Cara Menciptakan Pengalaman Belajar Online yang Berkesan bagi Peserta Training

Cara Menciptakan Pengalaman Belajar Online yang Berkesan bagi Peserta Training

Di era digital seperti sekarang, belajar online sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia pendidikan dan pelatihan. Namun, tantangannya adalah bagaimana membuat pengalaman belajar online tidak hanya efektif, tetapi juga berkesan bagi peserta. Apakah Anda pernah mengikuti training online yang terasa monoton dan membosankan?

Atau mungkin Anda sebagai fasilitator ingin membuat sesi training online Anda lebih menarik dan bermakna? Nah, artikel ini akan membahas cara menciptakan pengalaman belajar online yang berkesan bagi peserta training. Yuk, simak tips dan strateginya!

Berikut beberapa tips praktis yang bisa Anda terapkan untuk menciptakan pengalaman belajar online yang berkesan:

1. Rancang Konten yang Interaktif

Hindari hanya mengandalkan slide presentasi yang monoton. Gunakan variasi media seperti video, infografis, kuis, dan polling untuk membuat konten lebih menarik. Misalnya, sisipkan video penjelasan singkat atau kuis interaktif di tengah sesi.

2. Gunakan Platform yang User-Friendly

Pilih platform belajar online yang mudah digunakan dan memiliki fitur lengkap, seperti Zoom, Google Meet, atau Microsoft Teams. Pastikan peserta tidak kesulitan mengakses dan menggunakan platform tersebut.

3. Buat Sesi yang Partisipatif

Ajak peserta untuk aktif berpartisipasi melalui diskusi kelompok, sesi tanya jawab, atau aktivitas kolaboratif. Misalnya, gunakan fitur breakout room untuk diskusi kelompok kecil.

4. Berikan Ice Breaking

Di awal sesi, lakukan ice breaking untuk mencairkan suasana dan membuat peserta lebih nyaman. Contohnya, ajak peserta berbagi cerita singkat tentang diri mereka atau mainkan permainan tebak-tebakan.

5. Sediakan Waktu untuk Istirahat

Training online yang panjang bisa membuat peserta lelah. Berikan waktu istirahat singkat setiap 45-60 menit agar peserta bisa meregangkan badan dan menyegarkan pikiran.

6. Gunakan Storytelling

Cerita atau contoh nyata bisa membuat materi lebih relatable dan mudah diingat. Misalnya, ceritakan pengalaman pribadi atau kasus nyata yang relevan dengan topik training.

7. Berikan Feedback yang Cepat dan Membangun

Berikan umpan balik secara langsung atau melalui chat untuk memastikan peserta merasa didengar dan dihargai. Feedback yang positif juga bisa memotivasi peserta untuk terus aktif.

8. Sediakan Materi Pendukung

Berikan peserta akses ke materi pendukung seperti ebook, checklist, atau rekaman sesi. Hal ini memudahkan mereka untuk mengulang materi di kemudian hari.

9. Integrasikan Gamifikasi

Tambahkan elemen gamifikasi seperti poin, badge, atau leaderboard untuk meningkatkan motivasi peserta. Misalnya, berikan poin untuk setiap jawaban benar dalam kuis.

10. Evaluasi dan Perbaiki

Setelah training, minta feedback dari peserta tentang apa yang mereka sukai dan apa yang bisa ditingkatkan. Gunakan masukan ini untuk memperbaiki sesi training berikutnya.

Menciptakan pengalaman belajar online yang berkesan bukanlah hal yang sulit jika Anda tahu caranya. Dengan konten yang interaktif, partisipasi aktif, dan pendekatan yang kreatif, Anda bisa membuat peserta training online merasa terlibat, termotivasi, dan puas dengan pengalaman belajarnya. Ingat, tujuan utama adalah membuat pembelajaran tidak hanya efektif, tetapi juga menyenangkan dan bermakna.

Mulailah merancang training online Anda dengan menerapkan tips di atas. Jangan lupa untuk terus berinovasi dan meminta feedback dari peserta. Selamat mencoba dan semoga training online Anda sukses!

