Training of Trainer Adalah Kunci Jadi Master Pengajar

Training of Trainer Adalah Kunci Jadi Master Pengajar

Banyak orang mengira training of trainer sama saja dengan pelatihan mengajar biasa. Padahal keduanya sangat berbeda, dan perbedaan itulah yang menentukan apakah seseorang benar benar bisa menjadi trainer yang efektif atau hanya sekadar pembicara di depan kelas. Mari kita bedah dari awal, karena saya melihat masih banyak sekali calon trainer yang salah kaprah tentang program ini. Training of trainer adalah atau yang sering disingkat ToT sebenarnya adalah sebuah metode khusus yang dirancang untuk melatih calon trainer agar mampu melakukan transfer pengetahuan dengan cara yang sistematis, menarik, dan benar benar membekas di benak peserta.

Bukan sekadar memberikan ceramah satu arah, tapi menciptakan lingkungan belajar yang aktif. Bedanya dengan pelatihan biasa terletak pada fokusnya. Pelatihan biasa biasanya mempersiapkan seseorang untuk mengerjakan tugas tertentu, misalnya pelatihan menggunakan software akuntansi. Sedangkan ToT mempersiapkan seseorang untuk melatih orang lain melakukan tugas tersebut. Ini perbedaan level yang sangat fundamental.

Kenapa Banyak Orang Salah Paham Tentang Training of Trainer

Kesalahan terbesar yang sering terjadi adalah ketika seseorang menganggap bahwa karena dia sudah mahir di bidangnya, maka dia otomatis bisa menjadi trainer yang baik. Saya sering melihat ini di dunia korporat. Seorang ahli IT yang hebat diminta mengajar timnya tentang sistem baru, lalu dia datang dengan slide penuh teks dan membaca semuanya tanpa jeda. Hasilnya? Semua orang bosan dan tidak ada yang paham. Kemampuan teknis tidak serta merta menghasilkan kemampuan mengajar. ToT hadir untuk menjembatani kesenjangan ini.

Lima Komponen Utama yang Diajarkan dalam Training of Trainer

Lalu apa sebenarnya yang diajarkan dalam training of trainer? Program ini biasanya mencakup beberapa hal besar.

Prinsip Pembelajaran Orang Dewasa

Pertama adalah prinsip dasar pembelajaran orang dewasa. Orang dewasa belajar berbeda dengan anak anak. Mereka butuh tahu mengapa mereka perlu mempelajari sesuatu, mereka ingin materi yang relevan dengan pekerjaan mereka sehari hari, dan mereka tidak suka digurui. ToT mengajarkan cara menghormati pengalaman peserta sekaligus tetap memberikan panduan yang terstruktur.

Teknik Menyusun Modul Pelatihan

Kedua adalah teknik menyusun modul pelatihan. Banyak trainer pemula langsung loncat ke membuat slide tanpa merancang alur belajar yang logis. Akibatnya materi terasa acak acakan. Dalam ToT, calon trainer diajarkan untuk memulai dengan tujuan pembelajaran, lalu menurunkan menjadi topik topik kecil, baru setelah itu merancang aktivitas dan alat bantu. Proses ini memastikan setiap bagian pelatihan memiliki tujuan yang jelas.

Penguasaan Metode Fasilitasi

Ketiga adalah penguasaan metode fasilitasi. Ini bukan soal gaya bicara di panggung, tapi lebih kepada kemampuan membaca ruangan, menyesuaikan kecepatan penyampaian dengan daya tangkap peserta, serta mengelola dinamika kelompok. Misalnya ketika ada peserta yang dominan terus berbicara, atau sebaliknya ada yang diam sama sekali, trainer harus tahu tindakan apa yang paling tepat. ToT memberikan berbagai skenario dan cara menghadapinya.

Teknik Memberikan Umpan Balik yang Membangun

Keempat adalah teknik memberikan umpan balik yang membangun. Ini sangat krusial karena dalam sesi latihan mengajar, setiap calon trainer akan mendapatkan kritik dari fasilitator dan peserta lain. Umpan balik yang disampaikan dengan cara yang salah bisa membuat orang tersinggung dan menutup diri. Sebaliknya, umpan balik yang baik justru membuka mata dan memicu perbaikan. ToT mengajarkan format umpan balik yang spesifik, perilaku yang diamati, dampaknya terhadap pembelajaran, dan saran perbaikan yang konkret.

