Optimalisasi Kompetensi Melalui Pelatihan Training of Trainer (ToT) BNSP Tata Tatap Muka

Optimalisasi Kompetensi Melalui Pelatihan Training of Trainer (ToT) BNSP Tata Tatap Muka

Optimalisasi Kompetensi – Pelatihan ToT online sedang naik daun. Praktis. Tidak perlu keluar kota. Bisa sambil kerja. Biaya lebih murah. Semua terdengar sempurna di atas kertas.

Tapi tunggu dulu.

Pernah ikut pelatihan online, lalu setelah selesai merasa ada yang kurang? Seperti ada bagian penting yang tidak tersampaikan. Seperti belum benar-benar berani mencoba. Seperti ilmu yang didapat terasa setengah-setengah.

Itu bukan karena Anda tidak serius. Bukan karena materi pelatihannya jelek. Tapi karena ada batasan alami dari pelatihan jarak jauh yang tidak bisa dipaksakan. Layar monitor setipis apapun tetap bukan pengganti kehadiran fisik.

ToT BNSP dengan format tatap muka menawarkan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apapun. Bukan karena ketinggalan zaman. Tapi karena menjadi trainer itu soal keberanian berdiri di depan kelas, membaca bahasa tubuh peserta, dan merespon secara spontan. Hal-hal yang tidak bisa dilatih sepenuhnya lewat layar.

Artikel ini akan membahas mengapa format tatap muka masih menjadi pilihan terbaik untuk optimalisasi kompetensi, plus langkah-langkah memaksimalkan hasil dari pelatihan tersebut.

Kenapa Tatap Muka Bisa Lebih Optimal untuk ToT BNSP?

Sebelum masuk ke strategi, pahami dulu keunggulan bawaan dari pelatihan tatap muka. Bukan soal sombong atau anti-kemajuan. Tapi soal kecocokan antara metode dan tujuan.

Praktik langsung di depan orang sungguhan

Menjadi trainer itu beda dengan jadi pembicara webinar atau YouTuber. Trainer harus membaca ruangan. Melihat siapa yang mulai bosan, siapa yang mengangguk paham, siapa yang melongo bingung. Respon itu datang dari bahasa tubuh, kontak mata, dan getaran ruangan.

Di pelatihan tatap muka, peserta langsung dipraktikkan mengajar di depan teman-temannya. Mereka merasakan sendiri deg-degan berdiri di tengah ruangan. Mereka belajar menyesuaikan volume suara karena ruangan tidak selalu sunyi seperti kamar sendiri. Mereka latihan membaca ekspresi wajah dari jarak dekat, bukan dari thumbnail video seukuran perangko.

Semua ini sulit direplikasi lewat Zoom. Di layar, ekspresi wajah peserta seukuran jempol. Suara mereka kadang putus-putus. Dan yang paling parah, banyak kamera yang sengaja dimatikan. Tidak ada yang bisa membaca ruangan yang gelap.

Umpan balik langsung dan mendalam

Selesai praktik mengajar di ToT tatap muka, peserta langsung mendapat umpan balik dari fasilitator dan teman sekelas. Tidak lewat kolom chat. Tidak lewat formulir yang dikirim nanti malam. Tapi langsung, lisan, dan terasa lebih membekas.

Fasilitator bisa menunjukkan dengan jelas: “Pas kamu bicara baris ketiga tadi, nadanya terlalu datar, coba lebih semangat.” Atau “Coba kamu berdiri lebih di tengah, bukan di pojok ruangan, biar semua peserta melihat.” Atau “Kamu terlalu sering liat slide, coba lebih banyak kontak mata ke peserta.”

Umpan balik semacam ini butuh observasi langsung. Sangat sulit diberikan hanya dari melihat tampilan layar yang terbatas.

Jaringan dan ikatan antarpeserta

Satu hal yang sering diremehkan: hubungan antarpeserta pelatihan. Saat belajar bersama selama berhari-hari, makan bareng di kantin, begadang bareng menyelesaikan tugas kelompok, ngobrol santai di sela istirahat, semua itu menciptakan ikatan yang tidak muncul di pelatihan online.

Ikatan ini penting. Karena setelah pelatihan selesai, para trainer ini akan saling bertukar pengalaman, saling meminjam bahan ajar, bahkan saling merekomendasikan untuk proyek pelatihan. Ini aset jangka panjang yang tidak terhitung dalam sertifikat. Bahkan kadang lebih berharga dari materi pelatihan itu sendiri.