Cara Memberikan Masukan yang Efektif kepada Peserta Training

Cara Memberikan Masukan yang Efektif kepada Peserta Training

Pernahkah Anda memberikan masukan kepada peserta training, tetapi respons mereka justru terlihat defensif atau tidak termotivasi? Atau mungkin Anda merasa masukan yang Anda berikan tidak berdampak signifikan pada perkembangan mereka? Memberikan masukan, atau feedback, adalah salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki oleh setiap fasilitator atau trainer.

Namun, tidak semua masukan disampaikan dengan cara yang tepat. Nah, bagaimana cara memberikan masukan yang efektif sehingga peserta merasa termotivasi dan terus berkembang? Mari kita bahas!

Mengapa Memberikan Masukan yang Efektif Itu Penting?

Masukan yang baik tidak hanya membantu peserta memahami kekurangan mereka, tetapi juga memberikan arahan yang jelas untuk perbaikan. Masukan yang efektif dapat:

  1. Meningkatkan Kinerja Peserta
    Dengan masukan yang konstruktif, peserta tahu apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana cara melakukannya.
  2. Membangun Hubungan Positif
    Masukan yang disampaikan dengan baik akan menciptakan rasa saling percaya antara fasilitator dan peserta.
  3. Mendorong Motivasi
    Peserta akan merasa dihargai dan termotivasi untuk terus belajar jika masukan diberikan dengan cara yang mendukung.
  4. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Aman
    Peserta tidak takut membuat kesalahan karena mereka tahu akan mendapatkan masukan yang membantu, bukan kritikan yang menyudutkan.
Tips Memberikan Masukan yang Efektif

Berikut adalah beberapa tips praktis yang bisa Anda terapkan untuk memberikan masukan yang efektif kepada peserta training:

1. Fokus pada Perilaku, Bukan Kepribadian

Hindari memberikan masukan yang bersifat personal, seperti “Kamu tidak disiplin.” Sebaliknya, fokuslah pada perilaku spesifik, misalnya, “Saya perhatikan kamu sering terlambat mengumpulkan tugas. Apa ada kendala yang kamu hadapi?” Dengan begitu, peserta tidak merasa diserang secara pribadi.

2. Gunakan Pendekatan Sandwich

Teknik sandwich adalah cara efektif untuk memberikan masukan dengan menyelipkan kritik di antara dua pujian. Contohnya:

  • Pujian: “Presentasimu sangat jelas dan mudah dipahami.”
  • Kritik: “Namun, waktu yang digunakan sedikit melebihi batas. Coba perhatikan timing di sesi berikutnya.”
  • Pujian: “Selain itu, slide yang kamu buat sangat menarik dan profesional.”
    Pendekatan ini membuat peserta tidak merasa dihakimi.

3. Bersifat Spesifik dan Jelas

Hindari masukan yang terlalu umum, seperti “Kerja bagus!” atau “Kamu harus lebih baik lagi.” Berikan contoh konkret, misalnya, “Saya suka cara kamu menjelaskan poin ketiga dengan analogi. Itu membuat audiens lebih mudah memahami.”

4. Sampaikan dengan Empati

Cobalah memahami sudut pandang peserta. Misalnya, jika mereka melakukan kesalahan, tanyakan dulu alasan di balik tindakan mereka. “Apa yang membuat kamu memilih pendekatan ini?” Dengan begitu, masukan Anda akan terasa lebih membangun.

5. Berikan Solusi, Bukan Hanya Masalah

Jangan hanya menyoroti kesalahan, tetapi berikan juga saran untuk perbaikan. Misalnya, “Kamu bisa mencoba teknik brainstorming sebelum membuat presentasi agar ide-ide lebih terstruktur.”

6. Pilih Waktu yang Tepat

Berikan masukan segera setelah kegiatan selesai, tetapi pastikan suasana kondusif. Hindari memberikan masukan di depan banyak orang jika bersifat sensitif.