Evaluasi Efektivitas Pelatihan

Kelima adalah evaluasi efektivitas pelatihan. Setelah selesai mengajar, seorang trainer profesional tidak sekadar lega karena selesai. Dia akan mengukur apakah peserta benar benar belajar. Mulai dari reaksi peserta saat pelatihan berlangsung, peningkatan pengetahuan yang diukur melalui tes sederhana, perubahan perilaku di tempat kerja beberapa minggu kemudian, hingga dampak terhadap hasil bisnis seperti peningkatan produktivitas atau penurunan kesalahan. ToT membekali calon trainer dengan alat alat praktis untuk melakukan evaluasi ini tanpa ribet.

Berapa Hari Waktu Ideal Mengikuti ToT

Sekarang mari kita bicara tentang berapa lama waktu ideal untuk mengikuti training of trainer. Banyak lembaga menawarkan program dua atau tiga hari dengan harga yang cukup mahal. Jujur saja, durasi seperti itu hanya cukup untuk menyentuh permukaan. Peserta akan pulang dengan banyak teori tentang cara mengajar yang baik, tapi tidak punya cukup waktu untuk mempraktikkan dan mendapatkan umpan balik yang mendalam. Idealnya, ToT yang efektif berlangsung antara lima sampai tujuh hari.

Dalam durasi ini, peserta bisa melakukan sesi microteaching minimal tiga kali. Setiap sesi direkam, diputar ulang, dianalisis bersama, lalu diperbaiki di sesi berikutnya. Proses berulang inilah yang mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik.

Ada juga program ToT yang berlangsung lebih dari sepuluh hari, biasanya untuk calon trainer yang akan menangani kelas reguler di lembaga pelatihan vokasi atau program sertifikasi kompetensi. Durasi panjang ini memungkinkan pendalaman di setiap komponen, mulai dari desain kurikulum hingga manajemen kelas yang kompleks. Namun bagi kebanyakan orang yang ingin menjadi trainer internal di perusahaan atau fasilitator lepas, program lima hingga tujuh hari sudah cukup memadai asalkan diikuti dengan praktik rutin setelahnya.

Apakah Sertifikat ToT Benar Benar Diperlukan

Satu pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah apakah sertifikat training of trainer benar benar diperlukan. Jawabannya tergantung pada jalur karir yang Anda pilih. Jika Anda ingin menjadi trainer yang mengajar di lembaga pemerintah, perusahaan BUMN, atau perusahaan besar yang memiliki sistem pengadaan ketat, maka sertifikat dari lembaga sertifikasi profesi atau BNSP biasanya menjadi syarat wajib. Dokumen ini menjadi bukti bahwa Anda telah memenuhi standar kompetensi tertentu yang diakui secara nasional.

Di sisi lain, jika Anda hanya akan melatih tim internal di perusahaan sendiri atau menjadi konsultan independen untuk UKM, portofolio dan testimoni klien seringkali lebih berbicara daripada selembar kertas.

Saya pernah bertemu dengan seorang trainer hebat yang tidak memiliki satu pun sertifikat ToT. Tarifnya dua puluh juta rupiah untuk satu hari pelatihan, dan jadwalnya selalu penuh enam bulan ke depan. Klien memilihnya karena reputasi dan hasil yang terbukti, bukan karena sertifikat di dinding. Sebaliknya, saya juga kenal seseorang yang mengoleksi berbagai sertifikat ToT dari lembaga ternama, tapi kesulitan mendapatkan klien karena gaya mengajarnya kaku dan kurang membumi.

Jadi kesimpulannya, sertifikat bisa menjadi pembuka pintu, tapi kemampuan asli Anda sebagai trainer yang akan membuat orang rela membayar dan mengundang Anda lagi.

Langkah Praktis Agar Ilmu ToT Tidak Sia Sia

Setelah seseorang selesai mengikuti training of trainer, langkah selanjutnya sangat menentukan apakah ilmu yang didapat akan menguap atau menjadi fondasi karir. Banyak peserta ToT kembali ke rutinitas lama dan tidak pernah lagi mempraktikkan teknik teknik yang sudah dipelajari. Dalam waktu tiga bulan, sebagian besar materi sudah lupa. Agar tidak sia sia, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Pertama, rekam setiap kali Anda mengajar, baik itu sesi formal di kelas maupun presentasi singkat di rapat internal. Tonton ulang rekaman tersebut dengan jujur. Perhatikan kebiasaan kecil yang mungkin tidak Anda sadari, misalnya berkata eee terlalu sering, berdiri diam di satu tempat tanpa bergerak, atau terlalu banyak menatap layar proyektor daripada mata peserta.