Persiapan Sebelum ToT Tatap Muka Agar Hasil Maksimal

Optimalisasi kompetensi tidak dimulai saat pelatihan berlangsung. Tapi jauh sebelumnya, saat Anda masih duduk di rumah menentukan mau daftar ke LSP mana. Banyak peserta datang dengan mental kosong, lalu heran kenapa hasilnya biasa saja.

Pelajari skema ToT BNSP yang akan diambil

ToT BNSP punya beberapa level. Level 2 untuk trainer yang masih muda atau baru memulai. Level 3 untuk trainer yang sudah punya pengalaman mengajar. Beda level, beda materi, beda metode asesmen, beda juga persyaratan masuk.

Jangan sampai salah daftar. Cari tahu dulu skema mana yang sesuai dengan pengalaman dan kemampuan Anda saat ini. Tanya ke LSP penyelenggara. Jangan malu bertanya. Petugas LSP biasanya senang membantu calon peserta yang serius.

Siapkan portofolio awal

Banyak peserta datang tanpa membawa apa pun. Padahal ToT tatap muka biasanya meminta portofolio pengalaman mengajar atau melatih. Minimal catatan sederhana: pernah jadi trainer di acara apa, berapa kali, berapa lama, materi apa saja yang pernah disampaikan.

Portofolio ini tidak perlu tebal seperti skripsi. Cukup satu atau dua halaman. Yang penting jujur dan spesifik. Jangan dibuat-buat. Fasilitator biasanya bisa menebak mana pengalaman nyata dan mana yang karangan.

Portofolio yang jujur akan membantu fasilitator menyesuaikan contoh-contoh yang diberikan selama pelatihan. Mereka jadi tahu level peserta dan bisa memberi materi yang pas, tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit.

Atur jadwal dan logistik

Pelatihan tatap muka biasanya berlangsung 4 sampai 6 hari berturut-turut. Melelahkan, baik fisik maupun mental. Jangan bawa pekerjaan kantor ke tempat pelatihan. Selesaikan urusan penting sebelum berangkat, atau delegasikan ke rekan kerja.

Urusan logistik juga jangan dianggap remeh. Cek lokasi pelatihan dari jauh-jauh hari. Cari tahu tempat menginap terdekat kalau lokasinya jauh dari rumah. Siapkan pakaian yang nyaman untuk praktik mengajar. Bawa perlengkapan mandi dan obat-obatan pribadi secukupnya.

Yang sering dilupakan, bawa jam tangan. Saat praktik mengajar nanti, Anda harus bisa mengatur waktu dengan baik. Melihat jam di HP sambil mengajar kesannya kurang profesional.

Strategi Selama Pelatihan: Jangan Cuma Jadi Peserta Pasif

Ini bagian paling penting dari seluruh artikel ini. Banyak orang datang ke ToT, duduk manis seperti murid TK, mendengarkan, kadang catat, lalu pulang. Hasilnya? Ya biasa saja. Tidak ada optimalisasi kompetensi yang berarti.

Ajukan pertanyaan, banyak pertanyaan

Fasilitator ToT biasanya orang yang sangat berpengalaman. Mereka sudah menangani puluhan bahkan ratusan peserta dari berbagai latar belakang. Manfaatkan keberadaan mereka selama masih di ruangan yang sama.

Setiap kali ada yang tidak jelas, tanyakan. Jangan simpan pertanyaan di hati dengan alasan takut terdengar bodoh. Tidak ada pertanyaan bodoh dalam pelatihan. Justru yang bodoh adalah bertanya di dalam hati dan pulang dengan masih bingung.

Pertanyaan bagus juga bisa memicu diskusi yang bermanfaat bagi seluruh kelas. Kadang satu pertanyaan dari peserta membuka perspektif baru yang tidak terpikirkan oleh fasilitator sekalipun. Atau membuat peserta lain menyadari bahwa mereka juga punya keraguan yang sama.

Rekam setiap umpan balik yang diberikan

Saat praktik mengajar, fasilitator dan teman sekelas akan memberi banyak masukan. Catat semuanya. Jangan hanya diandalkan di ingatan karena pasti banyak yang lupa begitu keluar ruangan.

Bawa buku catatan khusus untuk pelatihan ini. Atau gunakan catatan di HP. Yang penting semua masukan tertulis rapi. Jangan memilih-milih. Catat dulu semua, nanti setelah pelatihan selesai baru dipilah mana yang paling penting.