7. Libatkan Peserta dalam Diskusi

Ajak peserta untuk merefleksikan kinerja mereka sendiri. Tanyakan, “Bagaimana perasaanmu tentang presentasi tadi? Apa yang menurutmu bisa ditingkatkan?” Ini membantu mereka lebih terbuka terhadap masukan.

8. Gunakan Bahasa yang Positif

Hindari kata-kata negatif seperti “tidak bisa” atau “gagal”. Sebaliknya, gunakan bahasa yang memotivasi, seperti “Kamu sudah melakukan banyak hal baik, dan ini adalah area yang bisa kita tingkatkan bersama.”

Contoh Kasus Pemberian Masukan yang Efektif

Misalnya, Anda sedang melatih sekelompok peserta tentang public speaking. Salah satu peserta, Rina, terlihat gugup dan sering kehilangan alur presentasi. Berikut cara memberikan masukan yang efektif:

  1. Pujian: “Rina, suara kamu sangat jelas dan intonasinya bagus. Audiens pasti mudah mendengar apa yang kamu sampaikan.”
  2. Kritik: “Saya perhatikan kamu terlihat gugup dan kadang kehilangan alur. Apa ada hal tertentu yang membuat kamu tidak nyaman?”
  3. Solusi: “Coba latih pernapasan sebelum presentasi dan buat catatan kecil untuk membantu mengingat poin-poin penting. Kamu juga bisa mencoba teknik visualisasi untuk mengurangi rasa gugup.”
  4. Pujian Penutup: “Selain itu, konten presentasimu sangat relevan dan menarik. Pertahankan ya!”

Dengan pendekatan ini, Rina tidak hanya merasa didukung, tetapi juga tahu langkah konkret yang bisa diambil untuk perbaikan.

Kesimpulan

Memberikan masukan yang efektif adalah seni yang membutuhkan kepekaan, empati, dan keterampilan komunikasi. Dengan fokus pada perilaku, menggunakan pendekatan sandwich, dan memberikan solusi, Anda bisa membantu peserta training berkembang tanpa membuat mereka merasa tertekan. Ingat, tujuan utama masukan adalah untuk mendorong perbaikan, bukan untuk menyalahkan.

Ajakan Bertindak:
Mulailah menerapkan tips-tips di atas dalam sesi training Anda berikutnya. Perhatikan bagaimana peserta merespons masukan Anda dan lihat perbedaannya dalam perkembangan mereka. Selamat mencoba!

Teknik Penyampaian Materi Training yang Memukau & Interaktif

Teknik Penyampaian Materi Training yang Memukau & Interaktif

Pernahkah Anda mengikuti training yang begitu membosankan hingga Anda sulit menahan kantuk? Atau sebaliknya, pernahkah Anda merasa begitu terinspirasi setelah mengikuti sesi training yang menyenangkan dan penuh energi? Kunci perbedaannya terletak pada cara penyampaian materi.

Menjadi seorang trainer bukan hanya tentang menguasai materi, tetapi juga tentang bagaimana Anda menyampaikannya dengan cara yang memukau dan interaktif. Artikel ini akan membahas teknik-teknik jitu untuk membuat sesi training Anda lebih hidup, menarik, dan tentunya efektif.

Teknik Penyampaian Materi Training yang Memukau dan Interaktif

Penjelasan Singkat tentang Topik:
Training adalah salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan. Namun, keberhasilan sebuah training tidak hanya ditentukan oleh kualitas materinya, melainkan juga oleh cara penyampaiannya. Trainer yang baik mampu mengubah materi yang kompleks menjadi sesuatu yang mudah dipahami, menyenangkan, dan menginspirasi peserta. Bagaimana caranya? Simak poin-poin berikut!