Kedua, biasakan meminta umpan balik secara tertulis dan anonim dari peserta. Gunakan formulir sederhana di Google Forms yang hanya berisi dua atau tiga pertanyaan. Apa yang paling membantu dari sesi hari ini. Apa yang bisa saya perbaiki untuk sesi berikutnya. Umpan balik anonim cenderung lebih jujur karena peserta tidak takut menyinggung perasaan Anda. Bacalah semua masukan dengan kepala dingin, lalu pilih satu atau dua hal untuk diperbaiki di sesi berikutnya. Jangan coba memperbaiki semuanya sekaligus karena itu tidak realistis.

Ketiga, carilah komunitas sesama trainer atau fasilitator. Bisa melalui grup online, forum diskusi, atau pertemuan tatap muka berkala. Di komunitas inilah Anda bisa berlatih bersama, saling memberi umpan balik, dan bertukar pengalaman tentang metode yang berhasil atau gagal. Lingkungan yang suportif sangat membantu menjaga motivasi, terutama di awal karir ketika Anda mungkin masih merasa canggung atau tidak percaya diri.

Keempat, buat portofolio microteaching. Ini adalah rekaman singkat sekitar lima hingga sepuluh menit yang menunjukkan gaya mengajar Anda dalam topik tertentu. Potongan video ini sangat berguna untuk menunjukkan kemampuan Anda kepada calon klien. Mereka bisa melihat langsung bagaimana Anda menjelaskan, bagaimana Anda merespon pertanyaan, dan bagaimana Anda mengelola kelas. Sebuah portofolio yang baik seringkali lebih meyakinkan daripada sepuluh halaman daftar pengalaman tertulis.

Empat Kesalahan Fatal Saat Mengikuti ToT

Sekarang mari kita bicara tentang kesalahan fatal yang sering dilakukan peserta training of trainer.

Kesalahan pertama adalah datang dengan ego besar. Peserta yang sudah lama menjadi pembicara atau manajer seringkali merasa bahwa gaya mereka sudah benar dan tidak perlu diubah. Mereka mengikuti ToT hanya untuk memenuhi persyaratan formal, bukan untuk benar benar belajar. Akibatnya, mereka menolak umpan balik, membela setiap kebiasaan buruk, dan pada akhirnya pulang dengan cara yang sama persis seperti saat datang. Sia siakan waktu dan uang.

Kesalahan kedua adalah terlalu fokus pada tampilan slide. Ada anggapan bahwa slide yang cantik dengan animasi keren adalah kunci pelatihan yang sukses. Padahal slide hanyalah alat bantu, bukan bintang utama. Seorang trainer yang baik bisa mengajar dengan efektif meskipun hanya menggunakan papan tulis putih dan spidol. Sebaliknya, trainer yang buruk tetap membosankan meskipun slide buatannya seperti film Hollywood. ToT yang baik akan menggeser fokus dari membuat slide cantik ke merancang interaksi yang bermakna dengan peserta.

Kesalahan ketiga adalah tidak pernah praktik dengan umpan balik yang brutal. Banyak program ToT memberikan porsi teori delapan puluh persen dan praktik hanya dua puluh persen. Peserta hanya sekali atau dua kali tampil di depan kelas, lalu mendapatkan pujian yang manis manis tanpa kritik membangun. Situasi ini membuat peserta merasa sudah hebat, padahal sebenarnya belum. ToT yang serius akan memaksa Anda praktik berkali kali, direkam, ditonton bersama, dan dikritik habis habisan oleh fasilitator dan teman teman. Proses ini memang tidak nyaman, bahkan bisa membuat Anda merasa bodoh atau malu. Namun itulah satu satunya cara untuk benar benar berubah. Jika Anda mengikuti ToT dan tidak pernah merasa tidak nyaman, kemungkinan besar Anda tidak belajar apa pun.

Kesalahan keempat adalah mengabaikan bahasa tubuh. Banyak trainer pemula fokus menghafal materi sampai lupa bahwa komunikasi non verbal menyumbang lebih dari separuh efektivitas penyampaian. Ekspresi wajah, kontak mata, gerakan tangan, postur tubuh, dan intonasi suara semuanya berbicara kepada audiens. Sebuah penelitian klasik bahkan menyebutkan bahwa dalam komunikasi tatap muka, kata kata hanya menyumbang tujuh persen dari pesan yang diterima. Sisanya adalah nada suara dan bahasa tubuh. ToT yang baik akan melatih Anda membaca dan menggunakan bahasa tubuh secara sadar, bukan sekadar berbicara.

