Ancaman Pencabutan Lisensi LPK yang Harus Diwaspadai Master Trainer

Facebook
Twitter
LinkedIn
Threads

Dalam dunia pendidikan dan pelatihan, pemantauan mutu bukanlah sekadar formalitas atau laporan bulanan yang hanya menjadi pajangan di rak. Ini adalah jantung yang menjaga organisasi tetap hidup dan berkembang. Namun sayangnya, banyak Master Trainer yang lengah. Mereka menganggap bahwa setelah menyusun kurikulum dan melatih para instruktur, tugas mereka sudah selesai.

Padahal, risiko pencabutan lisensi mengintai seperti pisau bermata dua. Dan ketika itu terjadi, semua kerja keras membangun lembaga bisa runtuh dalam sekejap.

Memahami Pemantauan Mutu dalam Konteks LPK

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang risikonya, mari pahami dulu apa sebenarnya pemantuan mutu itu. Dalam konteks LPK, pemantauan mutu adalah proses berkelanjutan untuk memastikan bahwa setiap program pelatihan yang diselenggarakan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Cakupannya luas, mulai dari:

  • Kualitas pengajaran: Apakah para instruktur menyampaikan materi dengan baik?

  • Kurikulum: Apakah materi yang diajarkan masih relevan dengan kebutuhan industri?

  • Sarana prasarana: Apakah fasilitas pelatihan masih layak dan mendukung proses belajar?

  • Kepuasan peserta: Apakah para peserta merasa mendapatkan manfaat setelah mengikuti pelatihan?

  • Output dan outcome: Apakah lulusan LPK benar-benar siap kerja atau mampu membuka lapangan kerja?

Pemantauan mutu ini idealnya dilakukan secara rutin, tidak hanya saat menjelang akreditasi atau audit dari lembaga pemerintah seperti Kementerian Ketenagakerjaan. Sebab, konsistensi adalah kunci utama.

Dampak Fatal Jika Master Trainer Lalai

Apa jadinya jika seorang Master Trainer mengabaikan pemantauan mutu? Berikut adalah beberapa risiko yang mengintai:

1. Penurunan Kualitas Pelatihan Secara Perlahan

Tanpa pemantauan, kualitas pelatihan akan menurun seperti air mengalir ke tempat yang lebih rendah. Mungkin awalnya tidak terasa, tapi lambat laun akan terlihat.

Para instruktur mungkin mulai mengambil jalan pintas. Materi yang seharusnya disampaikan secara utuh menjadi terpotong. Metode pengajaran yang interaktif berubah menjadi ceramah satu arah yang membosankan. Absensi mulai longgar. Waktu pelatihan yang seharusnya 200 jam pelajaran, diam-diam dikurangi.

Saya pernah mendengar kasus nyata di sebuah LPK di Jawa Timur. Awalnya, lembaga ini terkenal dengan lulusan berkualitas. Tapi karena Master Trainernya sibuk dengan proyek di luar, ia jarang memantau. Setahun kemudian, keluhan dari pengguna lulusan mulai berdatangan. “Lulusan LPK ini sekarang kemampuannya biasa saja,” kata salah satu HRD perusahaan. Dalam dua tahun, lembaga itu kehilangan kepercayaan dari mitra industri.

2. Keluhan Peserta Meningkat, Reputasi Tercoreng

Peserta pelatihan adalah konsumen yang membayar. Mereka datang dengan harapan mendapatkan ilmu dan keterampilan yang bermanfaat. Jika harapan itu tidak terpenuhi, mereka akan protes.

Pada awalnya mungkin hanya bisik-bisik di antara peserta. Lalu berlanjut menjadi keluhan di media sosial, review negatif di Google Maps, hingga laporan resmi ke dinas terkait. Reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa hancur dalam semalam karena ulasan negatif yang viral.

Di era digital seperti sekarang, reputasi adalah segalanya. Calon peserta akan mencari ulasan sebelum mendaftar. Jika mereka menemukan banyak keluhan, mereka akan berpikir ulang untuk bergabung. Akibatnya, pendaftaran menurun drastis.

3. Pelanggaran Administratif yang Berujung Sanksi

Pemantauan mutu juga mencakup aspek administratif. Tanpa pemantauan rutin, dokumen-dokumen penting bisa terlewat. Misalnya:

  • Izin operasional yang habis masa berlaku

  • Laporan penyelenggaraan pelatihan yang tidak dikirim ke dinas

  • Sertifikat peserta yang tidak tercatat dengan baik

  • Data instruktur yang tidak diperbarui

Ketika tim asesor atau pengawas dari Kementerian datang untuk audit mendadak, semua kekurangan ini akan terbongkar. Awalnya mungkin hanya teguran lisan, lalu peringatan tertulis, dan jika terus diabaikan, risiko pencabutan lisensi menjadi sangat nyata.