Manfaat atau Poin-Poin Penting yang Relevan:

  1. Meningkatkan Retensi Peserta:
    Penyampaian materi yang interaktif membantu peserta lebih mudah mengingat informasi. Studi menunjukkan bahwa metode pembelajaran aktif dapat meningkatkan retensi hingga 70%.
  2. Membangun Keterlibatan Peserta:
    Training yang interaktif membuat peserta merasa terlibat, sehingga mereka lebih termotivasi untuk belajar dan berpartisipasi.
  3. Menciptakan Pengalaman Berkesan:
    Training yang memukau tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam yang bisa memengaruhi perilaku peserta dalam jangka panjang.
  4. Meningkatkan Reputasi Trainer:
    Trainer yang mampu menyampaikan materi dengan baik akan diingat dan direkomendasikan oleh peserta, membangun reputasi profesional yang kuat.

Tips atau Saran Praktis yang Bisa Langsung Diterapkan:

  1. Kenali Audiens Anda:
    Sebelum memulai training, pahami latar belakang, kebutuhan, dan ekspektasi peserta. Ini akan membantu Anda menyesuaikan materi dan gaya penyampaian.
  2. Gunakan Cerita dan Analogi:
    Cerita dan analogi adalah cara ampuh untuk membuat materi lebih relatable. Misalnya, gunakan kisah sukses atau kegagalan yang relevan dengan topik training.
  3. Manfaatkan Media Visual:
    Slide presentasi yang menarik, video, atau infografis dapat membantu peserta lebih mudah memahami materi. Pastikan desainnya sederhana namun efektif.
  4. Ajak Peserta Berinteraksi:
    Gunakan teknik seperti tanya jawab, diskusi kelompok, atau role play untuk membuat peserta aktif terlibat. Ini juga membantu memecah kebosanan.
  5. Berikan Ice Breaker:
    Mulailah sesi dengan aktivitas ringan seperti permainan atau quiz untuk mencairkan suasana dan membangun energi positif.
  6. Gunakan Humor Secara Bijak:
    Humor dapat membuat suasana lebih santai, tetapi pastikan humor yang digunakan sesuai dengan konteks dan tidak menyinggung.
  7. Berikan Contoh Nyata:
    Peserta akan lebih mudah memahami materi jika disertai dengan contoh nyata atau studi kasus yang relevan.
  8. Evaluasi dan Umpan Balik:
    Di akhir sesi, berikan kesempatan kepada peserta untuk memberikan umpan balik. Ini membantu Anda memahami apa yang berhasil dan perlu ditingkatkan.

Kesimpulan yang Memberikan Kesan Mendalam atau Ajakan Bertindak:
Menjadi trainer yang memukau dan interaktif bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dipelajari dan diasah. Dengan menerapkan teknik-teknik di atas, Anda tidak hanya akan membuat peserta lebih terlibat, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang berkesan dan bermakna. Jadi, mulailah mencoba tips ini dalam sesi training Anda berikutnya dan lihatlah perbedaannya! Ingat, kunci keberhasilan adalah konsistensi dan kemauan untuk terus belajar. Selamat mencoba!

Cara Membuat Materi Pelatihan yang Menarik dan Mudah Dipahami: Panduan Lengkap untuk Pemula

Cara Membuat Materi Pelatihan yang Menarik dan Mudah Dipahami: Panduan Lengkap untuk Pemula

Pernahkah Anda mengikuti pelatihan yang membosankan? Materi yang disampaikan terasa kaku, monoton, dan sulit dipahami. Akibatnya, Anda kehilangan fokus dan tidak mendapatkan manfaat maksimal dari pelatihan tersebut. Nah, bayangkan jika Anda berada di posisi sebaliknya—sebagai pembuat materi pelatihan. Bagaimana cara membuat materi pelatihan yang menarik dan mudah dipahami oleh peserta?

Membuat materi pelatihan yang efektif bukan sekadar menyusun slide presentasi atau menulis buku panduan. Ini tentang menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, interaktif, dan bermakna. Artikel ini akan membahas langkah-langkah praktis untuk membuat materi pelatihan yang tidak hanya informatif, tetapi juga memikat perhatian peserta.