Perkiraan Biaya Training of Trainer di Indonesia

Lalu bagaimana dengan biaya training of trainer. Rentang harga sangat bervariasi tergantung pada durasi, lembaga penyelenggara, dan fasilitas yang diberikan. Program dua atau tiga hari dari lembaga biasa bisa dimulai dari dua hingga lima juta rupiah. Sementara program lima sampai tujuh hari dari lembaga terakreditasi bisa mencapai sepuluh hingga dua puluh juta rupiah. Untuk program yang menghasilkan sertifikat BNSP, biayanya biasanya lebih tinggi karena melibatkan asesor eksternal dan uji kompetensi yang ketat. Jangan tergiur dengan harga murah yang terlalu rendah karena bisa jadi program tersebut hanya memberikan teori dasar tanpa praktik yang memadai. Sebaliknya, harga mahal tidak otomatis menjamin kualitas. Lakukan riset tentang fasilitator yang akan mengajar, minta silabus lengkap, dan jika memungkinkan, bicaralah dengan alumni program sebelumnya.

ToT Online vs Tatap Muka, Mana yang Lebih Baik

Training of trainer online juga semakin marak setelah pandemi. Format ini menawarkan fleksibilitas karena Anda bisa belajar dari mana saja tanpa perlu bepergian. Namun ada tantangan tersendiri. Microteaching online misalnya, mengharuskan Anda mengajar melalui kamera, yang terasa sangat berbeda dibandingkan mengajar di ruang fisik. Peserta di sisi lain layar juga lebih mudah terdistraksi oleh notifikasi ponsel atau pekerjaan rumah. Untuk mengatasi ini, ToT online yang baik akan menggunakan fitur fitur interaktif seperti breakout room, polling, papan tulis digital, dan sesi umpan balik melalui obrolan pribadi. Jika Anda memilih jalur online, pastikan koneksi internet Anda stabil dan Anda memiliki kamera serta mikrofon yang layak. Suara yang putus putus atau gambar yang buram akan sangat mengganggu proses belajar.

Apakah ToT Wajib Diikuti Semua Calon Trainer

Setelah memahami semua hal di atas, mungkin Anda bertanya apakah training of trainer benar benar wajib diikuti oleh semua orang yang ingin menjadi trainer. Jawaban jujurnya adalah tidak wajib dalam artian legal, karena tidak ada undang undang yang melarang seseorang menjadi trainer tanpa sertifikat ToT. Namun jika Anda serius ingin membangun karir di bidang ini, mengikuti program ToT yang berkualitas akan mempercepat proses belajar Anda secara dramatis. Anda bisa belajar dari buku, video YouTube, atau pengalaman trial and error, tetapi butuh waktu bertahun tahun untuk mengumpulkan wawasan yang sama seperti yang diajarkan dalam ToT yang baik dalam hitungan minggu. ToT pada dasarnya adalah jalan pintas yang legal untuk belajar dari kesalahan orang lain, bukan hanya kesalahan Anda sendiri.

Perbedaan ToT untuk Internal Trainer dan External Trainer

Ada juga pertanyaan tentang perbedaan antara ToT untuk internal trainer dan external trainer. Internal trainer adalah orang yang hanya akan melatih karyawan di perusahaannya sendiri. Mereka biasanya sudah paham budaya perusahaan dan jenis pekerjaan yang dilatih. Fokus ToT untuk internal trainer lebih ke teknik fasilitasi dan manajemen kelas, karena materi pelatihan biasanya sudah ditentukan oleh perusahaan. Sementara external trainer adalah mereka yang menjual jasa pelatihan ke berbagai klien. Mereka harus mampu merancang materi dari awal, menyesuaikan dengan kebutuhan klien yang berbeda beda, dan memasarkan diri mereka sendiri. ToT untuk external trainer biasanya lebih komprehensif, mencakup juga cara membuat proposal, negosiasi harga, dan membangun portofolio.