Setelah pulang ke rumah, baca ulang catatan itu. Pilih tiga poin yang paling sering disebut orang. Fokus perbaiki tiga hal itu dulu. Tidak perlu sekaligus memperbaiki semuanya. Pelan-pelan tapi konsisten lebih baik daripada kaget dan berhenti di tengah jalan.

Bikin koneksi dengan peserta lain

Jangan hanya dekat dengan teman sekamar atau orang yang satu daerah. Coba kenalan dengan peserta lain yang berbeda latar belakang. Trainer dari industri berbeda sering punya trik mengajar yang unik dan tidak terpikirkan sebelumnya.

Trainer dari pabrik mungkin punya cara luar biasa mengatasi peserta yang ngantuk. Trainer dari lembaga kursus komputer mungkin jago membuat bahan ajar yang menarik. Trainer dari kampus mungkin paham betul cara menilai peserta dengan adil.

Tukar nomor telepon. Buat grup WhatsApp khusus angkatan. Janjian untuk bertemu lagi setelah pelatihan selesai. Atau setidaknya janjian untuk kopi darat sebulan sekali. Jaringan ini akan terasa manfaatnya beberapa bulan ke depan, terutama saat Anda sedang mengalami masalah sulit dalam mengajar.

Tampil maksimal saat sesi praktik

Sesi praktik mengajar di ToT bukan sekadar latihan. Ini juga ajang menunjukkan kemampuan dan belajar dari kesalahan. Banyak peserta yang sebenarnya hebat tapi malu-malu saat diminta maju. Suaranya kecil. Gerakannya kaku. Matanya tidak berani melihat ke peserta lain.

Akibatnya, fasilitator tidak bisa memberi umpan balik yang maksimal karena hanya melihat penampilan setengah hati. Padahal kalau tampil maksimal, fasilitator bisa melihat kelemahan yang sesungguhnya dan memberi solusi yang tepat.

Ketika giliran praktik, lakukan yang terbaik. Anggap saja sedang mengajar peserta sungguhan di depan seratus orang. Siapkan materi dengan serius. Latihan ekspresi di depan cermin sebelum tidur. Jaga volume suara. Perhatikan posisi berdiri. Ini investasi untuk kepercayaan diri jangka panjang.

Setelah Pelatihan: Agar Kompetensi Benar-Benar Teroptimalkan

Pelatihan ToT tatap muka selesai. Sertifikat sudah di tangan. Foto bersama sudah diupload di media sosial. Tapi optimalisasi kompetensi belum usai. Justru di sinilah tantangan sebenarnya dimulai. Tanpa tindak lanjut, semua ilmu yang didapat akan menguap perlahan.

Praktikkan dalam waktu dua minggu

Penelitian tentang retensi belajar menunjukkan bahwa keterampilan baru paling cepat terlupa jika tidak segera digunakan. Bahkan ada yang lupa sampai 50 persen hanya dalam waktu satu minggu tanpa praktik.

Idealnya, dalam dua minggu setelah pelatihan, Anda sudah harus mengajar atau melatih seseorang. Tidak perlu acara besar dengan ratusan peserta. Cukup dua orang rekan kerja yang mau jadi peserta sukarela. Atau buat kelas kecil untuk komunitas di sekitar rumah. Atau tawarkan jadi trainer gratis untuk acara karang taruna.

Yang penting ada praktik nyata. Dengan praktik, ilmu yang abstrak jadi konkret. Keraguan berubah jadi kebiasaan. Dan yang paling penting, Anda jadi tahu bagian mana yang masih perlu diasah.

Minta umpan balik dari tempat Anda mengajar

Setelah ToT, Anda akan mengajar dengan cara yang sedikit berbeda. Mungkin lebih banyak ice breaking. Mungkin lebih banyak tanya jawab. Mungkin lebih sedikit baca slide. Perubahan ini perlu diuji.

Minta peserta memberikan masukan. Bisa lewat formulir sederhana yang dibagikan setelah sesi selesai. Atau sekadar obrolan santai: “Tadi cara saya menjelaskan bagaimana? Mudah dipahami atau malah bikin bingung?”

Bandingkan umpan balik ini dengan catatan dari fasilitator ToT. Apakah sudah ada perbaikan? Atau justru muncul masalah baru karena terlalu fokus mengubah gaya mengajar? Evaluasi secara jujur. Jangan defensive.

Ikuti asesmen BNSP segera

Banyak peserta ToT menunda-nunda ikut asesmen sertifikasi dengan alasan belum siap, belum belajar cukup, atau masih mau latihan dulu. Akibatnya, ilmu yang didapat mulai lupa sedikit demi sedikit. Begitu akhirnya mendaftar asesmen tiga bulan kemudian, harus belajar ulang dari awal.