4. Ketidaksesuaian dengan Standar BNSP

LPK yang baik biasanya bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk melakukan uji kompetensi bagi peserta. Jika proses pelatihan tidak dimonitor dengan baik, besar kemungkinan peserta tidak siap menghadapi uji kompetensi.

Tingkat kelulusan yang rendah akan menjadi pertanyaan besar. Apakah kurikulumnya yang salah? Instrukturnya yang kurang mampu? Atau peserta yang tidak serius? Tanpa data pemantauan mutu, semua hanya menjadi spekulasi.

Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) memiliki standar ketat. Jika LPK terus-menerus menghasilkan lulusan dengan kompetensi di bawah standar, kerja sama dengan LSP bisa diputus, dan ini lagi-lagi berujung pada pencabutan izin.

5. Pencabutan Lisensi: Akhir dari Perjalanan

Inilah puncak dari semua kelalaian. Pencabutan lisensi bukan sekadar tidak bisa beroperasi sementara. Ini adalah vonis mati bagi sebuah LPK. Semua investasi yang ditanamkan, semua kerja keras membangun nama, semua mimpi mencetak tenaga kerja terampil, sirna begitu saja.

Pihak berwenang tidak akan segan-segan mencabut izin LPK yang terbukti tidak menjalankan standar mutu dengan baik. Alasannya sederhana: mereka bertanggung jawab pada masyarakat. LPK yang tidak bermutu hanya akan menghasilkan tenaga kerja setengah matang yang justru menyulitkan industri.

Tips Praktis untuk Master Trainer

Agar terhindar dari risiko di atas, berikut beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan:

1. Buat Jadwal Pemantauan Rutin

Jangan menunggu masalah muncul baru bertindak. Buatlah jadwal pemantauan bulanan atau bahkan mingguan. Tandai di kalender dan anggap ini sebagai prioritas yang tidak bisa diganggu gugat.

2. Gunakan Checklist Sederhana

Buat daftar hal-hal yang perlu dicek, misalnya:

  • Apakah instruktur hadir tepat waktu?

  • Apakah peserta aktif bertanya?

  • Apakah modul digunakan dengan baik?

  • Apakah ruangan bersih dan nyaman?

Dengan checklist, pemantauan menjadi lebih terstruktur dan tidak ada yang terlewat.

3. Libatkan Peserta dalam Evaluasi

Bagikan kuesioner di setiap akhir sesi atau akhir program. Tanyakan apa yang mereka suka dan tidak suka. Terkadang, peserta adalah sumber informasi terbaik tentang apa yang sebenarnya terjadi di kelas.

4. Rekam atau Dokumentasi Kegiatan

Di era digital, sangat mudah merekam proses pelatihan. Tidak perlu yang profesional, cukup dengan ponsel. Dokumentasi ini berguna untuk melihat kembali apa yang sebenarnya terjadi, sekaligus menjadi bukti jika suatu saat diperlukan.

5. Lakukan Rapat Evaluasi Berkala

Kumpulkan semua instruktur dan staf secara rutin. Diskusikan temuan-temuan dari pemantauan. Cari solusi bersama. Dengan melibatkan semua pihak, mereka akan merasa memiliki tanggung jawab yang sama terhadap mutu.

6. Jalin Komunikasi dengan Alumni

Lacak para lulusan, ke mana mereka bekerja, apakah ilmu yang didapat bermanfaat. Umpan balik dari dunia kerja adalah indikator mutu yang paling valid.

Kesimpulan: Pemantauan Mutu Bukan Opsi, Tapi Kewajiban

Menjadi Master Trainer bukan sekadar gelar kebanggaan, tapi amanah besar. Anda adalah garda terdepan yang memastikan bahwa setiap peserta pelatihan mendapatkan haknya: pendidikan dan keterampilan berkualitas. Dan satu-satunya cara memastikan itu adalah melalui pemantauan mutu yang konsisten.

Jangan biarkan kelengahan sesaat menghancurkan apa yang telah dibangun bertahun-tahun. Jangan biarkan risiko pencabutan lisensi menjadi kenyataan karena hal sepele yang sebenarnya bisa dicegah.