Mindset yang Harus Dibawa Sebelum Mengikuti ToT

Satu hal terakhir yang sering dilupakan orang adalah bahwa menjadi trainer bukanlah tentang menjadi sempurna di depan kelas. Trainer terbaik sekalipun pernah mengalami sesi yang kacau, pertanyaan yang tidak bisa dijawab, atau peserta yang keluar di tengah jalan. Yang membedakan trainer profesional dari yang amatir adalah bagaimana mereka merespon kegagalan tersebut. Trainer profesional akan merefleksikan apa yang salah, meminta umpan balik, mencoba pendekatan baru, dan kembali bangkit. Mereka tidak menyembunyikan kesalahan atau menyalahkan peserta. Sifat rendah hati dan kemauan untuk terus belajar inilah yang sebenarnya membuat seseorang diundang berulang kali untuk mengajar, jauh lebih penting daripada teknik penyampaian atau keindahan slide.

Kesimpulan Tentang Training of Trainer

Training of trainer pada akhirnya hanyalah sebuah alat. Alat yang sangat berguna jika digunakan dengan benar, tapi sama sekali tidak berguna jika hanya dipajang sebagai sertifikat di dinding. Nilai sebenarnya dari ToT terletak pada perubahan yang Anda bawa ke dalam ruang pelatihan setelah program selesai. Apakah peserta Anda sekarang lebih aktif bertanya. Apakah mereka benar benar menerapkan ilmu yang Anda ajarkan. Apakah mereka merekomendasikan pelatihan Anda kepada rekan kerja mereka. Itulah ukuran sesungguhnya dari seorang trainer yang hebat, bukan tebalnya sertifikat atau panjangnya daftar pelatihan yang pernah diikuti.

Jika Anda sedang mempertimbangkan untuk mengikuti training of trainer, lakukanlah dengan niat yang benar. Jangan datang dengan ego. Siapkan diri untuk dikritik. Buka lebar lebar telinga dan tutup rapat rapat mulut saat fasilitator memberi masukan. Praktikkan setiap kesempatan yang diberikan. Rekam diri Anda sendiri. Tonton dengan jujur. Ulangi lagi. Itu proses yang membosankan, melelahkan, dan kadang memalukan. Tapi percayalah, saat Anda berdiri di depan kelas satu tahun kemudian dan melihat mata peserta yang menyala karena paham, Anda akan tahu bahwa semua rasa tidak nyaman itu sepadan.

Mengapa Investasi dalam Training of Trainer (TOT) Penting untuk Kesuksesan Bisnis Anda?

Mengapa Investasi dalam Training of Trainer (TOT) Penting untuk Kesuksesan Bisnis Anda?

Di era persaingan bisnis yang semakin ketat, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi kunci utama untuk mencapai keunggulan kompetitif. Salah satu cara efektif untuk meningkatkan kualitas SDM adalah melalui Training of Trainer (TOT). Investasi dalam TOT bukan hanya sekadar pelatihan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk kesuksesan bisnis Anda.

Training of Trainer (TOT)

Apa itu Training of Trainer (TOT)?

TOT adalah program pelatihan yang dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pelatih yang kompeten. Peserta akan belajar tentang metodologi pelatihan, teknik komunikasi yang efektif, cara merancang materi pelatihan yang menarik, dan cara mengevaluasi hasil pelatihan.

Manfaat Investasi dalam TOT untuk Bisnis Anda

  1. Meningkatkan Kualitas SDM: TOT menghasilkan pelatih-pelatih internal yang berkualitas. Mereka akan mampu menyampaikan pengetahuan dan keterampilan kepada karyawan lain dengan cara yang efektif, sehingga meningkatkan kompetensi seluruh tim.
  2. Meningkatkan Kinerja Karyawan: Karyawan yang mendapatkan pelatihan dari pelatih internal yang kompeten akan memiliki kinerja yang lebih baik. Mereka akan lebih produktif, efisien, dan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perusahaan.
  3. Menghemat Biaya Pelatihan: Dengan memiliki pelatih internal, perusahaan dapat mengurangi biaya pelatihan eksternal. Pelatihan internal juga lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik perusahaan.
  4. Meningkatkan Daya Saing Perusahaan: SDM yang berkualitas dan berkinerja tinggi akan meningkatkan daya saing perusahaan di pasar. Perusahaan akan lebih mampu menghadapi tantangan bisnis dan meraih kesuksesan.
  5. Membangun Budaya Pembelajaran: Investasi dalam TOT menunjukkan komitmen perusahaan terhadap pengembangan SDM. Hal ini akan membangun budaya pembelajaran di mana karyawan termotivasi untuk terus belajar dan meningkatkan diri.