Jadwalkan asesmen maksimal satu bulan setelah ToT selesai. Saat itu materi masih segar di kepala. Portofolio yang dibuat selama pelatihan masih rapi di map. Mental juara dari selesai pelatihan masih terasa. Semua kondisi mendukung untuk lulus.

Bergabung dengan komunitas alumni

LSP atau lembaga penyelenggara ToT biasanya punya grup alumni di WhatsApp atau Telegram. Gabung. Jangan malu. Di sanalah Anda bisa bertukar cerita tentang tantangan setelah pelatihan.

Ada alumni yang mengalami kesulitan dengan peserta yang suka rebut. Ada yang bingung menyusun modul pelatihan yang efektif. Ada yang butuh inspirasi ice breaking yang cepat dan tidak norak. Ada yang sedang mencari trainer rekanan untuk proyek besar.

Bertanya di grup alumni jauh lebih efektif daripada mencari solusi sendirian sambil frustrasi. Biasanya akan ada senior yang sudah pernah mengalami masalah serupa dan dengan senang hati berbagi pengalaman.

Pilih Sesuai Tujuan, Bukan Tren

Jadi begini kesimpulannya.

Pelatihan ToT BNSP tatap muka bukan solusi untuk semua orang. Mahal. Merepotkan. Butuh waktu dan tenaga ekstra. Tidak semua orang punya privilese untuk cuti kerja seminggu dan pergi ke kota lain.

Tapi untuk optimalisasi kompetensi hingga level yang mendalam, format tatap muka masih punya keunggulan yang tidak bisa ditiru oleh pelatihan online mana pun. Praktik langsung di depan orang sungguhan. Umpan balik instan yang bisa langsung diperbaiki. Jaringan profesional yang kuat karena pernah berbagi makanan dan begadang bersama. Pengalaman belajar yang utuh, tidak terpotong-potong oleh sinyal putus dan baterai habis.

Kalau Anda serius ingin menjadi trainer yang benar-benar siap berdiri di depan kelas dengan percaya diri, pilih tatap muka. Anggap biaya dan waktu sebagai investasi, bukan pengeluaran. Karena ilmu yang didapat dari interaksi langsung tidak bisa digantikan oleh video rekaman sejelas apapun.

Kalau Anda hanya butuh sertifikat pelengkap untuk portofolio, atau waktu memang sangat terbatas karena tidak bisa meninggalkan kantor, online sudah cukup. Tidak ada pilihan yang salah. Yang salah adalah tidak menyesuaikan pilihan dengan tujuan Anda sendiri.

Jangan ikut ToT online hanya karena lagi tren atau ikut ToT tatap muka hanya karena disuruh atasan. Pilih berdasarkan kebutuhan. Dan setelah memilih, maksimalkan sebaik mungkin.

Selamat memilih jalur yang tepat. Dan selamat mengoptimalkan kompetensi sebagai trainer profesional.

Struktur Modul Pelatihan yang Baik: Panduan untuk Meningkatkan Efektivitas Pelatihan

Struktur Modul Pelatihan yang Baik: Panduan untuk Meningkatkan Efektivitas Pelatihan

Bayangkan Anda mengikuti sebuah pelatihan tanpa panduan yang jelas. Materi berantakan, tidak ada urutan logis, dan Anda bingung harus mulai dari mana. Hasilnya? Pelatihan menjadi tidak efektif, peserta kebingungan, dan tujuan pelatihan tidak tercapai. Inilah mengapa memiliki struktur modul pelatihan yang baik sangat krusial.

Modul pelatihan ibarat peta yang memandu peserta dan fasilitator menuju tujuan pembelajaran. Tanpa struktur yang jelas, pelatihan bisa kehilangan arah. Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana menyusun modul pelatihan yang efektif, mulai dari komponen penting hingga tips praktis yang bisa langsung Anda terapkan.

Memahami Esensi Modul Pelatihan

Modul pelatihan adalah dokumen atau materi panduan yang digunakan dalam proses pelatihan, berisi rangkaian materi, aktivitas, dan evaluasi yang dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran. Struktur yang baik memastikan bahwa peserta mudah memahami alur materi, fasilitator dapat menyampaikan konten dengan sistematis, dan tujuan pelatihan tercapai secara efisien.