1. Kenali Audiens Anda

Langkah pertama dalam membuat materi pelatihan yang efektif adalah memahami siapa audiens Anda. Apakah mereka pemula yang butuh penjelasan mendasar, atau profesional yang mencari pembaruan keterampilan? Dengan mengetahui latar belakang, kebutuhan, dan ekspektasi peserta, Anda bisa menyesuaikan materi pelatihan agar relevan dan mudah dipahami.

Contoh:
Jika Anda membuat pelatihan tentang pemasaran digital untuk UMKM, pastikan materi tidak terlalu teknis. Gunakan contoh kasus yang dekat dengan keseharian mereka, seperti cara mempromosikan produk di Instagram atau WhatsApp.

2. Tentukan Tujuan Pelatihan dengan Jelas

Sebelum mulai membuat materi, tentukan tujuan pelatihan. Apa yang ingin peserta capai setelah mengikuti pelatihan? Apakah mereka harus menguasai keterampilan baru, memahami konsep tertentu, atau mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam pekerjaan?

Tips:
Gunakan rumus SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) untuk merumuskan tujuan pelatihan. Misalnya, “Setelah pelatihan, peserta mampu membuat konten Instagram yang menarik dalam waktu 30 menit.”

3. Susun Struktur Materi yang Logis

Materi pelatihan yang baik memiliki alur yang jelas dan mudah diikuti. Mulailah dengan pengantar yang menarik, lalu lanjutkan dengan penjelasan konsep, contoh praktis, dan diakhiri dengan kesimpulan atau ajakan bertindak.

Contoh Struktur:

  • Pembukaan: Cerita atau fakta menarik terkait topik.
  • Isi: Penjelasan konsep, tips, dan contoh kasus.
  • Penutup: Ringkasan dan langkah selanjutnya.

4. Gunakan Bahasa yang Sederhana dan Jelas

Hindari penggunaan istilah teknis yang rumit, kecuali jika audiens Anda sudah familiar dengan topik tersebut. Gunakan kalimat pendek, bahasa sehari-hari, dan analogi untuk memudahkan pemahaman.

Contoh:
Daripada mengatakan, “Optimasi SEO adalah proses meningkatkan visibilitas situs web di mesin pencari,” Anda bisa mengatakan, “SEO adalah cara agar website Anda muncul di halaman pertama Google.”

5. Tambahkan Elemen Visual yang Menarik

Teks yang panjang dan monoton bisa membuat peserta cepat bosan. Gunakan elemen visual seperti gambar, infografis, atau video untuk memperjelas materi dan menjaga minat peserta.

Tips:

  • Gunakan warna yang konsisten dan tidak terlalu mencolok.
  • Sertakan diagram atau flowchart untuk menjelaskan proses yang kompleks.
  • Pastikan ukuran font mudah dibaca, minimal 24 pt untuk presentasi.

6. Buat Interaktif dan Partisipatif

Pelatihan yang efektif melibatkan peserta secara aktif. Sertakan sesi tanya jawab, diskusi kelompok, atau latihan praktis untuk memastikan peserta memahami materi.

Contoh Aktivitas:

  • Role-play: Peserta mempraktikkan keterampilan yang baru dipelajari.
  • Kuis: Gunakan platform seperti Kahoot atau Quizizz untuk membuat kuis interaktif.
  • Studi Kasus: Berikan contoh kasus nyata dan minta peserta memberikan solusi.

7. Berikan Contoh Nyata dan Relevan

Contoh nyata membantu peserta memahami bagaimana materi pelatihan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari atau pekerjaan. Gunakan studi kasus, cerita sukses, atau analogi yang mudah dipahami.

Contoh:
Jika Anda mengajarkan manajemen waktu, ceritakan tentang seorang entrepreneur yang berhasil menyelesaikan proyek besar dengan teknik Pomodoro.

8. Evaluasi dan Perbaiki Materi

Setelah pelatihan selesai, mintalah feedback dari peserta. Apakah materi mudah dipahami? Apakah ada bagian yang perlu diperbaiki? Gunakan masukan ini untuk menyempurnakan materi pelatihan di masa depan.