Siapa yang Membutuhkan TOT?

TOT sangat penting bagi perusahaan yang ingin mengembangkan SDM secara internal. Program ini cocok untuk:

  • Karyawan yang memiliki potensi dan minat untuk menjadi pelatih.
  • Manajer dan supervisor yang bertanggung jawab untuk melatih tim mereka.
  • Staf HRD yang bertugas merancang dan melaksanakan program pelatihan.
Copyright © 2026 Sertifikasi ToT BNSP

Triyana

Profil Trainer

Seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI. Memiliki latar belakang keilmuan di bidang Learning & Performance Consultant, Learning Design, E-Learning Designer, CX Designer, LX Designer, dan Learning Facilitator. Selama lebih dari 6 tahun Ia dipercaya sebagai konsultan untuk perusahaan besar dan ternama di Indonesia. Tak berhenti di situ, kepiawaian beliau dalam bidang Engineer, Digital Marketing, Service Quality Assurance, dan HRD pun mampu memberikan perspektif unik dalam merancang solusi yang komprehensif dan tepat sasaran. Maka dari itu, Coach Triyana siap menjadi mitra ideal bagi Anda yang ingin mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi melalui pelatihan yang telah dirancang secara khusus.

Fauzi Noerwenda

Profil Trainer

Fauzi Noerwenda adalah seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI dan pendiri Persona Public Speaking. Dengan pengalaman dan keahliannya, Fauzi telah membantu banyak individu meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan membangun kepercayaan diri mereka. Sebagai seorang penulis, bukunya yang berjudul “Street Smart MC” menjadi panduan bagi mereka yang ingin menjadi Master of Ceremony (MC) yang handal. Kontribusinya sebagai pengurus HIPAPI Indonesia pun menunjukkan dedikasinya dalam mengembangkan profesi dan komunitas pembicara publik di Indonesia.

Trisna Lesmana

Profil Trainer

Trisna Lesmana adalah seorang Master Trainer Assessor BNSP RI. Juga Trainerpreneur yang telah membuktikan kiprahnya di dunia bisnis. Memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 2023 dengan mendirikan bisnis pelatihan “Training of Trainer BNSP Certification”, ia berhasil mencetak lebih dari 2.000+ alumni dan dipercaya oleh 200+ perusahaan dan perguruan tinggi dalam waktu kurang dari dua tahun.

Hingga saat ini, Trisna Lesmana telah menjalankan 12 bisnis lintas industri, di antaranya: Klinik Kecantikan, Skincare, Pelatihan, Konsultan, Agency, & Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Perjalanan Karier

Trisna Lesmana memulai karier sebagai Professional Corporate Trainer  dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Namanya kian dikenal saat ia menjadi salah satu dari 14 coach yang berkontribusi dalam buku “Coaching Series” (Buku Untuk Pelaku UMKM). Ia juga menulis buku keduanya, “Living Agile with NLP,” yang telah memasuki cetakan ke-4. Karya-karyanya mendapat apresiasi tinggi dari tokoh nasional dan artis ternama, seperti: Sandiaga Uno, Ariel (Noah), Merry Riana, Jamil Azzaini, Sandy Susanto, Dani Sumarsono, Dll.

Penghargaan

Pada tahun 2017, Trisna Lesmana meraih penghargaan Best Performance di event “Influence Your Audience” yang diselenggarakan oleh Akademi Trainer.

Dunia Bisnis dan Content Creation

Pada tahun 2023, ia memperluas kiprahnya ke Dunia Bisnis dan mengukuhkan dirinya sebagai Content Creator pada tahun 2024. Di bawah mentoring Deddy Corbuzier dan Coach Indrawan Nugroho melalui program Content Creator Business School, Trisna berhasil merilis konten eksklusif di Instagram pribadinya yang mendapatkan penghargaan dan liputan dari berbagai media ternama, seperti: Liputan6, Republika, Detik.com, Warta Ekonomi, Media Indonesia, Jawa Pos, dan banyak lagi.

Komitmen dan Visi

Saya bantu Business Owner agar produknya dikenal luas, diterima market, & laris dengan pendekatan Smart Business Framework (SBF).

Smart Business Framework (SBF) adalah model bisnis yang fokus optimasi pada tiga pilar; Campaign Iklan (Digital Marketing), Positioning Product, & Akuisisi Market. Telah terbukti membantu ribuan pebisnis memetakan strategi agar produknya laris di pasaran.