Tanpa struktur yang terorganisir, modul bisa terasa berantakan, membuat peserta kesulitan mencerna informasi. Sebaliknya, modul yang dirancang dengan baik akan meningkatkan engagement, retensi pengetahuan, dan kepuasan peserta.

Komponen Utama Modul Pelatihan yang Efektif

Sebuah modul pelatihan yang baik umumnya terdiri dari beberapa komponen utama yang saling melengkapi. Pertama adalah judul dan deskripsi pelatihan yang berfungsi sebagai “wajah” dari modul. Judul harus jelas dan menarik, sementara deskripsi memberikan gambaran singkat tentang apa yang akan dipelajari.

Kedua, tujuan pembelajaran yang spesifik dan terukur. Misalnya, “Setelah pelatihan, peserta mampu mengoperasikan software akuntansi dasar dengan lancar.” Tujuan ini membantu peserta memahami manfaat pelatihan dan memudahkan evaluasi hasil.

Ketiga, outline atau garis besar materi yang menunjukkan urutan topik. Ini membantu peserta melihat gambaran besar pelatihan dan mempersiapkan diri. Keempat, materi pembelajaran sebagai inti modul yang berisi penjelasan detail tentang topik pelatihan, disusun secara bertahap dari konsep dasar hingga lanjutan.

Metode Penyampaian dan Evaluasi

Komponen penting berikutnya adalah metode penyampaian yang menjelaskan bagaimana materi akan disampaikan—apakah melalui ceramah, diskusi kelompok, studi kasus, atau simulasi. Variasi metode membuat pelatihan lebih dinamis dan menarik.

Aktivitas interaktif juga tidak kalah penting. Pelatihan yang efektif tidak hanya satu arah. Sertakan sesi tanya jawab, latihan praktik, atau permainan edukatif untuk meningkatkan partisipasi peserta.

Evaluasi dan umpan balik merupakan komponen krusial lainnya. Untuk mengukur pemahaman peserta, modul harus mencakup evaluasi seperti kuis, tugas, atau simulasi. Umpan balik dari peserta juga penting untuk perbaikan modul di masa depan.

Tips Praktis Menyusun Modul Pelatihan

Menyusun modul pelatihan yang baik tidak harus rumit. Pertama, gunakan bahasa yang jelas dan sederhana. Hindari jargon teknis yang membingungkan. Jika harus menggunakan istilah khusus, sertakan penjelasan singkat.

Kedua, susun materi secara bertahap. Mulai dari konsep dasar sebelum masuk ke hal yang lebih kompleks. Ini membantu peserta membangun pemahaman secara bertahap. Ketiga, sertakan contoh nyata. Teori tanpa contoh bisa membosankan. Gunakan studi kasus, analogi, atau cerita relevan untuk memperjelas poin penting.

Keempat, berikan ruang untuk praktik. Peserta lebih mudah mengingat materi jika mereka langsung mempraktikkannya. Sediakan latihan, simulasi, atau proyek kecil. Terakhir, uji modul sebelum digunakan. Coba terapkan modul dalam kelompok kecil untuk melihat apakah alurnya logis dan apakah ada bagian yang perlu disempurnakan.

Contoh Penerapan Struktur Modul

Sebagai ilustrasi, mari kita lihat contoh modul pelatihan “Keterampilan Presentasi untuk Pemula”. Judulnya bisa dibuat menarik seperti “Menguasai Public Speaking: Pelatihan Presentasi untuk Pemula”. Tujuan pembelajarannya adalah agar peserta mampu menyusun slide presentasi yang efektif dan berbicara dengan percaya diri di depan audiens.

Outline-nya mencakup pengenalan public speaking, menyusun konten presentasi, desain slide yang menarik, teknik menyampaikan presentasi, dan latihan praktik. Materinya berisi penjelasan tentang struktur presentasi, contoh slide baik & buruk, serta tips mengatasi grogi.

Metode penyampaiannya bisa kombinasi ceramah singkat, diskusi kelompok, dan praktik presentasi. Untuk evaluasi, peserta diminta membuat presentasi 5 menit dan menerima umpan balik.

Penutup dan Ajakan Bertindak

Struktur modul pelatihan yang baik adalah kunci kesuksesan sebuah pelatihan. Dengan komponen yang lengkap dan alur yang jelas, peserta akan lebih mudah memahami materi, aktif berpartisipasi, dan mencapai tujuan pembelajaran.

