawan Nugroho melalui program Content Creator Business School, Trisna berhasil merilis konten eksklusif di Instagram pribadinya yang mendapatkan penghargaan dan liputan dari berbagai media ternama, seperti: Liputan6, Republika, Detik.com, Warta Ekonomi, Media Indonesia, Jawa Pos, dan banyak lagi.

Komitmen dan Visi

Saya bantu Business Owner agar produknya dikenal luas, diterima market, & laris dengan pendekatan Smart Business Framework (SBF).

Smart Business Framework (SBF) adalah model bisnis yang fokus optimasi pada tiga pilar; Campaign Iklan (Digital Marketing), Positioning Product, & Akuisisi Market. Telah terbukti membantu ribuan pebisnis memetakan strategi agar produknya laris di pasaran.