Mulai sekarang, jadikan pemantauan mutu sebagai ritual yang tidak bisa ditawar. Libatkan tim Anda, dengarkan peserta, dan teruslah belajar. Karena pada akhirnya, kualitas adalah satu-satunya jaminan bahwa LPK Anda akan tetap dipercaya dan terus berkembang.

Ingatlah selalu: mutu bukan destinasi, tapi perjalanan panjang yang harus ditempuh setiap hari. Selamat memantau, selamat berkarya, dan semoga LPK Anda semakin jaya!

MORE INSIGHT

sertifikasi-trainer_Trisna-Lesmana-management-LOGO

Copyright © 2023 by Trisnalesmana.com

Triyana

Profil Trainer

Seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI. Memiliki latar belakang keilmuan di bidang Learning & Performance Consultant, Learning Design, E-Learning Designer, CX Designer, LX Designer, dan Learning Facilitator. Selama lebih dari 6 tahun Ia dipercaya sebagai konsultan untuk perusahaan besar dan ternama di Indonesia. Tak berhenti di situ, kepiawaian beliau dalam bidang Engineer, Digital Marketing, Service Quality Assurance, dan HRD pun mampu memberikan perspektif unik dalam merancang solusi yang komprehensif dan tepat sasaran. Maka dari itu, Coach Triyana siap menjadi mitra ideal bagi Anda yang ingin mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi melalui pelatihan yang telah dirancang secara khusus.

Fauzi Noerwenda

Profil Trainer

Fauzi Noerwenda adalah seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI dan pendiri Persona Public Speaking. Dengan pengalaman dan keahliannya, Fauzi telah membantu banyak individu meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan membangun kepercayaan diri mereka. Sebagai seorang penulis, bukunya yang berjudul “Street Smart MC” menjadi panduan bagi mereka yang ingin menjadi Master of Ceremony (MC) yang handal. Kontribusinya sebagai pengurus HIPAPI Indonesia pun menunjukkan dedikasinya dalam mengembangkan profesi dan komunitas pembicara publik di Indonesia.

Trisna Lesmana

Profil Trainer

Trisna Lesmana adalah seorang Master Trainer Assessor BNSP RI. Juga Trainerpreneur yang telah membuktikan kiprahnya di dunia bisnis. Memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 2023 dengan mendirikan bisnis pelatihan “Training of Trainer BNSP Certification”, ia berhasil mencetak lebih dari 2.000+ alumni dan dipercaya oleh 200+ perusahaan dan perguruan tinggi dalam waktu kurang dari dua tahun.

Hingga saat ini, Trisna Lesmana telah menjalankan 12 bisnis lintas industri, di antaranya: Klinik Kecantikan, Skincare, Pelatihan, Konsultan, Agency, & Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Perjalanan Karier

Trisna Lesmana memulai karier sebagai Professional Corporate Trainer  dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Namanya kian dikenal saat ia menjadi salah satu dari 14 coach yang berkontribusi dalam buku “Coaching Series” (Buku Untuk Pelaku UMKM). Ia juga menulis buku keduanya, “Living Agile with NLP,” yang telah memasuki cetakan ke-4. Karya-karyanya mendapat apresiasi tinggi dari tokoh nasional dan artis ternama, seperti: Sandiaga Uno, Ariel (Noah), Merry Riana, Jamil Azzaini, Sandy Susanto, Dani Sumarsono, Dll.

Penghargaan

Pada tahun 2017, Trisna Lesmana meraih penghargaan Best Performance di event “Influence Your Audience” yang diselenggarakan oleh Akademi Trainer.

Dunia Bisnis dan Content Creation

Pada tahun 2023, ia memperluas kiprahnya ke Dunia Bisnis dan mengukuhkan dirinya sebagai Content Creator pada tahun 2024. Di bawah mentoring Deddy Corbuzier dan Coach Indrawan Nugroho melalui program Content Creator Business School, Trisna berhasil merilis konten eksklusif di Instagram pribadinya yang mendapatkan penghargaan dan liputan dari berbagai media ternama, seperti: Liputan6, Republika, Detik.com, Warta Ekonomi, Media Indonesia, Jawa Pos, dan banyak lagi.

Komitmen dan Visi

Saya bantu Business Owner agar produknya dikenal luas, diterima market, & laris dengan pendekatan Smart Business Framework (SBF).

Smart Business Framework (SBF) adalah model bisnis yang fokus optimasi pada tiga pilar; Campaign Iklan (Digital Marketing), Positioning Product, & Akuisisi Market. Telah terbukti membantu ribuan pebisnis memetakan strategi agar produknya laris di pasaran.