Jika Anda sedang merancang modul pelatihan, luangkan waktu untuk memetakan struktur dengan baik. Mulailah dari tujuan, susun materi secara sistematis, dan jangan lupa sertakan aktivitas interaktif. Dengan pendekatan ini, pelatihan Anda tidak hanya informatif, tetapi juga menyenangkan dan berdampak.

Yuk, mulai evaluasi modul pelatihan Anda sekarang! Periksa apakah struktur sudah jelas dan apakah semua komponen penting sudah tercakup. Jika belum, coba terapkan tips di atas untuk membuat pelatihan Anda lebih efektif.

Copyright © 2026 Sertifikasi ToT BNSP

Triyana

Profil Trainer

Seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI. Memiliki latar belakang keilmuan di bidang Learning & Performance Consultant, Learning Design, E-Learning Designer, CX Designer, LX Designer, dan Learning Facilitator. Selama lebih dari 6 tahun Ia dipercaya sebagai konsultan untuk perusahaan besar dan ternama di Indonesia. Tak berhenti di situ, kepiawaian beliau dalam bidang Engineer, Digital Marketing, Service Quality Assurance, dan HRD pun mampu memberikan perspektif unik dalam merancang solusi yang komprehensif dan tepat sasaran. Maka dari itu, Coach Triyana siap menjadi mitra ideal bagi Anda yang ingin mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi melalui pelatihan yang telah dirancang secara khusus.

Fauzi Noerwenda

Profil Trainer

Fauzi Noerwenda adalah seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI dan pendiri Persona Public Speaking. Dengan pengalaman dan keahliannya, Fauzi telah membantu banyak individu meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan membangun kepercayaan diri mereka. Sebagai seorang penulis, bukunya yang berjudul “Street Smart MC” menjadi panduan bagi mereka yang ingin menjadi Master of Ceremony (MC) yang handal. Kontribusinya sebagai pengurus HIPAPI Indonesia pun menunjukkan dedikasinya dalam mengembangkan profesi dan komunitas pembicara publik di Indonesia.

Trisna Lesmana

Profil Trainer

Trisna Lesmana adalah seorang Master Trainer Assessor BNSP RI. Juga Trainerpreneur yang telah membuktikan kiprahnya di dunia bisnis. Memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 2023 dengan mendirikan bisnis pelatihan “Training of Trainer BNSP Certification”, ia berhasil mencetak lebih dari 2.000+ alumni dan dipercaya oleh 200+ perusahaan dan perguruan tinggi dalam waktu kurang dari dua tahun.

Hingga saat ini, Trisna Lesmana telah menjalankan 12 bisnis lintas industri, di antaranya: Klinik Kecantikan, Skincare, Pelatihan, Konsultan, Agency, & Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Perjalanan Karier

Trisna Lesmana memulai karier sebagai Professional Corporate Trainer  dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Namanya kian dikenal saat ia menjadi salah satu dari 14 coach yang berkontribusi dalam buku “Coaching Series” (Buku Untuk Pelaku UMKM). Ia juga menulis buku keduanya, “Living Agile with NLP,” yang telah memasuki cetakan ke-4. Karya-karyanya mendapat apresiasi tinggi dari tokoh nasional dan artis ternama, seperti: Sandiaga Uno, Ariel (Noah), Merry Riana, Jamil Azzaini, Sandy Susanto, Dani Sumarsono, Dll.

Penghargaan

Pada tahun 2017, Trisna Lesmana meraih penghargaan Best Performance di event “Influence Your Audience” yang diselenggarakan oleh Akademi Trainer.

Dunia Bisnis dan Content Creation

Pada tahun 2023, ia memperluas kiprahnya ke Dunia Bisnis dan mengukuhkan dirinya sebagai Content Creator pada tahun 2024. Di bawah mentoring Deddy Corbuzier dan Coach Indrawan Nugroho melalui program Content Creator Business School, Trisna berhasil merilis konten eksklusif di Instagram pribadinya yang mendapatkan penghargaan dan liputan dari berbagai media ternama, seperti: Liputan6, Republika, Detik.com, Warta Ekonomi, Media Indonesia, Jawa Pos, dan banyak lagi.

Komitmen dan Visi

Saya bantu Business Owner agar produknya dikenal luas, diterima market, & laris dengan pendekatan Smart Business Framework (SBF).

Smart Business Framework (SBF) adalah model bisnis yang fokus optimasi pada tiga pilar; Campaign Iklan (Digital Marketing), Positioning Product, & Akuisisi Market. Telah terbukti membantu ribuan pebisnis memetakan strategi agar produknya laris di pasaran.