Tips:

  • Sediakan formulir evaluasi singkat.
  • Lakukan follow-up dengan peserta untuk melihat sejauh mana mereka menerapkan pengetahuan yang didapat.

Kesimpulan

Membuat materi pelatihan yang menarik dan mudah dipahami membutuhkan perencanaan, kreativitas, dan pemahaman terhadap kebutuhan peserta. Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda bisa menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan berdampak positif.

Jadi, siapkah Anda mencoba membuat materi pelatihan yang tidak hanya informatif, tetapi juga menginspirasi? Mulailah dengan mengenali audiens Anda, menentukan tujuan, dan menyusun materi dengan struktur yang jelas. Selamat mencoba!

5 Keterampilan yang Harus Dimiliki oleh Trainer Profesional

5 Keterampilan yang Harus Dimiliki oleh Trainer Profesional

Profesi trainer semakin diminati seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan pengembangan diri dan peningkatan kompetensi di berbagai bidang. Namun, menjadi seorang trainer profesional yang handal tidaklah mudah. Dibutuhkan kombinasi antara pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang mumpuni. Berikut adalah 5 keterampilan esensial yang wajib dimiliki oleh seorang trainer profesional:

trainer profesional

Komunikasi yang Efektif
Keterampilan komunikasi adalah fondasi utama bagi seorang trainer. Trainer harus mampu menyampaikan informasi dengan jelas, ringkas, dan menarik. Selain itu, trainer juga harus mampu mendengarkan dengan aktif, memahami kebutuhan peserta, dan memberikan umpan balik yang membangun. Komunikasi yang efektif akan menciptakan suasana belajar yang interaktif dan menyenangkan.

Fasilitasi yang Handal
Seorang trainer tidak hanya berperan sebagai pemberi informasi, tetapi juga sebagai fasilitator yang memandu proses pembelajaran. Trainer harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memotivasi peserta untuk berpartisipasi aktif, dan memfasilitasi diskusi yang produktif. Keterampilan fasilitasi yang baik akan membantu peserta untuk memahami materi pelatihan dengan lebih baik dan mencapai tujuan pembelajaran.

Desain Pembelajaran yang Menarik
Seorang trainer profesional harus mampu merancang program pelatihan yang menarik dan relevan dengan kebutuhan peserta. Desain pembelajaran yang baik harus mencakup tujuan pembelajaran yang jelas, materi pelatihan yang terstruktur, metode pembelajaran yang bervariasi, dan evaluasi yang efektif. Desain pembelajaran yang menarik akan membuat peserta termotivasi untuk belajar dan terlibat aktif dalam pelatihan.

Manajemen Kelas yang Profesional
Keterampilan manajemen kelas sangat penting untuk menciptakan suasana belajar yang tertib dan efektif. Trainer harus mampu mengelola waktu dengan baik, mengatasi gangguan, dan menangani berbagai karakter peserta. Manajemen kelas yang profesional akan memastikan bahwa pelatihan berjalan lancar dan mencapai tujuan yang diinginkan.

Pengembangan Diri yang Berkelanjutan
Seorang trainer profesional harus selalu mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensinya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti pelatihan, membaca buku, berdiskusi dengan sesama trainer, atau mencari umpan balik dari peserta. Pengembangan diri yang berkelanjutan akan membuat trainer tetap relevan dengan perkembangan zaman dan mampu memberikan pelatihan yang berkualitas.

Kesimpulan
Menjadi seorang trainer profesional yang sukses membutuhkan kerja keras, dedikasi, dan kemauan untuk terus belajar. Dengan menguasai 5 keterampilan esensial di atas, Anda akan memiliki fondasi yang kuat untuk berkarir sebagai trainer profesional dan memberikan kontribusi positif bagi pengembangan diri orang lain.

Copyright © 2026 Sertifikasi ToT BNSP

Triyana

Profil Trainer

Seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI. Memiliki latar belakang keilmuan di bidang Learning & Performance Consultant, Learning Design, E-Learning Designer, CX Designer, LX Designer, dan Learning Facilitator. Selama lebih dari 6 tahun Ia dipercaya sebagai konsultan untuk perusahaan besar dan ternama di Indonesia. Tak berhenti di situ, kepiawaian beliau dalam bidang Engineer, Digital Marketing, Service Quality Assurance, dan HRD pun mampu memberikan perspektif unik dalam merancang solusi yang komprehensif dan tepat sasaran. Maka dari itu, Coach Triyana siap menjadi mitra ideal bagi Anda yang ingin mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi melalui pelatihan yang telah dirancang secara khusus.

Fauzi Noerwenda

Profil Trainer

Fauzi Noerwenda adalah seorang Certified Master Trainer dari BNSP RI dan pendiri Persona Public Speaking. Dengan pengalaman dan keahliannya, Fauzi telah membantu banyak individu meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan membangun kepercayaan diri mereka. Sebagai seorang penulis, bukunya yang berjudul “Street Smart MC” menjadi panduan bagi mereka yang ingin menjadi Master of Ceremony (MC) yang handal. Kontribusinya sebagai pengurus HIPAPI Indonesia pun menunjukkan dedikasinya dalam mengembangkan profesi dan komunitas pembicara publik di Indonesia.

Trisna Lesmana

Profil Trainer

Trisna Lesmana adalah seorang Master Trainer Assessor BNSP RI. Juga Trainerpreneur yang telah membuktikan kiprahnya di dunia bisnis. Memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 2023 dengan mendirikan bisnis pelatihan “Training of Trainer BNSP Certification”, ia berhasil mencetak lebih dari 2.000+ alumni dan dipercaya oleh 200+ perusahaan dan perguruan tinggi dalam waktu kurang dari dua tahun.

Hingga saat ini, Trisna Lesmana telah menjalankan 12 bisnis lintas industri, di antaranya: Klinik Kecantikan, Skincare, Pelatihan, Konsultan, Agency, & Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Perjalanan Karier

Trisna Lesmana memulai karier sebagai Professional Corporate Trainer  dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Namanya kian dikenal saat ia menjadi salah satu dari 14 coach yang berkontribusi dalam buku “Coaching Series” (Buku Untuk Pelaku UMKM). Ia juga menulis buku keduanya, “Living Agile with NLP,” yang telah memasuki cetakan ke-4. Karya-karyanya mendapat apresiasi tinggi dari tokoh nasional dan artis ternama, seperti: Sandiaga Uno, Ariel (Noah), Merry Riana, Jamil Azzaini, Sandy Susanto, Dani Sumarsono, Dll.

Penghargaan

Pada tahun 2017, Trisna Lesmana meraih penghargaan Best Performance di event “Influence Your Audience” yang diselenggarakan oleh Akademi Trainer.

Dunia Bisnis dan Content Creation

Pada tahun 2023, ia memperluas kiprahnya ke Dunia Bisnis dan mengukuhkan dirinya sebagai Content Creator pada tahun 2024. Di bawah mentoring Deddy Corbuzier dan Coach Indrawan Nugroho melalui program Content Creator Business School, Trisna berhasil merilis konten eksklusif di Instagram pribadinya yang mendapatkan penghargaan dan liputan dari berbagai media ternama, seperti: Liputan6, Republika, Detik.com, Warta Ekonomi, Media Indonesia, Jawa Pos, dan banyak lagi.

Komitmen dan Visi

Saya bantu Business Owner agar produknya dikenal luas, diterima market, & laris dengan pendekatan Smart Business Framework (SBF).

Smart Business Framework (SBF) adalah model bisnis yang fokus optimasi pada tiga pilar; Campaign Iklan (Digital Marketing), Positioning Product, & Akuisisi Market. Telah terbukti membantu ribuan pebisnis memetakan strategi agar produknya laris di pasaran.